
Anum merasa kalah, meski ini terjadi diluar kendalinya. Ia hanya bisa menatap kosong dinding rumah sakit, tadi pagi, ia kehilangan bayinya yang sudah berumur 7 bulan.
Yang ada di benaknya kali ini hanya bagaimana ia akan menjelaskan semuanya pada sang suami, ia merasa buruk sebagai seorang ibu juga sebagai istri.
Anum menangis dalam diam, bagaimana perasaan Adnan saat mengetahui buah cinta mereka sudah pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Baru saja kemarin Anum merasakan tendangan-tendangan kecil dari dalam perutnya. Seakan si bayi memberi salam perpisahan pada ibunya. Kembali ia meraba perutnya yang kini kosong, hatinya kembali hancur, tidak bisakah dia saja yang pergi jangan anaknya yang sama sekali belum merasakan kasih sayangnya.
Remasan lembut pada tangannya membuat Anum kembali pada kenyataan yang teramat sangat ia benci.
Adnan, dia datang dengan wajah sendu, bukan hanya anaknya yang kehilangan hak hidup, tapi anum merasa telah menghancurkan hati seorang ayah juga.
Rasa bersalah itu kembali membuatnya sesak! Adnan memeluk tubuh lemah istrinya yang menurut info dari Husna baru sadar pasca operasi itu. Keduanya menangis menumpahkan kesedihan yang teramat dalam.
“Dia sudah pergi Mas, aku gagal menjadi ibu, aku membuatmu tidak jadi menyandang gelar ayah, ma-maaf” ucap Anum disela tangisnya, seketika Adnan mengurai pelukan mereka, wajah sembab Anum membuat Adnan tau Anum sudah banyak menangis hari ini.
Adnan menggeleng, tidak ada yang bisa disalahkan dari kejadian ini, Adnan pun tau betul istrinya ini sudah memberikan yang terbaik untuk bayi mereka, tapi apa mau dikata takdir lebih menyayangi bayi mereka.
“Jangan salahkan diri kamu sendiri, kamu juga sama sedihnya denganku kan? kita semua sedang berduka”
Ibu jari Adnan bergerak menghapus air mata yang kali ini kembali meluncur dari pelupuk mata Anum.
“Sabar sayang” hanya itu yang bisa Adnan ucapkan, situasi ini membuatnya terkejut.
“Maaf Mas” ucap Anum dengan penuh sesal, Adnan membawa istrinya ke dalam pelukan lagi, mereka menyalurkan kekuatan untuk satu sama lain.
__ADS_1
Adnan terpuruk. Selama hamil ia hampir bisa dihitung jari berada di samping istrinya, ia juga merasa bersalah disini.
Setelah itu, tidak ada percakapan diantara mereka, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing yang masih tidak menyangka hal ini akan terjadi. Hingga Adnan melihat Anum yang tertidur dalam pelukannya.
Diamatinya wajah sang istri, Adnan yakin, Anum yang paling terluka akan kehilangan ini, setiap harinya Anum selalu mengirimi berbagai perkembangan bayi yang bersemayam dalam rahim Anum beserta celotehan bahagia Anum yang menjadi semangat baru bagi Adnan.
Terkahir kali Anum mengatakan bahwa bayi mereka aktif menendang dalam perutnya, saat itu Adnan masih berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.
Sebenarnya, Adnan tidak pernah mau berjauhan dengan sang istri apalagi saat Anum dalam kondisi berbadan dua, tapi Anum selalu mengingatkannya pada tanggung jawabnya sebagai pimpinan dan nasib jutaan orang yang mencari nafkah bersamanya.
Mau tak mau Adnan harus pergi, karena jika tidak, Anum tidak akan mau berbicara dengannya, tapi di sini ia jadi seperti suami yang menelantarkan istrinya sendiri, hingga sang bayi jadi benci dan meninggalkannya.
Padahal ia sangat ingin merasakan tendangan bayinya seperti yang Anum rasakan.
Anum bergerak karena posisi yang kurang nyaman, Adnan yang menyadari itu segera membenarkan posisinya agar Anum kembali tidur dengan nyaman.
