
Masih pada hari yang sama dengan bertemunya Anum dan Adnan kembali bertemu.
Adnan kembali menghela nafas untuk meredam emosinya, ia tau ini sulit di percaya oleh siapapun, termasuk Anum.
Tapi ada rasa khawatir yang berlebih saat ia tau Anum sakit seperti ini, Adnan juga ingin ia menjadi orang pertama yang tau keadaan Anum saat kondisi sulitnya seperti ini, rasanya sedikit nyeri saat Anum dengan tidak pekanya bertanya mengapa ia harus selalu tau keadaan Anum. Seolah menegaskan bahwa mereka bukan siapa-siapa dan tidak pernah terjadi apa-apa.
“Kenapa kamu sulit sekali mengerti Num, aku khawatir padamu, aku ingin menjadi orang pertama yang kamu hampiri saat kamu kesulitan atau apapun itu” Adnan lega saat serangkaian kalimat itu meluncur dari mulutnya dengan lugas.
“Maaf, jika perkataanku menyinggungmu Mas, tapi untuk apa Mas ingin menjadi orang pertama yang kuberitau apa yang terjadi padaku?” lagi, Adnan menghela nafasnya.
“Ya, karena aku ingin tau” Anum mengernyit heran, hanya ingin tau? Jika begitu dia sudah tau bukan? Lalu masalahnya apa? Heran Anum.
“Sekarang Mas sudah tau, lalu apa?” Adnan berdiri dari duduknya dan meraup wajahnya kasar, ia sekarang seperti kebingungan bagaimana cara menjelaskan pada Anum tentang apa yang ia rasakan.
“Anum, kalau kamu berkenan aku ingin membicarakan sesuatu denganmu”
“Silahkan Mas”
“Sepertinya aku butuh suasana yang nyaman untuk berbicara bersamamu, bolehkah kita keluar sebentar?”
“Baiklah”
Adnan pergi meninggalkan Anum untuk mengambil kursi roda, meski kebingungan akhirnya Anum pasrah saja saat suster yang diutus Adnan membantunya duduk di kursi roda.
Adnan mendorong kursi roda itu, Anum hanya diam, jika hanya ingin bicara mengapa harus keluar? Rasa penasaran bersarang dalam benak Anum.
Mereka duduk di sebuah kursi taman, dengan Anum yang tetap berada di kursi rodanya. Ada banyak anak-anak yang bermain bersama di taman ini. Tawa mereka riang sekali saat berhasil mengerjai salah satu teman mereka.
Hal itu membuat Anum yang sejak dari tadi diam ikut tertawa, hingga membuat Adnan menoleh ke sampingnya, memandang Anum.
__ADS_1
Sadar ada yang memperhatikan, Anum menoleh ke arah Adnan, membuat mereka kini saling tatap.
“MashaAllah, mereka lucu sekali Mas” celoteh Anum di sela tawanya, tak ayal Adnan juga tertawa, bukan karena anak-anak itu, tapi karena ia bahagia melihat Anum yang sudah bisa tertawa ria.
“Aku tidak kalah lucu dari mereka, Anum” mata Anum membola, ia tak pernah menyangka bahwa Adnan memiliki sifat percaya diri se akut ini, laki-laki yang macho dengan wajah yang, emm, tegas dan tampan? Mengaku bahwa ia lucu?
“Memangnya Mas sudah beralih profesi sebagai pelawak sekarang?” kini Adnan menganga tak percaya, bukan itu maksudnya?! Adnan berdecih sebal membuat Anum tertawa lebih kencang dari sebelumnya.
“Anum, aku suka melihatmu tertawa lepas seperti ini” ucap Adnan tiba-tiba, tawa Anum hilang terbawa angin yang kini terasa lebih dingin dari biasanya, Anum gugup.
“Aku tidak suka melihatmu kesusahan, aku tidak suka melihatmu ketakutan, dan, aku tidak suka melihatmu sedih” Anum kembali menatap Adnan, mencari kebohongan disana, nihil.
“Aku suka cara pikirmu, tingkah lakumu, kelembutanmu, kasih sayangmu, aku suka semuanya, asal itu kamu, Anum Azizah” Anum masih diam, mencerna kata-kata lelaki di hadapannya ini dengan cermat.
