
Malam minggu ini terasa spesial bagi Kevin, biasanya dia menemani Eliza berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Tapi, kali ini dia akan melakukan kencan dengan Siska untuk pertama kalinya.
Sudah beberapa hari, dia tak pulang kerumah bahkan Leni selalu mengirim pesan yang diabaikan. Cukup mengetahui sang Ibu baik-baik saja, Kevin akan tetap di apartemennya. Evan pun belum mengetahui semua yang terjadi.
"Astaga, gue deg degan." Celetuk Kevin, dia sudah sampai di salah satu cafe yang tak jauh dari tempat tinggal Aiyla. Karena Ibu hamil tersebut, merengek ingin ikut pada kencan Kevin dan Siska.
"Cih, kaya pertama kali aja. Pasti sering 'kan lo, kencan sama si Eliza?" tebak Daffa, sampai sekarang Daffa masih saja sering mencibir Kevin.
"Engga juga, gue lebih sering jadi obat nyamuknya dia." Jawab Kevin.
"Sudah-sudah, berisik amat sih kalian. Siska udah mau sampe," sela Reno yang ikut, sedangkan Raka ada acara sendiri dengan Falisha.
Tak lama Siska, Aiyla dan Elang pun sudah tiba, Siska langsung ke tempat dimana Kevin berada. Sedangkan Elang menarik sang istri untuk ikut dengannya, berkumpul bersama Daffa dan Reno.
"Sayang, aku mau lihat mereka." Rengek Aiyla, menolak ikut dengan Elang.
"Memang kamu, mau jadi obat nyamuk, hem?"
"Ya enggak sih, setidaknya agar Siska tidak canggu."
"Yang ada Kevin, yang merasa canggung. Sebab kamu juga ikut sudahlah, ayo!" ajak Elang, langsung masuk ke ruangan VIP yang bersebelahan dengan Kevin dan Siska.
Kembali ke ruangan Kevin dan Siska, suasana hening menyelimuti mereka berdua. Kevin menjadi kikuk, tidak tahu ingin memulai dari mana dia bicara.
"Siska," panggil Kevin, membuat Siska menatap mata Kevin yang menurutnya sangat indah.
"Apa kabar?" tanya Kevin, pertanyaan yang sangat-sangat tidak penting menurut Kevin.
__ADS_1
"Baik, kamu bagaimana? Katanya mau menikah?"
Kevin membuang nafasnya dengan kasar, sungguh dia enggan untuk membahas pernikahannya.
"Ya aku akan menikah, satu minggu lagi. Elang dan yang lainnya membantu mempersiapkan semuanya." Tutur Kevin, menatap Siska yang juga menatapnya.
"Aku masih menunggu pengantin perempuannya, apa dia mau menikah dengan ku atau tidak?" lanjutnya lagi, membuat Siska bingung.
"Pasti dia mau, secara kamu 'kan tampan." Kekehnya, dengan hati yang hancur.
Kevin tersenyum tipis, Siska masih belum tahu bahwa dia juga sudah mulai ada rasa.
"Kamu ... Mau gak, nikah sama aku?" tanya Kevin, sumpah dia gugup dan juga sulit berkata romantis. Siska menatap Kevin dengan raut yang terkejut.
"Ma-Maksudnya?"
"Aku maunya, nikah sama kamu. Siska," ucap Kevin dengan tegas, Siska menggeleng pelan.
"Kenapa, kenapa kamu minta maaf?"
"Karena, karena kamu masih memiliki hubungan dengan Eliza. Kamu berstatus tunangan Eliza, bagaimanapun publik tahunya kamu calon dari Eliza." Papar Siska, dengan banyak menyebut nama Eliza.
"Aku akan melepaskan Eliza juga harta keluarga untukmu Siska, aku mohon berikan aku kesempatan. Untuk membuktikan semuanya, aku akan melepaskan semuanya demi kamu." Tutur Kevin, dengan kukuh mempertahankan apa yang dia mau. Cukup sudah beberapa hari, dia menjadi alat untuk keuntungan laki-laki yang dihormati. Nyatanya, tak lebih dari seekor binatang.
"Tidak semudah itu, Kevin." Lirih Siska, walau dia juga ingin. Tapi, dia juga tak ingin egois melepaskan kebahagiaan wanita lain.
"Baiklah, tunggu aku menyelesaikan semuanya Siska. Aku akan datang melamar mu lewat Om Adskhan," ujar Kevin, dia pun mengeluarkan kotak cincin yang dibeli sebelum dia kenal Eliza.
__ADS_1
"Terima ini, aku mohon tidak ada penolakan." Titah Kevin dengan tegas, Siska pun menerima cincin tersebut. Dia memasangkan dijari manis, sangat indah dan pas cocok untuknya.
"Terima kasih, Kevin. Aku akan menunggu mu," putus Siska, dia harusnya tak takut lagi. Karena kini ada Elang dan yang lainnya yang melindungi dirinya, dari jahatnya Ayah dan juga Ibu sambung.
Kevin dan Siska pun memulai makan malam mereka, makan malam pertama yang sangat indah.
***
Sementara itu, Leni terus menatap ponselnya. Beberapa kali, dia menghubungi Kevin tapi tak kunjung juga mendapat jawaban. Menyerah Leni pun, memilih untuk membaringkan diri memikirkan masa depan yang tak tahu akan seperti apa?
Lain lagi Evan, yang sedang bersenang-senang dengan keluarga kecilnya. Dia pun sama sudah dihubungi beberapa kali. Namun, tak ada jawaban apa pun.
"Daddy, terima kasih." Ucap sang anak yang bernama, Sarah.
"Sama-sama sayang." Evan tersenyum tipis, menatap anak keduanya.
"Aku senang banget, akhirnya Daddy ajak aku dan Mommy liburan. Sayang Kak Gita gak ikut," ujarnya dengan antusias menatap lautan di malam hari, yang terasa sepi.
"Nanti, kita jadwalkan lagi. Jika Kak Gita libur," usul Angel.
"Gimana Dad? Boleh tidak?"
"Boleh dong, apapun yang anak Daddy minta. Akan Daddy berikan," cetus Evan, membuat Angel tersenyum tipis. Walau dia menjadi istri kedua dia tak peduli, kasih sayang Evan sangatlah besar padanya dan kepada anak mereka.
"Terima kasih, sayang." Bisik Angel, membuat Evan memeluknya dengan erat.
"Harusnya, aku yang berterima kasih. Kamu mau menemaniku dan mau berbagi cinta dengan yang lain, aku berjanji ... Jika nanti semuanya aku dapatkan, aku akan melepaskan dia." Tutur Evan, membuat Angel mengangguk dan memeluk suaminya dengan erat.
__ADS_1
bersambung ...
Maaf typo