Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.55


__ADS_3

"Lo beruntung Len, bisa di tembak sama Evan. Selain ganteng, kaya pula." Celetuk salah satu teman Leni, mereka sedang berkumpul di taman kampus.


"Tapi dia playboy," sahut yang lain.


"Gak apa playboy, entar juga insaf kok. Yakin deh, biasanya yang kaya gitu suka perhatian dan posesif," 


Leni terdiam dia menjadi dilema setelah menerima Evan, Leni menerima Evan karena bujukan semua teman-temannya. Jadi dia terpaksa menerima Evan.


"Ya sudahlah, lo jalanin aja. Jangan galau toh udah diterima ini," kata Sasa menepuk pundak sang sahabat, yang dia tahu kegalauannya.


Leni hanya tersenyum dan mengangguk, lalu lanjut lagi mengerjakan tugas kuliahnya. Sementara itu di tempat lain, Evan sedang merayakan keberhasilannya mendapatkan salah satu gadis impiannya siapa lagi kalau bukan Leni.


"Ayo-ayo, pesan lagi jangan sungkan." Katanya dengan tertawa.


"Jadi, lo berhasil?" tanya salah satu temannya.


"Iya lah, hebat kan gue." Ujarnya dengan bangga.


"Terus cewek lo mau, dikemanain?" 


"Adalah, gak akan gue kemana-manain. Gue butuh perempuan baik-baik untuk keturunan gue," pungkasnya, membuat semua temannya menggeleng pelan.


Beberapa bulan berlalu hubungan Evan dan Leni mulai serius, bahkan Evan sudah membawa Leni kerumahnya. Tapi, orang tua Leni tidak menyetujui Ivan menjadi pasangan anaknya.


"Papa dan Mama gak setuju, Len. Dia kelihatannya gak tulus," kata sang Ibu bernama Venya.


"Tapi Ma, Pa. Dia baik sama aku, aku juga udah mulai nyaman dan cinta sama dia."


Venya dan Irfan saling pandang, mereka tak mungkin mengatakan fakta yang sebenarnya tentang Evan. Anak mereka sudah dibutakan oleh cinta.


"Baiklah kalau begitu, percuma Papa larang kamu. Kalian boleh berpacaran tapi tidak untuk menikah," kata Irfan dengan tegas.


"Tapi, Pa mas Evan sudah melamarku." 


"Apa? Melamar?" pekik Irfan, dijawab anggukan oleh Leni.


"Kamu itu bodoh atau bagaimana, Leni? Seharusnya kamu menanyakan terlebih dulu sama Papa dan Mama," bentak Irfan.


"Maafkan aku Pa, aku tidak mau membuatnya kecewa. Apalagi orang tua Evan menyukaiku,"


"Putuskan dia sekarang juga," perintah Irfan.


"Maaf Pa, aku gak bisa." Leni menggeleng, lalu pergi meninggalkan ruang tersebut.

__ADS_1


"Leni berhenti kamu, mau kemana? Leni," teriak Irfan, tiba-tiba dia mengalami sesak di dadanya. Membuat Vanya panik, dan meminta supir untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Kabar Irfan masuk kerumah sakit sampai pada Leni, dia ingin menemui sang ayah. Namun, Evan tak mengizinkannya.


"Tapi Mas, Papa sakit aku harus menemuinya." Kata Leni.


"Tidak aku perintahkan kamu, untuk tidak pergi. Atau aku yang pergi Len, biarkan saja anak itu tidak memiliki ayah sekalian." Tutur Evan, keluar dari kamar dan membiarkan Leni sendiri.


Alasan Leni menerima Evan adalah, karena dia sudah hamil. Evan dengan bujuk rayunya berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, berkali-kali mereka melakukan itu sampai Leni hamil. Dia tak berani untuk memberitahu, Irfan karena takut Irfan murka juga menyuruhnya menggugurkan kandungannya.


"Maafkan aku Pa," lirih Leni terisak, sejak saat itu Irfan dan Vanya sepakat untuk menghapus Leni dari daftar waris mereka. Dan semuanya diberikan pada adik laki-laki Leni bernama Lauren.


****


Lamunan Leni buyar oleh notifikasi pesan dari Eliza, wanita yang tak muda lagi itu menghembuskan napasnya dengan pelan. Bosan rasanya dia terus menerima laporan bahwa Kevin bersikap dingin padanya.


Sebenarnya Leni tak ingin menjodohkan sang anak, dia ingin Kevin mendapatkan cintanya sendiri. 


"Maafkan Ibu, Vin. Ini salah Ibu, harusnya dulu Ibu pergi dari Papa mu," lirihnya.


Ingin kembali ke keluarganya dia malu, karena terakhir dia menemui sang Ayah. Leni diusir oleh Lauren dan diminta untuk tak menemui keluarga mereka lagi.