Hati Anum berkata bahwa Adnan hendak menyatakan cintanya, namun logikanya mengatakan bahwa mungkin saja itu hanya sebatas rasa suka.
“Aku tau ini terlalu cepat, tapi, bolehkah hanya aku satu-satunya yang bisa menggenggam tanganmu seperti tadi” mata Anum mengerjap pelan.
Anum hanya bisa tertawa jika bersama seseorang yang ia kenal, lelaki yang ia kenal selain Adnan hanya mas Faisal, tunangan Husna. Hanya bercanda sekedarnya, tidak berlebihan, karena keduanya tau batasan mereka.
“Aku buta terhadap perasaanku sendiri, Anum” Anum mengalihkan pandangan ke depan, menatap Adnan terlalu lama tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
“Sampai akhirnya aku sadar bahwa hadirmu sudah bagaikan segalanya untukku” Anum menunduk, Adnan yang melihat Anum terdiam sejak tadi bangkit dari duduknya dan berlutut di depan kursi roda Anum.
Anum mengangkat wajahnya, menatap Adnan yang berada di hadapannya dengan sendu.
“Bolehkah jika hanya aku yang bisa berdampingan denganmu” Anum tau maksud pria ini, hatinya nyeri, kenapa harus sekarang? Saat ia sudah tau memiliki kekurangan? Matanya berkaca-kaca.
“Tolong berikan aku ijin agar bisa melindungimu secara halal, hidup bersama hingga ajal memisahkan?” Anum berkedip, membuat buliran itu luruh.
__ADS_1
Tangan Adnan sudah gatal untuk menghapusnya, tapi ia sadar, jika mereka masih memiliki batasan.
“Bolehkah, Anum?” tanya Adnan sedikit menuntut.
“Masih banyak wanita yang sebanding dengan Mas dari pada aku” jawab Anum lirih, tapi Adnan dapat dengan jelas mendengarnya.
Wajahnya pias, ia ditolak kah?
“Aku tidak mau dengan mereka, aku hanya mau kamu” ucap Adnan menahan getir.
“Karena hanya kamu yang mampu mengahadapi manusia rumit seperti ku, hanya kamu yang memiliki kesabaran itu, Anum”
Ada rasa senang dalam hati Anum mendengar itu, tapi kenyataan kembali melemparnya pada fakta pahit. Bahwa dirinya tak ada apa-apanya dengan Adnan, ia dan penyakitnya hanya akan membuat Adnan susah jika mereka menikah nanti.
“Kesabaranmu ini tidak dimiliki wanita manapun yang pernah ku temui Anum” Adnan mengatakan itu dengan lembut, Anum tersipu, rona merah yang muncul di pipinya membuat wajah ayunya semakin manis.
“Aku juga ingin anak-anakku memiliki ibu yang hebat sepertimu” jantung Anum semakin tidak bisa dikondisikan, di tambah seperti ada ribuan kupu-kupu yang terasa berterbangan di perutnya membuat ia semakin tak bisa berkata-kata.
“Aku hanya manusia biasa Mas, aku juga punya banyak kekurangan, terlebih lagi aku anak panti, tidak jelas asal usulnya” ucap Anum dengan menunduk, mengungkapkan hal yang selalu membuatnya rendah.
“Mungkin saja kedua orang tua Mas Adnan sudah memiliki calon yang sepadan, karena sudah dapat dipastikan aku bukan orang berada” tambah Anum menyuarakan kepiluannya.
“Lalu apa yang salah dengan itu Anum?”
“Semua orang tua pasti ingin anaknya berjodoh dengan seseorang yang jelas bibit, bebet dan bobotnya, tak terkecuali orang tua Mas Adnan”
“Lupakan soal itu Anum, raba hatimu, kenali perasaanmu, apa tidak bisakah kamu membalas perasaanku yang sudah terlebih dahulu bertaut padamu?” ujar Adnan dengan tulus.
Anum menatap Adnan sekilas, namun kembali menunduk “Aku tidak tau Mas”
__ADS_1
TBC