Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.32


__ADS_3

...Tuhan menciptakan rasa penyesalan, agar kita mengerti arti rasa syukur. Dan bahwa tak semua hal dapat diulang....


Louis berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit, saat akan menunggu lift naik. Tak sengaja dia melihat Frans, yang baru datang lewat tangga darurat. Padahal lantai VIP ada di lantai 3 rumah sakit, Louis pun memberhentikan Frans yang akan masuk ke kamar Elang.


"Boleh kita bicara, sebentar?" pinta Louis.


"Maaf, anda siapa?" tanya Frans, selama ini dia  tahu bahwa Louis adalah mantan Yurika. Namun, dia memilih pura-pura tak tahu saja.


"Saya ... Saya Louis, ayah kandungnya Elang." Ucap Louis, sempat ragu memperkenalkan diri.


"Mari." Frans lebih dulu melangkah, menuju ruang tunggu yang tak jauh dari ruang rawat Elang. Dia menaruh barang bawaannya dimeja, Louis hanya menatap sekilas dan menatap Frans yang terlihat masih muda. Tapi, mungkin usianya seumuran Yurika.


Louis berdehem terlebih dulu, untuk memulai obrolan.


"Apa kamu, mencintai Yurika?" tanya Louis, hanya itu pertanyaan yang meluncur begitu saja.


Membuat Frans tersenyum miring, pertanyaan bodoh yang tak seharusnya di pertanyakan. 


"Saya mencintainya, dia cinta pertama saya saat di bangku putih abu." Ungkap Frans menatap Louis, yang sangat terkejut.


Dulu Frans adalah anak yang jarang bergaul dengan anak laki-laki yang lain, jam istirahat dia habiskan di perpustakaan. Sangat jarang ke kantin, bersama yang lainnya karena sang ibu selalu membawakannya bekal.


Pertemuan pertama Frans dan Yurika adalah, saat mereka sama-sama pulang sore. Saat itu Yurika sedang menunggu jemputan di dekat halte bus, karena perempuan sendiri Frans memilih menepikan motornya.


"Kamu belum, pulang?" tanya Frans.


"Eh belum, aku lagi nungguin Papa. Tapi ponsel Papa malah gak bisa di hubungi," ujar Yurika.


"Baiklah, aku akan menemani mu. Menunggu Papa mu," kata Frans, dia turun dari motor miliknya. Dan duduk didekat Yurika


Frans dan Yurika saling memperkenalkan diri, mereka membicarakan banyak hal. Sampai tak terasa dua puluh menit berlalu. Namun, Ayah dari Yurika belum juga kembali. Dilihatnya langit yang sudah mulai gelap.


"Aduh gimana ini? Pasti Papa lupa," keluhnya.


"Kalau gitu, aku saja yang mengantar kamu." Tawar Frans, Yurika nampak berpikir sejenak sampai akhirnya dia mengangguk.


"Baiklah, ayo. Keburu kemalaman kasian kamu," balas Yurika tanpa menolak, karena dia sudah lelah dan lengket ingin mandi.


Frans menatap rok Yurika yang terangkat, dia membuka jaketnya dan meminta Yurika menutupi kakinya, mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Yurika mengulum senyum.

__ADS_1


Yurika terus mengarahkan jalan menuju rumahnya, karena Frans tak tahu alamat sekitaran rumah Yurika. Hanya lima belas menit, mereka pun sudah sampai di kediaman Yurika.


"Terima kasih," ucap Yurika, tersenyum manis.


"Sama-sama, kalau gitu aku pergi dulu. Bye ketemu lagi Yuri," kata Frans, mulai melajukan motornya setelah mendapatkan anggukan dari Yurika.


Yurika menatap motor Frans sampai tak terlihat lagi, hari-hari selanjutnya Yurika dan Frans menjadi dekat. Sampai mereka kuliah di kampus yang sama. Namun, saat Frans akan menyatakan perasaannya dia mendapat kabar bahwa Yurika akan menikah.


Frans pun mundur dan pergi keluar negeri, dia melanjutkan kuliahnya disana sambil melupakan Yurika. Namun, sayang bukannya melupakan dia semakin teringat sampai dia menikah dengan yang lain. Dia terus mengingat Yurika, bertahun berlalu takdir mempertemukan Frans dan Yurika dengan keadaan yang berbeda.


