Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.36


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu lama, Bara sudah mendapatkan info tentang sang adik. Dia mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarahnya.


"Falisha," desis Bara.


"Cari dia sampai dapat," titah Bara, pada anak buahnya yang masih berada di ruangan tersebut.


"Baik tuan," jawabnya patuh, lalu meninggalkan ruang kerja Bara. 


Saat anak buah Bara keluar, Alin Ibu Bara dan Falisha masuk.


"Bara sayang, jangan terlalu keras pada adik mu. Nak!" mohon Alin, membuat Bara menatap tajam sang Ibu.


"Lalu, aku harus bagaimana, Ma? Lemah lembut padanya, seperti Papa begitu?" tanya Bara.


"Bukan setidaknya, jangan hukum dia terlalu berat. Kasian Falisha," lirih Alin.


"Heh, kasihan? Apa Mama lupa, jika Felicia meninggal karena siapa?" Bara menatap sang Ibu yang menatapnya dengan sendu, tak tega memang tapi mau bagaimana lagi. Ibunya harus diingatkan tentang bagaimana Falisha jika dimanja.


"Mama tidak akan lupa, Felicia ... Adalah anak kesayangan Mama." Katanya. "tapi, Falisha juga anak kesayangan Mama. Bara, setelah kepergian Cia."


Alin menatap Bara dengan tatapan sendu, berharap dia tak melakukan apapun pada putrinya. Ya Falisha pernah salah dulu. Namun, itu semua bukan murni kesalahannya. Itu semua karena dirinya yang tidak bisa menjaga dua anak sekaligus.


"Baiklah, aku tidak akan menghukum Fali dengan berat." Celetuk Bara, membuyarkan lamunan Alin.


Alin berjalan menghampiri Bara, dan memeluk anak pertamanya tersebut.


"Setidaknya, sampai kondisi kesehatan Papa mu membaik. Jangan pernah menghukum Fali, kamu boleh mencabut semua fasilitasnya." Usul Alin.


"Baik Ma, Mama tenang saja. Sekarang Mama temani Papa, biar Bara yang mengurus semuanya." Ujar Bara, tadi setelah mendapatkan surat panggilan tiba-tiba Hendra mengalami sesak. Dan beruntung dokter menanganinya dengan cepat, bersyukur pula sang ayah tak di bawa ke rumah sakit.


***


Sementara itu di kediaman Yurika, mereka mengadakan syukuran kecil-kecilan. Semua sahabat Elang hadir disana, termasuk Harika yang diantar oleh sang suami. Yang kini sudah berada di kantor.


"Sesekali ajaklah suamimu, mbak." Kata Yurika, membuat Harika berdecak pelan.


"Bukannya gak mau ngajak, tapi dia itu pekerja keras sekali. Dalam memajukan perusahaan, mbak 'kan tau sendiri kami tidak memiliki anak lelaki." Ujar Harika, dijawab anggukan oleh Yurika.


Mereka pun melanjutkan obrolan bagaimana seorang ibu ketika bertemu, seputaran rumah, belanja dan lainnya.


Salsa sendiri dia sudah anteng bersama Elang, Aiyla dan yang lainnya.

__ADS_1


"Kapan kalian jadian, masa teman tapi mesra terus sih." Celetuk Daffa, menatap Kevin dan Siska yang salah tingkah. Namun, tingkah mereka malah ditertawakan oleh yang lainnya.


"Rese lo, semua." Kesal Kevin, melirik ke arah Siska yang memang sangat dewasa dan mempesona. Merasa diperhatikan, Siska pun menoleh ke arah samping dimana Kevin duduk. Pandangan mereka bertemu dan saling tersenyum.


"Cie." Seru yang lainnya dengan kompak.


Siska langsung memeluk Aiyla karena malu, sore itu mereka berkumpul membahas rencana kedepannya setelah diwisuda.


Di luar rumah, Louis yang mendengar keriuhan didalam merasa sungkan untuk masuk. Tapi dia pun sangat rindu pada sang anak, pesan masuk dari Saras pun diabaikan.


[Mas, kamu dimana? Cepat pulang!] 


Louis menghela napas dengan pelan, membaca pesan dari Saras. Dia pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah Yurika, dengan membawa bingkisan berupa buah dan makanan kesukaan Elang. Louis mulai turun dari mobil, dan melangkah pasti memasuki halaman rumah tersebut.


Anisa yang akan membuang sampah menatap Louis, dan menghampirinya.


"Tuan Louis," sapa Anisa.