"Mbak Len, sudah bukan bagian dari keluarga Hakim lagi. Mulai dari mbak menentang Papa," cetus sang adik.


"Lau, pliss izinin mbak ketemu Papa. Mbak rindu," katanya memohon.


"Maafkan Mbak, Lau."


"Sudahlah pergi dari sini," usirnya, Leni dan Kevin kecil saat itu pun terpaksa harus pergi dari rumah masa kecilnya.


Kevin pulang dengan wajah masam, menatap sang Ibu yang sedang menikmati minumannya.


"Dimana Papa?" tanya Kevin.


"Belum pulang," jawab Leni.


Kevin mendudukkan diri di dekat Leni, dia menatap lekat wajah cantik Ibunya. Walau sudah memasuki usia 40an.


"Ibu," panggil Kevin.


"Vin, jika kamu mau membatalkan perjodohan ini. Ibu mohon jangan lakukan itu nak! Apa kamu mau, kita terusir dari rumah ini dan hidup di rumah kontrakan?"


Kevin sebenarnya bisa saja tinggal di tempat biasa saja, tapi tidak dengan Ibunya. Kevin yakin jika Leni tidak bisa dibawa susah.

__ADS_1


"Tapi Bu, kita bisa meminta bantuan Om Adskhan." Kata Kevin, mencoba membujuk Leni agar mau menerima bantuan Adskhan.


"Papa mu, tidak akan setuju Kevin." Lirih Leni.


Kevin mengangguk, usahanya sia-sia untuk membujuk sang Ibu. Dia pergi dari ruangan tersebut menuju kamarnya, Leni menatap punggung sang anak. Dia bertahan sejauh ini hanya untuk Kevin demi anak semata wayangnya, tanpa Leni tahu, Evan sudah memiliki dua anak lain dari selingkuhannya.


Di kamar, Kevin termenung menatap foto dirinya juga sahabat-sahabatnya. Kebersamaan, kekompakan, juga solidaritas mereka sangatlah tinggi. Kevin merindukan mereka, terutama Daffa dan Elang.


"Elang, gue harus minta bantuan lo. Lang," gumam Kevin.


****


"Sayang, kapan kamu kasih uang, aku?" tanya Nana dengan manja.


"Sabar yah sayang, usaha ku lagi sepi." Kata Evan, akhir-akhir ini dia menghabiskan waktu di rumah Nana. Lalu besoknya dia akan pergi ke rumah, istri sirinya Angel dan menghabiskan waktu bersama kedua anak perempuannya.


Nana mengerucutkan bibirnya, lalu bermanja pada Evan. Sugar Daddy Nana beberapa bulan terakhir.


Angel juga tidak mengetahui tentang Evan, yang suka main perempuan. Dia mengira Evan sedang berada di rumah Leni.


Keesokan paginya Evan memutuskan untuk pulang kerumah, sebelum nanti malam akan menginap ke rumah istri keduanya.


"Dari mana saja?" tanya Leni dengan dingin, saat Evan masuk kedalam kamar.


"Kerja."


"Kerja? Kerja apa, yang bahkan pulang pun pagi. Kamu pemilik perusahaan itu, tapi seperti kamu bawahannya." Teriak Leni, habis sudah kesabarannya. Setelah mendapatkan bukti suaminya sering pergi atau kencan dengan daun muda.


"Jangan berteriak di hadapanku, Leni." Bentak Evan, membuat Leni terdiam selama ini memang dia acuh tak pernah bertanya. Bentakan Evan membuatnya sakit seperti di tusuk oleh ribuan pisau.


"Aku bekerja keras, agar perusahaan yang aku bangun dari nol tidak bangkrut. Agar anakmu, dapat hidup sejahtera." Papar Evan.


"Sejahtera? Anakku tersiksa akan perjodohan ini Evan, dia meminta aku untuk memaksamu menerima tawaran Adskhan."


"Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerima tawaran Adskhan. Seribu kali Kevin meminta, aku akan tetap menolak!" tegas Evan.


Dia menghampiri Leni, dan mencengkram wajahnya.


"Menurut lah, Leni. Jadi istri yang baik dan penurut, kamu tidak punya siapa-siapa lagi selain aku dan anak haram mu itu. Keluarga Hakim sudah tak mengakui mu," pungkas Evan, menghempaskan wajah sang istri yang sudah menemaninya dari nol.


Tangis Leni pecah setelah Evan keluar dari kamar, dia sakit bukan karena kekerasan. Dia sakit karena anaknya disebut anak haram, oleh ayah biologisnya sendiri.


"Dia anakmu Evan, tapi kenapa kamu mencibirnya? Dia ada karena kesalahan aku yang bodoh, mau menerima cintamu. Harusnya aku mendengarkan ucapan orang tua ku, bahwa kamu tak baik." Leni menangis tersedu-sedu, tak ada sandaran baginya.

__ADS_1


Bersambung ...


Maaf typo


__ADS_2