Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.64


__ADS_3

Setelah Kevin pingsan, Eliza membawanya ke dalam kamar dan melakukan apa yang menjadi tujuannya.


"Selesai, aku pasti 'kan kamu menikah denganku." Gumam Eliza.


Sementara itu, perasaan Siska tak menentu karena Kevin tak ada kabar sama sekali.


"Aku harus percaya, sama dia."


Siska meyakinkan dalam hati, bahwa Kevin sedang sibuk mengurus rumah milik Evan yang akan dia jual. 


***


Keesokan harinya, Kevin lebih dulu bangun dia mengerjap dan menatap ke sekeliling merasa asing. Karena bukan di kamarnya, di menatap ke samping terkejut mendapati Eliza. Tak memakai apa pun.


"Eliza," desis Kevin. "sial, dia menjebak gue."


Kevin beranjak dari tempat tidur, kemudian mengambil semua baju yang berserakan. 


"Kurang ajar dia, apa yang sudah dia lakukan?"


Dalam hati dia terus berbicara, tak ingin percaya bahwa dia dan Eliza melakukan hal yang menjijikan. Dia tak merasakan apapun semalam, walau dia terlelap.


"Kevin," lirih Eliza, suara khas bangun tidur membuatnya semakin seksi. Tapi tidak bagi Kevin, justru Kevin makin jijik dan muak pada Eliza.


"Kamu sudah bangun? Mau kemana?" tanya Eliza, melihat Kevin yang sudah memakai pakaiannya dengan rapi.


"Bukan urusanmu, Eliza. Seharusnya hubungan kita berakhir, perjodohan ini sampai disini. Aku tidak mencintaimu!" ucap Kevin penuh penekanan.


"Tidak bisa," sentak Eliza.


"Kamu sudah melakukan itu pada ku, Kevin. Kamu sudah mengambil kesucian ku," lirih Eliza.


"Tapi aku tidak merasakan apa pun, Eliza. Jangan bermimpi, atau kamu sudah pernah melakukannya dengan lelaki lain hah?" tebal Kevin, membuat Eliza panik dan salah tingkah.


"En-Engga, aku hanya melakukannya sama kamu. Vin, kamu gak akan ingat tentang semalam." Kilah Eliza, mengalihkan pandangan ke arah lain.


Namun, Kevin tak peduli sama sekali. Kevin langsung pergi begitu saja, dari apartemen Eliza. Sungguh dia kesal karena berada di apartemen tersebut melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tak peduli semua orang mengumpat dirinya. 


Berpuluh menit kemudian, Kevin sudah tiba di kediaman orang tua Aiyla. Dia memarkirkan mobil secara asal, dan masuk mencari Elang.


"Ada apa, Vin?" tanya Siska, yang mendengar teriakan Kevin.


"Siska," lirih Kevin.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" 


Kevin memeluk Siska dengan erat, tak sanggup dia memberitahu masalahnya dengan gadis yang dia cinta.


"Kamu kenapa, Vin? Apa yang terjadi?" tanya Siska khawatir.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Hanya saja, ada masalah yang harus aku dan Elang selesaikan." Ujar Kevin, mengelus lembut pipi Siska.


"Berjanjilah, tunggu aku melamarmu."


"Ya aku berjanji," balas Siska tersenyum.


Tak lama Elang datang, masih mengenakan piyama tidurnya. Sementara Harika dan Adskhan sedang olahraga pagi di sekitar kompleks perumahan.


"Ada apa, Vin?" tanya Elang.


"Lang, lo harus bantuin gue." Kata Kevin langsung, dia tak mau basa-basi pada Elang.


"Lo kenapa?"


Kevin mengajak Elang menuju taman belakang, mungkin ini bahasan serius bagi Kevin.


"Kenapa?"


"Lo kenapa?" tanya Elang.


Kevin menceritakan semuanya pada Elang, tanpa ada yang ditutupi sedikitpun. 


