
Spesial Leni dan Darwin
🍂🍂
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 jam, Leni akhirnya tiba di Bandara Ataturk Istanbul. Yang merupakan bandara terbesar di Turki, Leni tersenyum dengan lebar impiannya sudah tercapai. Dulu sebelum mengenal Evan, keinginan dia adalah pergi ke Turki ke salah satu tempat dimana dia menenangkan diri. Dari berbagai penatnya aktivitas.
"Akhirnya," gumam Leni, dia memutuskan untuk lebih dulu ke arah cafe karena dia merasa lapar juga sedikit mengantuk.
Walau sudah malam, tapi Turki masih ramai. Leni tak merasa takut sama sekali, karena dia sudah membeli satu buah apartemen yang terletak di Antalya.
"Permisi, boleh duduk disini?"
Leni mengangkat kepalanya dan menatap sosok lelaki dewasa di depannya.
"Boleh."
"Terima kasih, meja yang lain penuh. Jadi aku memutuskan duduk dengan mu, karena aku lihat kamu orang Indonesia." Paparnya, Leni pun mengangguk karena cafe tersebut sangatlah ramai.
Leni kembali menikmati cake juga cappucino dingin kesukaannya, dia lalu menatap lelaki di depannya.
"Maaf ada masalah?" tanya Leni.
"Tidak ada, hanya saja ... Aku merasa mengenal mu."
Leni mengernyit heran dengan ucapan lelaki di depannya, yang tidak dia tahu siapa namanya?
"Kebetulan, hanya mirip anda tahu Tuan. Di Dunia ini, ada 7 orang yang mirip dengan kita." Jelas Leni, membuat lelaki tersebut mengangguk.
"Baiklah saya tahu, perkenalkan nama saya Darwin Kai." Ujar Darwin, ya Darwin mengikuti Leni sampai ke Turki dan memesan tiket pesawat yang sama.
Leni hanya mengangguk sebagai jawaban, karena merasa dia hanya orang asing saja. Serta membalas uluran tangan Darwin, bentuk kesopanan.
"Ahh ... Ya aku baru ingat, kamu mirip adik kelas ku. Disalah satu universitas di kota Bandung," jelas Darwin, setelah sekian menit saling diam.
"Iya kah? Anda mengenal saya?" tanya Leni tak percaya.
Darwin mengangguk, lalu menjawab. "Ya saya mengenal kamu, kamu ... Dulu yang ditembak oleh Evan. Si playboy cap jempol," kekeh Darwin, membuat Leni tertawa juga malu.
"Astaga memalukan, jadi semua orang tahu." Gumam Leni.
"Kamu gak akan ingat, karena kita beda angkatan." Ujar Darwin.
"Iya, aku juga bukan cewek populer dan cantik macam. Clara dan gengnya,"
"Tapi, kamu paling cantik di mataku." Batin Darwin, tersenyum menatap Leni yang tak menyadarinya.
__ADS_1
Tak terasa sudah tiga puluh menit, mereka duduk dan mengobrol. Leni berpamitan lebih dulu pada Darwin.
"Apa perlu aku antar?" tanya Darwin.
"Tidak usah, apartemen aku gak jauh dari sini kok." Kilah Leni, padahal Leni harus menempuh berjam-jam lagi menuju Antalya.
"Aku akan mengantarmu," putus Darwin. "sebentar."
Darwin beranjak dari duduknya, dan membayar pesanan dirinya. Karena Leni sudah membayar, saat pertama dia memesan.
"Ayo, biar aku antara. Tak baik anak gadis malam-malam di luar," canda Darwin, membuat Leni tertawa.
"Aku bukan gadis, aku sudah punya anak satu. Mungkin akan memiliki cucu, sebentar lagi." Ujar Leni tertawa.
"Tapi aku melihat kamu, seperti masih gadis." Goda Darwin, Leni menunduk tersipu karena merasakan panas di pipi.
"Astaga, laki-laki ini apa dia selalu menggombal? Pada setiap wanita?" tanyanya dalam hati.
"Kita ke apartemen mana?" tanya Darwin.
"Yang di sekitar Antalya," beritahu Leni, Darwin langsung menoleh.
"Kenapa? Ada yang salahkah?"
"Antalya masih jauh, kenapa kamu tidak tinggal di sekitar sini?"
"Oh ya, bagaimana kalau kita mencari hotel lebih dulu. Baru besok aku akan mengantarmu ke Antalya, bagaimana?" tanya Darwin.
Leni nampak berpikir, dia sedang menimang apakah menerima tawaran Darwin atau tidak?
"Baiklah, kita cari hotel dulu." Putus Leni, Darwin melajukan mobil yang disewa selama dia di Turki.
