
Satu minggu berlalu, tak terasa Darwin akan segera kembali ke Jakarta. Membuatnya terasa berat, meninggalkan Leni yang selalu dia temani kemanapun sang pujaan hati pergi.
Dan disinilah mereka sekarang, di sebuah kapal mewah. Yang disewa oleh Darwin, untuk makan malam romantis walau merogoh kocek yang lumayan mahal.
"Ini sangat indah," ujar Leni, menatap hamparan laut yang luas.
"Makasih," lanjutnya kemudian.
"Sama-sama, aku senang kamu suka."
Darwin menatap Leni dari samping, terlihat cantik dan bersinar. Dia memakai dress berwarna hitam, dengan rambut digerai indah sungguh seperti anak muda. Walau dia sudah memiliki anak, mungkin sebentar lagi akan memiliki cucu.
"Kenapa?"
"Besok aku harus kembali, pekerjaan menanti." Kekeh Darwin, lalu mengajak Leni duduk di bangku yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Besok ya?" gumam Leni.
"Ya, kamu baik-baik disini. Kalau ada apa-apa hubungi aku," jelas Darwin, Leni hanya mengangguk saja dia tak menjawab pertanyaan Darwin.
Entah ada dalam hubungan apa, mereka saat ini. Mungkin, teman begitu pikir Leni dia tak ingin memulai hubungan baru dengan seorang lelaki. Tapi jika dengan Darwin, dia merasa nyaman dan aman.
"Sudah lebih baik, kita makan dulu. Kamu sudah lapar 'kan?" terka Darwin, Leni hanya tersenyum tipis malu juga mengakui kalau dia lapar.
Nyatanya tak memakan nasi, membuatnya selalu lapar. Darwin menyiapkan semuanya sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Makan malam romantis itu pun selesai, pukul sembilan malam.
"Kita pulang?" tanya Leni.
"Besok baru pulang, kita menginap disini saja. Ada kamar," jelas Darwin.
"Wah ... Aku baru tahu," kekehnya, pasalnya Leni tak memperhatikan kapal tersebut dia hanya sibuk mengagumi keindahan interior kapal tersebut.
Darwin membawanya ke lantai dua, dimana kamar itu berada. Karena di bawah, tempat para nahkoda dan juga awak kapal.
Saat membuka pintu kamar, Leni berdecak kagum. Furniture yang mewah, juga dia merasa ini masih baru. Tercium dari catnya serta masih sedikit basah, Leni menatap Darwin yang sedang mengamati kamar tersebut. Tak pernah dia diperlakukan, istimewa ini biasanya dia selalu menurut dan patuh.
__ADS_1
"Selamat malam, selamat beristirahat." Ucap Darwin tersenyum dengan manis.
"Ya, selamat malam. Kak," balas Leni.
"Bisakah jangan memanggil ku, kakak?" pinta Darwin, setelah beberapa hari ini Leni selalu memanggilnya dengan kamu atau Darwin. Tapi kali ini, dia malah menyebut kakak kembali.
"Emm jadi, aku harus memanggil apa?"
"Terserah kamu, sayang juga boleh." Goda Darwin, membuat Leni tertawa.
"Baiklah, kalau terserah aku. Sudah sana ini sudah malam, cepat istirahat nanti ketinggalan pesawat." Cetus Leni.
"Baiklah, selamat malam." Ucap Darwin lagi.
"Malam," balas Leni menutup pintu, setelah pintu tertutup rapat. Darwin menghela nafas dengan pelan, sumpah dia begitu gugup dan jantungnya berdebar dengan cepat.
"Astaga Adskhan, gue butuh lo buat cerita." Pekiknya dalam hati.
***
Siska dan Kevin sudah pindah ke apartemen, setelah satu minggu di rumahnya Adskhan. Karena Aiyla, merengek dan selalu menangis jika Siska akan pergi.
"Ibu kayanya, bahagia banget ya?" celetuk Siska.
"Kenapa?" tanya Kevin, Siska pun menunjukan foto Leni yang dijadikan status.
"Kaya yang mau kencan saja," kekeh Kevin.
"Biar dong, Ibu masih cantik masih cocok punya bayi perempuan." Goda Siska, membuat Kevin berdecak.
"Enggak, aku gak mau punya adik." Tolak Kevin.
"Elang aja punya anak sama punya adik,"
"Sudahlah sayang, jangan bahas yang lain. Biarkan Ibu menikmati kebebasannya," cetus Kevin, dijawab anggukan Siska.
__ADS_1
Kevin memiliki ide, dia memasang foto Leni di status pribadinya. Dia memuji kecantikan sang Ibu, lalu menyebutkan masih cocok memiliki bayi perempuan.
"Dasar," gumam Siska tersenyum, saat melihat status milik Kevin.
Evan termenung menatap foto Leni, yang entah berada dimana. Dia terlihat cantik, dengan dress berwarna hitam itu adalah warna favorit Leni.
"Kamu sangat cantik," ucap Evan dalam hati.
Sudah satu minggu ini, dia tak bekerja karena memulai dari awal butuh modal yang besar. Sementara dia hanya punya, untuk kehidupan sehari-hari juga bekal Saras. Bahkan pembantu rumah tangga mereka, dikurangi beberapa orang karena tak mampu membayar.
"Mas," panggil Angel.
"Ya ada apa?"
"Kebutuhan dapur, kamar mandi, juga kulkas sudah habis." Ujar Angel, Evan mendesah dengan kasar.
"Angel, kamu tahu kita sudah tidak seperti dulu lagi. Bisakah kau membelinya di toko kelontongan, yang dekat dengan rumah?" tanya Evan. "lalu jika sayuran sudah habis, maka kamu bisa beli di pedagang sayur keliling."
"Apa? Kamu nyuruh aku kesana? Apa kata orang Mas. Kita yang selalu beli ke mall, masa kini ke toko kelontongan sama tukang sayur sih!" protes Angel.
"Ya sudah, kamu jual saja perhiasan mu. Nanti aku ganti, jika kamu gak mau menjualnya kecuali kamu ... Mau belanja di tempat, yang aku sebut tadi." Tutur Evan dengan jelas.
Angel terdiam, dia menimang apakah akan menjual semua perhiasannya? Atau terpaksa membeli di tempat yang disebutkan oleh Evan?
"Astaga pusing," pekik Angel.
Terpaksa Angel pun, membeli kebutuhan di kelontongan dekat dengan pasar. Di antar oleh asisten rumah tangganya, lalu meminta Bi Mina untuk membeli sabun juga hand body lotion.
"Aduh … apa lagi ya?"
Leni melihat catatan belanjaannya, dia menuju penjual ayam dan melakukan transaksi. Kebetulan toko kelontongan tersebut, berada di dekat pasar.
bersambung ...
Maaf typo
__ADS_1