Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.49


__ADS_3

Siska terbangun dari tidurnya, cukup lama dia terlelap. Bahkan Hasan dan Tari tak tega membangunkannya, Siska menggeliat menatap sekeliling. Tempat asing yang tak dikenali, ingatannya berputar pada saat dia akan menikah lalu adanya tawuran dan tak ingat lagi apa yang terjadi.


"Dimana ini?" gumamnya dia sangat pusing sekali, dia duduk di sisi ranjang menatap sekeliling dan memutuskan untuk melihat ke luar jendela.


Pemandangan yang indah dengan kebun teh di sekelilingnya, Siska mulai berpikir siapa yang membawanya kesini? Lalu bagaimana dengan pernikahannya?


"Ah ... Sudahlah, biarkan saja. Jika batal toh bagus untukku," gumamnya, dia pun ingin mengganti kebaya yang di pakai dengan baju. Namun, tak ada baju satu pun di tempat tersebut.


Sisak sendiri memutuskan untuk keluar dari kamar, tak ada siapapun di villa tersebut. Membuat Siska bingung akan melakukan apa? Dia duduk di meja makan, yang sudah tersaji menu makan siang yang terlewat.


"Lapar," keluhnya, ingin mengambil tapi takut dimarahi oleh pemilik villa dan dianggap tak sopan.


"Non, akhirnya si Non udah bangun." Ucap Tari, membuat Siska menoleh dan terkejut.


"Maaf saya ... Saya haus dan lapar," katanya, Siska sudah memakan pisang dan minum saja.


"Tidak apa-apa non, itu semua memang untuk non Siska." Ungkap Tari, membuat Siska semakin bingung.


"Maksudnya?"


"Maksudnya bibi, makanan ini semua buat makan siang non Siska." 


"Oh ya bi, siapa yang bawa saya kesini?"


"Mas Elang, dia temannya non kan?"


"Elang," desis Siska.


"Iya bi, istrinya adalah sahabat saya. Bisakah saya bertemu dengan mereka? Dimana mereka bi?" tanya Siska antusias, dia terharu karena Aiyla membantunya.


"Mereka kembali lagi ke kota non, katanya akhir pekan akan berkunjung." Juju Tari, Siska hanya mengangguk lalu meminta baju pada Tari. 

__ADS_1


Tari pun menunjukan semua baju, yang terdapat di lemari. Elang sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari, Siska merasa terharu dengan bantuan Elang dan Aiyla.


Dia pun memutuskan untuk membersihkan diri, takut Tari dan suaminya menunggu di meja makan. Sepuluh menit kemudian, Siska sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia mengenakan pakaian rumahan, seandainya ada ponsel dia pasti akan menghubungi Aiyla.


"Non, mari makan. Bibi udah angetin makanannya," ajak Tari, dia begitu antusias dengan kedatangan Siska. Karena Tari dan Hasan tidak mempunyai anak sama sekali.


"Ayo Bi, Mang. Kita makan sama-sama," 


"Tidak usah non, kami sudah makan." Tolak Hasan.


"Tidak mang, ayo kita makan bersama. Mungkin akan terasa lebih nikmat," kata Siska.


"Baiklah non, terima kasih." Balas Hasan, mereka pun makan bersama dengan menu masakan khas sunda.


"Enak sekali, masakan bi Tari. Sampe aku nambah ini, bisa-bisa kiloan aku naik lagi," canda Tari, membuat pasangan suami istri tersebut tertawa.


Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia, apalagi bagi Siska bisa merasakan makan dengan kekeluargaan.


***


"Mah, aku mohon. Izinkan aku keluar," pinta Kevin pada Leni.


"Maaf Kevin, mamah harus patuh pada Papah mu."


"Mah..."


"Kevin, setelah menikah mamah harap. Kamu bisa mencintai Eliza," celetuk Leni, karena setiap bertemu dengan Eliza gadis tersebut selalu bercerita bahwa sikap Kevin selalu saja dingin.


Kevin menatap sang Ibu dengan lekat,  dia tak bisa mencintai orang lain. Sementara hatinya tertinggal bersama gadis lain.


"Aku gak bisa Mah, aku gak bisa mencintai dia Mah." Jawab Kevin dengan menunduk.

__ADS_1


"Aku mencintai perempuan lain," ungkap Kevin, membuat Leni mendelik dan menatap sang anak dengan tajam.


"Siapa? Jangan bilang, wanita dewasa itu, yang umurnya seumuran dengan Siska?" tebak Leni, Kevin pun mengangguk membuat Leni menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Vin, mamah rasa jika kalian menikah. Semuanya tak akan berhasil, karena papamu tidak akan merestui hubungan kalian. Kamu tahu kan, perusahaan sedang dalam pailit. Hutang dimana-mana, gaji karyawan belum dibayarkan, cicilan dan yang lainnya. Apa kamu mau hidup di rumah kontrakan, yang harganya bahkan tak sampai satu juta?" tanya Leni, membuat Kevin menggeleng.


"Pikirkanlah nak, masa depan keluarga kita ada di tanganmu." Leni beranjak dari duduknya, meninggalkan Kevin dengan pikirannya sendiri. 


Awalnya dia memberikan usul, untuk meminta bantuan pada perusahaan Adskhan. Namun, gengsi sang ayah terlalu tinggi. Sampai mengorbankan masa depannya.


***


"Elang sayang, kapan kita bertemu Siska?" tanya Aiyla, yang sudah kesekian ribu kalinya.


"Sabar yah, sayang. Aku sibuk pekerjaan lagi banyak-banyaknya," elak Elang, membuat Aiyla cemberut.


"Sebenarnya, dimana Siska?" 


"Dia di Pangalengan sayang, pokoknya mana. Kamu jangan khawatir oke!" Elang menangkup pipi Aiyla, yang terlihat lebih chubby. Bahkan, kini dadanya lebih berisi.


"Apa kamu, hamil sayang?" tanya Elang.


"Entahlah, aku belum tes. Tapi badanku serasa ada yang beda," ungkap Aiyla, yang merasakan perubahan di beberapa titik tubuhnya.


Bahkan kini, nafsu berhubungan dengan Elang semakin tinggi. 


"Baiklah, besok kita periksa. Aku udah gak sabar, dengan kehadiran Elang junior disini." Bisik Elang, mengusap perut rata Aiyla. 


"Aku juga." Aiyla memeluk Elang dengan erat.


bersambung ...

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2