Setelah menemukan hotel yang cocok, Darwin memastikan Leni masuk kedalam kamar. Kamar yang dipesan oleh Darwin pun, bersebelahan dengan kamar hotel milik Leni. Darwin tersenyum, teringat sepanjang jalan Leni banyak bercerita padanya. Tentang keinginannya tinggal di Turki.
"Hagi, tolong kamu handel seluruh pekerjaan saya. Sampai saya mendapatkan cinta pertama saya," tutur Darwin pada sang asisten sekaligus sekretarisnya.
"Ma-maksud Tuan, apa?"
"Astaga, Hagi. Kamu ini," gemas Darwin.
"Saya sedang di Turki, dan entah akan pulang kapan. Saya tidak tahu! maka semua pekerjaan tolong kamu ambil alih ya! Aku ingin mengejar cinta ku," katanya dengan semangat.
"Baik Tuan, anda jangan khawatir." Balas Hagi, kini dia mengerti bahwa bosnya itu sedang jatuh cinta.
Darwin mematikan panggilannya dengan Hagi, membuat Hagi di seberang sana berdecak kesal. Walau dia harus siap sedia, saat di telepon oleh sang bos walau dia sedang terlelap sekali pun.
__ADS_1
"Astaga Tuan, Tuan. Anda sedang jatuh cinta ternyata. Pantas minggu-minggu ini, sering bolak balik ke Bandung. Dan tau-tau udah ada di negaranya, si Elif lagi." Gumam Hagi, dia kembali melanjutkan tidurnya agar besok bisa mengatur jadwal pekerjaan yang ditinggal oleh sang bos.
***
Keesokan harinya, Darwin sudah mengajak Leni untuk sarapan.
"Ini masih terlalu pagi, untuk aku makan makanan berat." Kata Leni, dia menolak nasi goreng atau roti yang disediakan oleh pihak hotel.
"Aku ini saja." Leni mengambil berbagai macam buah, juga susu hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Entah mengapa cuaca cukup dingin, atau dianya saja yang sedang tak enak badan.
Darwin mengangguk, lambat laun dia akan tahu kebiasaan Leni apa saja. Dan yang pertama, dia tahu bahwa Leni tak bisa sarapan berat.
"Aku akan pergi ke Antalya, menggunakan bus saja. Kak Darwin," ucap Leni, dia masih saja canggung saat memanggil Darwin dengan sebutan Kak.
"Kok pake bus, aku akan mengantarmu. Leni, aku juga akan ke Antalya," kilah Darwin, berharap Leni percaya padanya. Leni hanya mengangguk saja, lalu kembali fokus pada sarapannya.
Tidak ada satu minggu pergi, dia sudah sangat merindukan Kevin. Dan dia juga, melupakan memberi kabar pada sang anak.
"Kenapa?" tanya Darwin.
"Ehh ... Itu aku, aku merindukan anakku."
"Kenapa gak di hubungi?"
"Engga, dia pengantin baru. Aku takut mengganggu waktu Kevin dengan istrinya." Jelas Leni, Darwin hanya mengangguk.
Dia lalu menyuapi kembali makanan kedalam mulutnya, sesekali dia mencuri pandang pada pujaan hatinya tersebut. Tak menyangka, dia ada sedekat ini dengan Leni. Semua perempuan yang akan dijodohkan oleh sang Ibu, di tolak mentah-mentah karena tak bisa move-on. Dari cinta pertamanya.
Setelah selesai sarapan, mereka melakukan check-in. Untuk melakukan perjalanan jauh, mereka sudah duduk didalam bus yang akan membawa mereka ke Antalya. Padahal bisa saja, Darwin memesan tiket pesawat agar lebih cepat. Namun, dia tak ingin kehilangan momen setiap detik pun yang terlewat.
"Kak Darwin, liburan atau apa?" tanya Leni.
"Ehh ... Itu anu, liburan." Celetuk Darwin, tidak mungkin juga dia memberitahu bahwa dia sedang membuntuti Leni.
"Oh, berapa lama?"
"Entahlah, mungkin dua minggu." Jawab Darwin. "kenapa gitu?"
"Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa ada teman. Kalau kak Darwin ada disini," kekehnya, membuat Darwin menoleh seketika. Debaran jantungnya kian menggila.
"Ya Tuhan, apakah aku harus melamarnya disini? Dan langsung menikah? Tapi, dia baru saja berpisah." Batin Darwin.
"Aku harus bertanya pada Adskhan," gumam Darwin, yang masih didengar oleh Leni.
bersambung...
__ADS_1
Maaf typo, atau kesalahan dalam berbagi informasi 🙏 aku update malam