Frans yang mengetahui tentang Yurika, mulai mendekatinya kembali. Sebagai teman yang akan membuatnya nyaman.


***


Louis menatap Frans yang tersenyum, menceritakan tentang masa lalunya dengan mantan istrinya.


"Aku akan selalu, membahagiakan dia dan Elang. Sebelum kamu memintanya," jelas Frans.


Louis menghembuskan napasnya dengan pelan, ya tidak ada lagi kesempatan untuk kembali bersama Yurika. Lagian dia sudah mempunyai keluarga kecilnya sendiri, dia yang memutuskan untuk melepas Yurika.


"Jika tidak ada, yang dibicarakan lagi. Kalau begitu saya permisi," pamit Frans, mulai membawa barang-barangnya dan mengangguk lada Louis yang hanya diam saja.


Kembali ke ruang rawat Elang, saat Frans masuk dia melihat Yurika sedang mengajak Elang.


"Sayang," panggil Frans.


Yurika berdiri dan menghambur ke pelukan Frans, tak peduli banyaknya barang yang sang suami bawa. Dia menangis menumpahkan kesedihannya, karena Elang belum juga bangun.


"Sudah dia pasti akan baik-baik saja, Elang anak kuat." Ucap Frans menenangkan, dia mengusap punggung sang istri dengan lembut.


Setelah puas menangis, Yurika melepaskan pelukannya dari Frans dan menatap kemeja sang suami yang basah.


"Kemeja ... Maaf jadi basah," kekeh Yurika mengusap pipinya, Frans tersenyum tipis dan menggeleng tak merasa keberatan. Dia senang karena Yurika, mau berbagi dengannya.


"Lebih baik kita makan dulu, kamu melewatkan makan siang mu sayang. Sebentar lagi makan malam," ujar Frans, dia membuka kotak makan yang dia beli di tempat kesukaan Yurika.


Walau tak enak makan, Yurika pun menerima makanan tersebut. Dia harus sehat di saat Elang sakit.


***

__ADS_1


Sementara itu di ruang rawat Aiyla, gadis tersebut sudah sadar dan menatap sekeliling hanya ada Harika yang menjaganya. Dilihatnya sang ibu sedang terlelap di dekat dirinya.


"Mama." Lirih Aiyla, dia tak ingin membangunkan sang ibu. Tapi dia juga ingin melihat kondisi Elang.


Merasakan ada pergerakan, Harika langsung membuka matanya dan menatap Aiyla.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Apa kamu, lapar?" tanya Harika.


"Tidak Ma, aku hanya ingin bertemu dengan. Elang," mohon Aiyla.


Harika menghela nafasnya dengan pelan, dia tak tahu apakah Elang sudah sadar atau belum. Sedangkan sang suami, sedang mengurus masalah penculikan dengan melaporkan Rendy ke kantor polisi. 


"Sayang, lebih baik kamu makan dulu. Nanti kita akan melihat Elang dengan Papa." 


"Tapi Ma..."


"Sayang Mama mohon, kesehatan kamu juga penting. Nak!"


"Baiklah Ma." 


Aiyla pun pasrah, menunggu Adskhan datang. Dia pun menerima makan dari Harika, entah kapan terakhir kali dia disuapi. Dia merindukan momen tersebut.


Tepat pukul lima sore, Adskhan sudah sampai di rumah sakit. Saat Adskhan masuk ke ruang perawatan, Adskhan langsung menerima perintah dari Aiyla.


"Astaga nak, Papa baru datang." Omel Aiyla.


"Aku gak mau tahu, pokoknya aku mau lihat Elang." Aiyla dengan pendiriannya, mengingatkan Adskhan akan muda dulu. 


"Hah..baiklah, tunggu Mama. Dia sedang ganti baju," kata Adskhan, dijawab anggukan oleh Aiyla.


Tak lama Harika pun sudah selesai, mereka pun langsung menuju ruang perawatan Elang. 


"Papa, harusnya aku jalan aja." Protes Aiyla.


"Kamu masih lemah," sahut Adskhan, mereka pun tak banyak bicara. Tak membutuhkan waktu lama, Aiyla sudah sampai di ruang rawat Elang. Yang ternyata belum sadar, Aiyla menangis saat mendekat ke arah Elang.


"Elang, maafkan aku." Lirihnya.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2