
Hening membuat Siska terjebak di antara kecanggungan tersebut, bahkan orang tua Kevin menatapnya dengan intens. Seolah sedang menilai, apakah dia baik untuk anaknya atau tidak?
"Huh ... Sialan lo Ay, awas aja lo entar."
Siska tersenyum dan menatap semua orang, lalu mengalihkan obrolan ke tentang rencana pernikahan Aiyla dan Elang. Tepat pukul lima sore, semua orang berpamitan untuk pulang tak kecuali Siska.
"Lo gak nginap?" tanya Aiyla.
"Lain kali saja, gue juga sibuk." Balas Siska.
"Oke, tapi lo janji harus buat nemenin gue buat persiapan pernikahan gue." Ujar Aiyla.
"Siap, pokoknya lo tenang saja." Siska menepuk pundak Aiyla, lalu memeluk Aiyla sebagai bentuk berpamitan.
"Hati-hati!"
"Ya, bye!"
Aiyla melambaikan tangannya, lalu menghembuskan napasnya dengan lega. Melihat sahabatnya baik-baik saja, Siska sendiri memutuskan untuk mencari kosan terdekat dari tempatnya bekerja mulai besok atau dia akan hidup mandiri. Biarlah sang ayah hidup dengan wanita ular itu, yang penting sekarang Siska sudah mengamankan semua harta milik Bundanya.
"Dasar ular, memangnya dia pikir dia pintar apa? Tidak semudah itu, buat membodohi gue. Lo kalah cepat dari gue." Ucap Siska tersenyum sinis, biarlah sisanya dia akan urus nanti karena Ayahnya sedang dibutakan oleh cinta.
Sebelum hari pernikahan Falisha ingin bertemu dengan Elang, secara pribadi meminta maaf pada Elang. Elang dan Aiyla masih baik, mau mengundang dia ke acara pernikahan mereka.
"Kak ... Aku mohon," pinta Falisha, dia tak kuat menjalani hidup susah seperti ini.
Namun, Bara masih bertahan dengan pendiriannya.
"Kak Bara aku mohon, izinkan aku pulang kak. Tidak apa jika Kakak tidak memberi ku fasilitas, asal jangan buat aku hidup di kosan kecil dan kumuh seperti itu." Tutur Falisha, dengan mata berkaca-kaca. Sungguh dia tak sanggup hidup di tempat seperti itu, bahkan Kamila dan Mila tidak mau membantu dirinya.
"Aku juga akan meminta maaf, pada Elang kak." Lanjutnya lagi, Falisha pun bersimpuh di depan Bara.
Bara terkejut tapi dia mampu menormalkan keterkejutan itu, dengan wajah datarnya. Dia pun mulai berpikir.
"Baiklah, Kakak akan memaafkan mu dan kamu boleh kembali ke rumah." Putus Bara setelah lama berpikir, membuat Falisha tersenyum senang.
__ADS_1
"Benarkah, Kak?" tanya Falisha.
"Ya, tapi dengan satu syarat."
"Sya-Syarat? Syarat apa, Kak?"
"Kamu akan bekerja, di perusahaan Kakak sebagai staff biasa." Ungkap Bara, membuat Falisha menggeleng. Dia hanya mau membuka salon kecantikan, bukan masuk ke perusahaan.
"Aku ... Aku tidak, mau Kak." Cicit Falisha takut.
"Ya sudah terserah, itu kesempatan kamu untuk kembali ke rumah." Ujar Bara, dia kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Baiklah Kak, aku akan bekerja disini. Sebagai karyawan biasa," jawab Falisha, beruntung Bara tidak menjadikannya office girl.
"Bagus, Kakak akan mengantarmu ke rumah Elang. Aku akan lihat kesungguhanmu dalam meminta maaf," cetus Bara, Falisha mengangguk pasrah.
Elang yang diberitahu oleh Raka, bahwa Falisha ingin bertemu mengajak Aiyla untuk menemaninya. Sekaligus Falisha juga harus, meminta maaf pada Aiyla.
Dan disinilah mereka sekarang, di ruangan cafe VIP milik Elang. Elang sengaja agar Aiyla dan dirinya tak harus jauh-jauh ke tempat lain, Bara menatap Aiyla dengan intens. Membuat Elang menatapnya tak suka, sehingga dia menarik Aiyla lebih dekat dan memeluk pinggangnya dengan posesif.
Elang berdehem, untuk mengalihkan perhatian Bara dari sang kekasih. Aiyla yang mengerti hanya mengulum senyum, dengan kecemburuan Elang sangat manis dan menggemaskan.