Ia juga menyesali ketidakpekaannya pada kondisi istrinya sendiri, rasanya mengetahui emua saat sudah kehilangan itu sangat menyakitkan.
Tepukan di bahunya membuatnya tersadar “Sabar ya Nak” Adnan segera menghapus air matanya dengan kasar, ia bangkit dan menyalami Bu Halima yang sepertinya baru saja datang.
“Segala yang hidup pasti akan kembali, Nak, jangan bicara tentang apa penyebab kehilangan ini terjadi, ambil hikmahnya, sedih wajar, tapi kecewa yang berlarut-larut jangan, itu hanya akan menggerus iman kita dengan mempertanyakan takdir yang Allah putuskan untuk kita” ucap Bu Halimah dengan lembut, Adnan mengangguk singkat mendengar petuah dari Bu Halimah.
Adnan selalu merasa tentram saat berbicara dengan beliau, sekarang Adnan tau dari mana sifat lemah lembut Anum didapatkan, meski tidak memiliki hubungan darah, lingkungan yang berisi orang-orang baik seperti inilah yang membuat karakter lembut dan penuh kasih Anum terbentuk.
Bu Halimah duduk di hadapan Adnan, disaat semua orang akan saling tuduh saat momen seperti ini terjadi, tapi tidak dengan Bu Halimah, beliau terlalu percaya bahwa segala yang terjadi itu yang terbaik.
__ADS_1
“Kamu sedih karena Anum ya?”
“Iya bu, saya sebagai suami kurang perhatian pada Anum hingga kecolongan seperti ini saat Anum sangat butuh dukungan saya di masa-masa sulitnya sebelum akhirnya bayi kami pergi meninggakan kami untuk selama-lamanya” Bu Halimah mengangguk paham, ia tau betul tabiat anak asuhnya yang satu ini.
“Ya, seperti itulah Anum, dia akan menyembunyikan lukanya demi membuat orang disekitarnya nyaman dan tidak mengkhawatirkannya, seperti yang ibu katakan tadi, kita ambil hikmahnya saja”
“Iya bu, terimakasih, ibu sudah datang dan menguatkan kami” Bu Halimah hanya mengangguk dan tersenyum samar kemudian kembali pulang karena sejak kemarin sudah berada di sini menemani Anum sebelum Adnan datang.
“Tolong jangan salahkan Anum yang menyembunyikan semua ini Mas” ucap Husna tiba-tiba.
Adnan hanya menatap sahabat istrinya ini dengan datar.
“Dia seperti itu hanya tidak ingin Mas Adnan khawatir, meski akhirnya menjadi seperti ini, percayalah, Anum selalu mengusahakan yang terbaik untuk Mas Adnan dan bayinya” tambahnya lagi membuat pandangan Adnan beralih pada wanita yang sedang tertidur lelap dihadapannya.
“Tapi apa sebegitu lemahnya saya di mata Anum sampai ia menyembunyikan semuanya, termasuk penyakitnya sendiri?” tanya Adnan lirih.
Husna terkejut, matanya juga menatap Anum, Mas Adnan sudah tau semuanya Num.
“Kamu yang paling dekat dengannya, apa benar dia melihat saya yang tidak bisa diandalkan sampai dia tidak mau berbagi keresahannya dengan saya Husna?” tanya Adnan lagi setelah Husna hanya diam.
Husna menggeleng, “Bukan seperti itu Mas, untuk alasannya itu saya rasa hanya Anum yang bisa mengutarakan pada Mas secara langsung, tapi yang harus Mas Adnan tau, Anum sangatlah mencintai Mas Adnan, sama seperti saya dan Ibu” Husna menjeda kalimatnya, mencoba memberi ruang pada laki-laki yang dicintai sahabatnya untuk memahami kata per kata yang ia ucapkan.
“Rasa cinta itu yang membuat ia tidak mau merepotkan orang yang ia cintai bagaimanapun kesulitan yang ia hadapi” tambah Husna.
Adnan kembali menatap wanita yang ia cintai ini, ‘Kenapa harus sampai seperti ini Num?’
__ADS_1
TBC