"Gue rasa, Eliza menjebak gue Lang." Kevin menatap Elang, yang juga menatapnya.


"Kita harus menyelidiki ini, tapi gue harus menyelesaikan semua urusan perusahaan bokap lo dulu. Vin," kata Elang.


"Oke, baiklah. Tapi jangan sampai Siska tahu," bisik Kevin.


"Tenang aja," Elang menepuk pundak Kevin, dan mengajaknya untuk sarapan bersama. Elang paham bagaimana Kevin, sepertinya dia tak ingin terjebak dengan perempuan macam Eliza. Tapi Elang punya seribu cara, untuk membuat mereka tak bersama.


***


Sementara itu, Evan yang akan mulai masuk ke kantor. Terkejut dengan perlakuan satpam dan juga beberapa karyawan, yang menatapnya tak suka.


"Kenapa menatap saya, begitu? Apa kalian, bosan bekerja hah!" bentak Evan.


"Kalian juga, kenapa melarang saya masuk. Ke Perusahaan saya sendiri?" tanya Evan.

__ADS_1


"Maaf tuan Evan, mulai sekarang anda bukan pemilik perusahaan ini lagi." Jujur satpam tersebut.


"Jaga bicara kamu, saya pecat baru tahu rasa." Marah Evan.


"Saya tidak, takut!" Sahutnya, dengan wajah datar petugas keamanan di perusahaan tersebut berdiri di hadapan Evan. Yang sejak tadi, merangsek ingin masuk.


"Lepaskan saya, sialan! Saya pemilik perusahaan, Syailendra." Teriak Evan.


Namun, mereka tak menggubris ucapan Evan. Mereka menyeret Evan sampai di halaman perusahaan dan menjadi pusat perhatian.


Hilmi terlihat baru turun, setelah mendengar kabar Evan ada di lobby.


"Tuan," panggil Hilmi.


"Hilmi, ada apa ini?" tanya Evan.


Sebelum Hilmi berbicara, Elang lebih dulu keluar dari mobil. Dia berdiri berhadapan dengan Evan.


"Tuan Evan, perusahaan ini sudah menjadi milik saya. Wijaya Group," ungkap Elang, membuat Evan mendelik tak percaya.


"Bagaimana bisa? Kalian melakukannya tanpa persetujuan saya!" marah Evan.


"Saya tidak butuh persetujuan anda, karena Kevin sudah sebagai ahli waris. Sudah menyetujuinya, termasuk rumah yang anda tempati."


"Apa?" pekik Evan, dia tak percaya Kevin melakukan hal tersebut.


"Sebaiknya anda pergi sekarang, sebelum saya melaporkan anda pada polisi." Usir Elang, dia memberikan kunci mobil pada Hilmi dan berjalan dengan gagah meninggalkan Evan yang mematung kaku.


Evan meninggalkan perusahaan yang dirintis dari nol, tapi harus jatuh ke tangan orang lain. Tujuannya sekarang adalah bertemu Kevin, juga melihat rumah yang katanya sudah menjadi milik Elang beserta isinya.


Satu jam kemudian, Evan sudah tiba di rumahnya bersama Leni. Tak ada siapapun orang yang berjaga, bahkan terlihat sepi dari luar. Evan mengepalkan tangan, dia menatap sedih rumah yang dulu dia bangun dari hasil kerja kerasnya.


Evan melakukan panggilan pada Kevin. Namun, nomor tersebut tidak aktif.


"Akhhh.... Sial!" 


Saking banyaknya permasalahan yang terjadi, Evan melupakan sidang perceraiannya bersama Leni. Yang entah dimana dia sekarang, bahkan perceraiannya Leni menyerahkan pada pengacaranya.


Bersambung...


Maaf typo


akhir-akhir ini mood sedang tak baik, jadi jika ada salah atau apa pun maafkan ya guys 🙏

__ADS_1


__ADS_2