Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.43


__ADS_3

Tiga bulan berlalu setelah pernikahan, kabar membahagiakan datang dari keluarga Frans. Elang memeluk Yurika dengan erat, karena dia akan memiliki adik. Kini semua anggota keluarga sedang berkumpul termasuk sahabat Elang kecuali Siska. Dia tak pernah terlihat lagi, bahkan kabar pun tak ada.


"Selamat ya Tan, akhirnya Elang punya adik. Dan Elang ternyata kalah sama Om Frans," celetuk Daffa, membuat Elang mendelik. Membuat semua orang tertawa, bahkan Adskhan yang jarang tertawa pun hanya tersenyum tipis.


"Bukan kalah, tapi. Gue lagi pacaran halal sama Aiyla, lo kan gak tau betapa indahnya." Cibir Elang, membuat Daffa tersenyum masam.


"Makanya cari cewek, jangan jomblo terus." Pungkasnya tertawa puas.


"Rese lo, mentang-mentang udah nikah." Kesal Daffa, lalu ikut bergabung dengan Kevin, Raka, Reno dan Falisha. Ya Falisha, sejak Raka menyatakan cinta. Sejak saat itu, Falisha selalu dibawa ke kumpulan yang selalu diadakan oleh keluarga Elang atau Aiyla.


Jika di rumah Aiyla, maka Harika akan memperlakukan sahabat-sahabat Elang dengan baik. Bahkan mereka memanggil Mama pada Harika, atas permintaan Harika sendiri.


Falisha juga dekat dengan Aiyla dan Siska, walau tak bertemu dengan Siska. Sesekali mereka sering chat dalam grup.


"Mungkin, aku hamilnya bareng sama Fali dan Siska." Celetuk Aiyla, membuat Falisha bersemu merah.


"Doa kan, semoga Raka melamar aku." Kata Falisha.


"Tenang saja, secepatnya aku akan nikahi kamu sayang. Gak kaya yang disebelah noh, gak ada kepastian sama sekali," ujar Raka melirik ke arah Kevin, yang menatapnya tajam.


"Sudah-sudah kalian ini, lebih baik kita makan dulu. Entar keburu dingin," ajak Yurika pada semua tamu dan besannya.


Mereka menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah, sebagai ucapan rasa syukur atas kehamilan Yurika. Frans juga memberikan bonus pada karyawannya, juga tak lupa nanti dia akan melakukan syukuran di rumahnya.

__ADS_1


Sementara itu Sisak, dia menangis tersedu-sedu karena sang ayah yang tak mengizinkannya keluar. Saat tahu hartanya dialihkan atas nama Siska, Lesmana menjadi murka tentu saja mendapatkan hasutan dari Winda.


"Ayah, aku mohon buka pintunya." Pinta Siska dengan lirih, selama dua bulan dia dikurung didalam kamar. Keluar hanya makan saja, atau makanan yang diantar oleh pembantu yang tak dapat melakukan apa pun.


Siska menggedor pintu kamarnya, membuat Winda berdecak dengan kesal. Acara nonton drakornya, berantakan karena suara berisik Siska.


"Huh ... Anak sialan, berisik woy!" teriak Winda, lalu pindah ke dalam kamar agar tak ada yang mengganggu.


"Bibi buka bi, aku mohon. Aku ingin keluar bi," teriak Siska. Namun, para pelayan di sana tak ada yang bisa membantu Siska. Karena pekerjaannya yang akan menjadi taruhannya.


"Kasian mbak Siska," celetuk salah satu pelayan, yang masih muda.


"Iya memang, tapi kita gak bisa apa-apa. Memang kamu mau, di pecat sama Tuan Lesmana?" tanya pelayang yang lebih senior, membuat pelayan satu lagi menggeleng. Mereka pun melakukan pekerjaan dan pura-pura tak mendengar dan melihat, apa yang terjadi selama ini di rumah tersebut.


Tak terasa sore pun tiba, Lesmana pulang dari bekerja. Dan sudah disambut oleh Winda yang sangat cantik dan seksi.


Lesmana mencium bibir Winda sekilas, juga sudah begini Winda pasti ada maunya. Begitu pikirnya Lesmana.


"Ada apa, sayang?" tanya Lesmana, sambil melonggarkan dasinya.


"Apa Siska gak kamu nikahkan saja, biar dia bisa ikut suaminya dan tidak membuat ulah terus." Usul Winda, membuat Lesmana berpikir.


"Baiklah, ide kamu bagus. Aku akan jodohkan dia dengan rekan kerja ku," cetus Lesmana, membuat Winda tersenyum semringah.

__ADS_1


Sementara itu, Aiyla dan Elang yang sudah kembali ke apartemen mereka. Kini tengah bersantai, menikmati sore hari dengan secangkir coklat hangat.


Dua minggu setelah menikah, Elang dan Aiyla tinggal di rumah Frans dan Yurika. Lalu dua minggu kemudian, mereka tinggal di rumah Adskhan. Walau kedua orang tua mereka meminta untuk tinggal bersama mereka, tapi Elang menolaknya dengan alasan ingin belajar mandiri. Padahal agar Elang lebih leluasa, dalam menyentuh Aiyla di manapun dia mau.


"Yang, aku khawatir sama Siska. Sudah lama dia tidak menghubungi aku dan juga berkumpul bersama," tutur Aiyla, yang berada dalam pangkuan Elang.


"Kita ke rumahnya, bagaimana?" tanya Elang.


"Siska selalu melarang aku, untuk pergi ke rumahnya. Entah ada alasan apa dibaliknya," kata Aiyla menghembuskan nafasnya dengan pelan.


"Sungguh aku sangat khawatir." Aiyla menatap kosong ke depan.


"Jangan khawatir, aku akan meminta anak-anak untuk memantau Siska. Kalau perlu jadi pengawal mereka," ujar Elang, membuat Aiyla mengangguk tapi jika belum bertemu dengan Siska tetap dia merasa belum tenang.


"Ayo kita masuk, ada yang tak bisa ditunda. Atau mau coba disini, hem?" bisik Elang, membuat Aiyla mendelik dan mencubit perut Elang main-main.


"Enggak," tolak Aiyla, membuat Elang terkekeh.


"Ya sudah ayo, kita didalam kita jangan kalah sama Mama. Kalau perlu setiap tahun kita punya anak, sayang," pungkas Elang, membuat Aiyla lagi-lagi mendelik dan menatap tajam Elang.


"Iya tapi, gantian kamu yang hamil dan melahirkan ya!" omel Aiyla.


Elang tak bisa menunggu, dia langsung mengangkat Aiyla untuk masuk ke dalam. Membuat Aiyla menjerit dan tertawa pada akhirnya. Mereka menikmati madu, untuk mencapai puncak nirwana bersama. Berharap apa yang Elang tanam, akan tumbuh didalam rahim sang istri.

__ADS_1


Bersambung...


Maaf typo


__ADS_2