Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.42


__ADS_3

Pukul sepuluh malam, resepsi pernikahan Elang dan Aiyla pun usai. Tinggallah Kevin, Daffa dan Reno. Sedangkan Raka dia sudah mengantar Falisha pulang.


"Kita nginep aja, apa pulang? Kan lumayan, kapan lagi nginap di hotel." Kekeh Daffa, pasalnya selain keluarga Adskhan juga membebaskan sahabat Elang dan Aiyla untuk menginap.


"Nginap aja lah, kapan lagi kan kita di hotel mewah. Dengan fasilitas lengkap," sahut Reno pula.


"Ya sudah kita nginap," putus Kevin, karena kedua sahabatnya merengek layaknya anak kecil tak di kasih mainan.


"Lang," panggil Daffa, Elang pun menghampiri sahabat-sahabatnya.


"Kenapa lo, gak ke kamar?" tanya Daffa, langsung di senggol oleh Reno.


"Kepo banget sih, lo." Cibirnya.


"Biarin lah, lo juga kepo kan?" balas Daffa, Reno pun hanya nyengir saja.


"Aiyla, lagi di dandani sama Siska." Kata Elang, dia pun meminta jus buah untuk mengganjal perut.


"Harusnya, lo ajak Aiyla keliling pake motor. Dengan mengenakan gaun pengantin, ahh ... Pasti romantis deh." Ujar Reno.


"Nggak, entar yang ada dia masuk angin. Karena bajunya kebuka," sahut Elang, membuat semuanya tertawa.


"Kan gak seru, kalo masuk angin gue belum malam pertama." Celetuknya, dan lagi-lagi mereka tertawa dengan kekonyolan Elang.


Mereka pun hanya mengangguk, lalu Elang mulai menggoda Kevin untuk segera melamar Siska sesuai janji Kevin saat itu. Namun, Kevin malah pura-pura tak mendengar.


Di kamar pengantin, Siska sedang mendandani Aiyla. Agar terlihat cantik dan segar di mata Elang,


"Sis ganti aja, yah! Gue risih tau," keluh Aiyla.


"Kenapa harus ganti, sih? Lo cantik tahu, pake baju dinas warna hitam. Ini pasti baju, kesukaan Elang." Ujar Siska, merapikan rambut Aiyla yang di gerai.


Aiyla berdecak dengan kesal, rasanya dia ingin memakai piyama saja. Dari pada memakai baju, kurang bahan tersebut.

__ADS_1


"Siska," rengek Aiyla.


"Udah deh, jangan kaya anak kecil." Omel Siska, memberikan sentuhan terakhir. Yaitu parfum, di sekitaran leher Aiyla dan juga di dekat dada.


"Dah selesai, waktunya panggil Elang." Seru Siska, dia menuntun Aiyla untuk duduk di tengah ranjang. Yang sudah dihias, dengan kelopak mawar merah yang berserakan.


"Gue keluar dulu, semoga sukses." Kekeh Siska, Aiyla langsung menatap tajam sahabatnya tersebut.


"Sialan lo," umpat Aiyla, dia menormalkan detak jantungnya yang terasa begitu cepat. 


"Tenang Aiyla, jangan gugup. Elang suami kamu," gumamnya. Namun, tetap saja Aiyla takut, malu dan gugup menjadi satu.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Membuat jantung Aiyla berdetak dua kali lebih cepat.


Elang sendiri setelah di beritahu Siska, dia langsung meninggalkan sahabatnya. Saat membuka pintu, semerbak harum tercium oleh indra penciumannya. Aromaterapi di setiap sudut ruang, harum aroma mawar adalah kesukaan Aiyla. Tak lupa bunga mawar berbentuk love di tengahnya ada inisial huruf E dan A.


Elang tersenyum lampu kamar yang remang, tak menyurutkan langkahnya menemui sang pujaan hati. Elang terpaku, menatap Aiyla yang begitu mempesona. Dengan lingerie berwarna hitam, dia mendekati Aiyla yang tengah berdiri di sisi ranjang.


Membuat Aiyla menelan ludahnya dengan kasar, mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. Elang mengusap pipi Aiyla dengan lembut, lalu mengambil rambutnya dan menciumnya.


Wangi lembut Aiyla, membuat hasrat Elang naik.


"Aku harus, berterima kasih pada Siska. Karena dia sudah membuatmu seperti bidadari," bisik Elang, dia mencium pipi Aiyla. Membuat Aiyla tegang seketika, mungkin pipinya sudah semerah tomat.


Elang tak menghentikan ciumannya, dia terus menjelajahi leher Aiyla dengan kecupan ringan. Membuat Aiyla merinding, bukan karena kedatangan hantu.


Satu ******* lolos dari bibir Aiyla, saat Elang menyentuh gunung kembar miliknya.


"Elang, akhh..." 


Elang hanya tersenyum, dan membawa Aiyla berbaring di ranjang king size.


"Elang, mandi dulu." Cegat Aiyla. Namun, Elang tak mendengarkan ucapan Aiyla.

__ADS_1


Dia asik dengan apa yang ada di hadapannya.


"Aku udah gak tahan sayang, aku mau sekarang. Apa kamu siap?" tanya Elang, Aiyla tampak berpikir sekarang atau nanti toh sama saja. Aiyla mengangguk sebagai jawaban, membuat Elang tersenyum sangat manis.


"Aku akan pelan-pelan, aku janji." Bisiknya, lalu mencium kembali bibir Aiyla dengan lembut.


Malam itu mereka menyatu, mengarungi indahnya nirwana. Mendaki kenikmatan untuk mencapai puncak bersama.


***


Sementara itu.


Setelah mendandani Aiyla, Siska lebih memilih menghirup udara malam hari di taman. Keadaan sekitar sudah mulai sepi, karena waktu menunjukan pukul sebelas malam.


Siska ingin pulang, tapi dia juga sangat lelah butuh istirahat untuk merencanakan merebut. Apa yang seharusnya jadi miliknya, Siska dibuat terkejut dengan gelas kopi di depannya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang memberikan segelas kopi.


"Kevin," desis Siska, dia pun menerima kopi tersebut.


"Terima kasih," gumam Siska.


"Boleh aku duduk, disini?" 


"Kenapa harus minta, izin? Ini kan tempat umum, jadi kamu bebas duduk disini atau dimana pun." Sahut Siska, membuat Kevin tersenyum dia duduk di dekat Siska dengan memberikan jarak.


"Kenapa belum, tidur?" tanya Kevin.


"Belum mengantuk," jawab Siska singkat, dia harus membentengi diri agar tak jatuh cinta pada Kevin.


Hening yang terjadi diantara mereka, Kevin tak tahu harus membicarakan apa dengan Siska. Sedangkan Siska sendiri sepertinya enggan, untuk berbicara dengan Kevin.


Bersambung ...


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2