"Elang, Miss Aiyla. Aku ... Aku ingin meminta maaf, atas niat buruk ku pada Miss." Ucap Falisha, dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Karena aku, Elang dan Miss Aiyla terluka." Lanjutnya lagi, kini isakan terdengar walau Falisha menunduk.
"Falisha, aku memaafkanmu. Aku anggap itu adalah ujian aku sebelum bersama dengan Elang." Aiyla menggenggam tangan Falisha, agar dia tenang. Aiyla tahu bahwa Falisha terjebak dalam obsesinya pada Elang, beruntung dia sudah menghentikannya dengan mendapatkan hukuman dari Kakaknya Bara.
"Terima kasih Miss, Lang. Gue minta maaf, maafin gue atas semua kesalahan gue. Gue selalu ngejar-ngejar lo, gue juga selalu bikin lo risih." Kata Falisha, Elang hanya mengangguk tanpa menjawab terlalu malas untuk menanggapi Falisha.
Dia hanya ingin secepatnya Falisha dan Bara, pergi dari hadapannya. Karena tatapan Bara menggambarkan jelas, kekaguman kepada sang kekasih.
"Jika tidak ada, yang dibicarakan lagi. Aku permisi lebih dulu, karena ada hal penting yang ingin aku kerjakan." Jujur Elang.
"Tidak ada, kalau begitu aku permisi. Miss sekali lagi maaf dan terima kasih," ucap Falisha menunduk pada Aiyla. Namun, Aiyla malah memeluk Falisha yang kembali terisak dalam dekapan Aiyla.
__ADS_1
Setelah meminta maaf dengan Elang dan Aiyla, Falisha merasa jauh lebih baik. Walau masih ada rasa iri pada Aiyla, yang mampu memenangkan hati Elang tapi Falisha tak mempermasalahkan itu semua. Toh Elang memang pantas dengan perempuan seperti Aiyla, yang mampu mengendalikan dia dan yang lebih paham sifat-sifatnya Elang.
Bara menatap Falisha yang menatap keluar jendela, dia pun merasa iba. Dan membiarkan Falisha untuk sendiri terlebih dulu, sebelum dia masuk ke dunia perkantoran.
"Mobilnya sudah pergi, terus aja lihatin." Celetuk Elang, saat Aiyla tak beranjak dari tempatnya bahkan dia masih menatap lurus ke depan.
"Apaan sih, kamu cemburu ya?" goda Aiyla.
"Siapa yang cemburu? Geer banget," ketus Elang. Namun, Aiyla terus menggoda Elang yang sedang merajuk layaknya anak kecil.
"Udah ahh, aku marah sama kamu." Elang meninggalkan Aiyla di tempat parkir, membuat Aiyla tertawa sangat lucu melihat Elang yang seperti itu.
"Elang, Elang." Kekeh Aiyla, lalu menyusul Elang yang masuk kedalam.
Aiyla mendapat pesan dari Siska, bahwa dia sudah berada disalah satu Mall terbesar di kota Bandung.
"Sayang," panggil Aiyla dengan lembut.
"Aku pergi dulu, Siska sudah menunggu." Ucap Aiyla.
"Ya sudah, hati-hati ya! Kalau mau pulang, hubungi aku." Kata Elang, dijawab anggukan oleh Aiyla.
Aiyla keluar dari ruangan Elang, setelah pamit pada calon suaminya tersebut. Memikirkan itu semua, membuat Aiyla tersenyum tak sabar rasanya ingin segera menjadi istri dari Elang.
Aiyla menggunakan taxi, karena Siska akan mengantarnya pulang. Beberapa jam kemudian, Aiyla sudah sampai dan melihat ke arah Siska yang sedang melamun. Kebetulan Siska, duduk di dekat resto cepat saji dimana tempat duduknya berada di luar.
"Siska, maaf ya kamu menunggu lama." Ucap Aiyla menatap sahabatnya, dengan tak enak.
"Gak apa-apa, gue baru selesai makan." Siska memperlihatkan piring kosong bekas dia makan, lalu menatap jam di tangannya menunjukan pukul dua sore.
"Ayo, nanti keburu sore." Kata Siska.
Aiyla dan Siska akan mencari barang, untuk pernikahan Aiyla yang akan digelar satu minggu lagi. Oleh sebab itu, Aiyla meminta Siska untuk menemaninya berbelanja. Untuk urusan undangan orang suruhan Adskhan sudah membagikannya.
Tak banyak yang mereka bicarakan, karena fokus mencari barang untuk Aiyla. Jadi Aiyla tak curiga, dengan permasalahan sang sahabat. Siska hanya takut, Aiyla membatalkan pernikahannya hanya karena dirinya.
__ADS_1
Bersambung ...
Maaf typo