
Pukul lima sore, Elang sudah tiba di rumah Yurika. Dia melihat Aiyla yang sedang sibuk menyiapkan makan malam, di bantu Anisa. Padahal Anisa sudah meminta, Aiyla untuk istirahat saja.
"Mas Elang," sapa Anisa.
"Mbak," jawab Elang tersenyum. Namun, Aiyla malah fokus dengan makanan yang sedang dia buat.
"Aiyla masak apa, mbak?" tanya Elang.
"Katanya, spesial buat Mas Elang." Bisik Anisa, membuat Elang mengangguk.
"Dimana Mama?"
"Nyonya sedang istirahat."
"Baiklah, mbak boleh ke belakang. Biar ini sama aku aja," ujar Elang mengedipkan mata, membuat Anisa tertawa paham maksud Elang.
Setelah Anisa tak terlihat, Elang melangkah mendekati Aiyla lalu memeluk sang istri dari belakang.
"Elang," desis Aiyla terkejut.
"Iya aku suami mu, siapa lagi memang." Elang mengecup leher Aiyla, yang terlihat karena Aiyla mengikat rambutnya.
"Ihh, awas malu sama mbak Anisa." Omel Aiyla.
"Tenang aja, mbak Anisa udah aku suruh masuk ke kamar. Karena aku rindu kepada istriku," bisik Elang, berupa hembusan membuat Aiyla merinding.
"Awas ahh, nanti Mama, Papa atau Salsa lihat." Aiyla berusaha melepaskan diri dari Elang. Namun, pelukan Elang malah semakin erat.
"Kak Elang," pekik Salsa tertawa.
"Astaga." Keluh Elang sementara Aiyla tertawa, dengan terpaksa Elang melepaskan pelukannya dari Aiyla. Dan menghampiri sang adik, yang sudah lama tak diajak main. Karena kesibukannya di perusahaan Ayah mertuanya.
"Hai cantik." Elang memeluk Salsa, dan mencium pipi sang adik.
"Aku kangen sama kak Elang, tapi kakak jarang kesini."
"Maaf yah, kakak sibuk. Cari uang buat bikin rumah," jelas Elang.
__ADS_1
"Kakak janji, minggu depan kita jalan-jalan oke!"
"Oke, janji tapi yah?"
"Siap." Kekeh Elang.
Elang dan Salsa bermain bersama, karena menunggu Aiyla beres memasak. Setelah selesai masak, Aiyla dan Elang menuju kamar Elang.
Sementara itu, Siska menjadi pendiam setelah bertemu dengan Aiyla. Dia penasaran, apakah Aiyla sudah memberitahu Kevin atau belum?
"Huh!"
"Jangan bermimpi Sis, pernikahan lo tinggal di depan mata. Apa yang lo harapkan?" Kekeh Siska, menghapus air matanya. Menatap foto Ibunya dengan lama, lalu mengusap foto tersebut.
"Maafkan aku Bun, aku gak bisa jaga. Apa yang seharusnya jadi milik aku," lirih Siska.
****
Keesokan harinya kabar pertunangan Kevin dengan Eliza, sampai juga pada Siska. Membuat Siska tersenyum miris, saat dirinya berharap pada Kevin. Namun, lelaki tersebut malah akan menjadi milik orang lain.
"Apa yang lo, harapin Sis? Bangun, bangun jangan bermimpi terus." Lirihnya, bahkan pertunangan itu disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi. Juga sosial media, karena Eliza merupakan salah satu selebgram yang sangat populer.
"Iya lah, cantik dan tampan. Juga sama-sama orang berada."
Mereka pun terus membicarakan Kevin dan Eliza, membuat Aiyla sangat panas. Ingin rasanya dia mengusir mereka, tapi mereka juga pelanggan cafe tersebut.
"Sabar Aiyla, sabar. Jangan gegabah,"
"Aku harus hubungi Elang," kata Aiyla.
Elang sendiri tentu terkejut dengan semuanya, dia tidak tahu bahwa Kevin akan bertunangan secepat itu. Aiyla pun tidak memberitahu Elang, karena semalam mereka langsung terlelap.
Elang meminta Raka, Reno dan Daffa berkumpul di Moon cafe. Saat jam makan siang, karena menyangkut perasaan seseorang.
"Siap," sahut mereka kompak, mereka kesal karena Kevin tidak menganggap mereka sahabat karena, dia tak memberitahu tentang pertunangannya dengan Eliza.
Jam makan siang, Elang dan yang lainnya tengah serius menatap video dimana pertemuan Kevin dengan keluarga Eliza.
__ADS_1
"Kayanya Kevin terpaksa," ucap Daffa, menunjukan raut wajah yang datar dan dingin. Bahkan Kevin hanya menyahut seadanya saja.
"Lalu apa rencana, kita sekarang?" tanya Raka.
"Apa akan tetap, melanjutkan rencana yang kemarin?" sela Daffa.
"Kita lanjutkan saja rencana kita, untuk menculik Siska. Di hari pernikahannya, sedangkan untuk Kevin kita biarkan saja dulu." Tutur Elang, di jawab anggukan oleh yang lain.
Pesta pertunangan Kevin dan Eliza di laksanakan, pada malam hari disalah satu hotel ternama. Kevin mengundang seluruh sahabatnya. Namun, tak ada yang datang dari mereka.
"Gue ngerasa sendiri," gumamnya dalam hati.
Menatap sekeliling tak ada yang dia kenal, selain kerabat juga para karyawan. Kevin sangat merindukan Elang, Reno, Raka dan Daffa.
Kevin berharap salah satu dari mereka akan ada yang datang, sayang sampai acara selesai. Semua sahabatnya tak ada yang menunjukan, batang hidung mereka sama sekali.
Kevin memejamkan mata, menerima semua ini. Demi kedua orang tuanya, demi perusahaan mereka yang dalam kesulitan.
***
Beberapa hari berlalu, hari pernikahan Siska dan Aji pun tiba. Mereka akan melakukan pernikahan di salah satu gedung, yang tak jauh dari rumah Siska. Miris? Tentu saja, bahkan keluarga Aji hanya menyewa gedung yang biasa saja.
Mereka selalu beralasan untuk menghemat, agar uangnya ada untuk masa depan mereka.
Pintu terbuka, Lesmana menatap sang anak yang sebentar lagi akan jadi milik orang lain. Siska sangat mirip dengan istrinya yang sudah tiada.
"Sayang," sapa Lesmana. Namun, Siska tak menanggapi sapaan sang Ayah. Bahkan wajahnya datar dan dingin, senyum di wajah manisnya hilang begitu saja.
Seingat Lesmana, Siska adalah gadis riang juga sangat cerewet. Tapi akhir-akhir ini dia menjadi lebih diam dan juga terlihat sedih.
"Hari ini, kamu akan menikah. Menjadi milik suamimu, patuhilah suamimu nak! Bagaimanapun, kamu adalah tanggung jawabnya." Pungkas Lesmana, Siska hanya mengangguk sebagai jawaban.
Lesmana mengelus puncak kepala Siska untuk pertama kalinya, setelah beberapa tahun berlalu. Gadis kecilnya, kini sudah akan menjadi milik orang lain.
"Semoga kamu bahagia, selalu nak! Ayah sayang kamu," ucap Lesmana, lalu pergi meninggalkan kamar sang anak.
Mata Siska sudah berkaca-kaca, ingin sekali rasanya dia memeluk sang ayah dengan erat. Dan mengatakan dia sangat menyayangi ayahnya tersebut, kebahagiaan yang tak pernah berpihak padanya setelah kepergian sang Ibu.
__ADS_1
Semoga suka
Maaf typo