"Anisa, kamu masih bekerja disini?" tanya Louis.


"Iya Tuan, saya masih bekerja bersama dengan nyonya Yurika. Tak sekali pun meninggalkannya," kata Anisa.


"Oh, saya ingin menjenguk Elang." 


Anisa membawa barang yang dibawa oleh Louis sebagian, lalu mengikuti langkah Louis yang menurutnya terasa sungkan. Setibanya di dalam, suasana ramai pun menjadi hening seketika. Membuat Louis canggung, dia tersenyum dan menyapa semua orang termasuk Harika. Namun, fokusnya justru pada Yurika yang menurutnya semakin cantik saja. 


****


Dengan langkah pasti Bara berjalan menuju rumah Kamila, kedatangan Bara menjadikan bahan gosip bagi ibu-ibu kompleks rumah Kamila. Yang memang tak ada orang tua di rumahnya, mereka tak tahu saja jika Falisha ada dirumah Kamila.


Gedoran pintu membuat Kamila terperanjat, dia yang sedang rebahan di ruang tengah pun langsung bangun dan memasang telinga memastikan ketukan di pintu. Yang lambat laun, menjadi cepat.


"Astaga, siapa sih!" kesal Kamila, dia beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu.


"Sebentar, sebentar." Teriaknya.


"Ka-Kak Bara," pekik Kamila, saat pintu terbuka. Bara dengan tatapan tajam, dengan wajah dinginnya membuat Kamila menjadi ciut seketika. Falisha meminta dirinya untuk berbohong, jika ada yang mencarinya tapi jika Bara yang mencari Falisha. Dia bisa apa? Yang ada dia juga yang habis.


"Masuk kak." Kamila membuka pintu lebar. Namun, Bara malah menatapnya dengan tatapan tajam. Membuat punggung Kamila, panas seketika seolah api amarah tembus ke punggungnya.


"Dimana Falisha?" tanya Bara, tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Falisha ... Itu, anu Falisha di rumah Mila." Cicit Kamila dengan gugup.


"Jangan bohong, Kamila. Dimana Falisha?"


Kamila ingin menjawab, tapi dia tak bisa mengkhianati kepercayaan Falisha. Walau Falisha sudah membuatnya lelah.


"Kamila ... Sekali lagi, saya tanya dimana. Falisha?" ucap Bara penuh penekanan.


Kamila memejamkan mata, meminta maaf pada Falisha dalam hati.


"Kamila, kamu tidak ingin terjadi sesuatu pada orang tuamu kan?" Kini Bara sudah mulai mengancam.


"Tidak kak, jangan apa-apain orang tua ku. Mereka tak tahu apa pun," sahut Kamila dengan cepat.


"Baiklah katakan, dimana Falisha!"


"Di kamar," jawab Kamila. "dia di kamarku, sedang tidur."


Bara mengangguk, lalu memerintahkan anak buahnya untuk membawa Falisha turun. Dengan izin Kamila, mereka masuk ke dalam kamar Kamila dan membawa paksa Falisha walau sedang terlelap.


Kamila melihat Falisha yang masih tidur, dia jadi curiga jika Falisha di bius. 


"Kak, Falisha gak apa-apa kan?" tanya Kamila, mendadak dia lupa jika Falisha agak sudah bangun.


"Dia baik-baik saja, kamu jangan khawatir." Kata Bara, lalu pergi dari kediaman Kamila.


Para tetangga pun membubarkan diri, setelah tahu bahwa lelaki tersebut adalah kakak dari temannya Kamila. Kamila membuang nafasnya dengan lega, akhirnya Falisha pergi dari rumahnya.


"Maafin gue, Fali." Gumam Kamila, dia buru-buru menutup pintu dan memutuskan untuk pergi dari rumah.


Falisha sendiri, dia di bawa ka apartemen milik Bara. Di pertengahan jalan, Falisha tersadar karena guncangan.


"Dimana ini?" ucapnya dengan suara, khas bangun tidur.


"Kamila," panggil Falisha. "ada gempa, ya?"


Setelah nyawanya terkumpul, Falisha tersadar bahwa dia tak lagi di kamar Kamila. Melainkan di dalam mobil, lalu dia menatap ke samping dimana Bara sedang menatap tajam dirinya.


Falisha pun langsung mundur. Namun, terhalang pintu mobil dia tak bisa keluar karena mobil melaju dengan cepat.


"Kak Bara..."

__ADS_1


bersambung ...


Maaf typo 💕


__ADS_2