
“Pak, saya menemukan kebocoran dana perusahaan” Adnan mengalihkan tatapannya pada Rudi yang baru saja memasuki ruangannya.
“Bagaimana bisa ini terjadi Rud?!” laki-laki berjas hitam itu hanya menunduk, selama bekerja bersama Adnan hal ini baru pertaman kali terjadi, dan jawabannya ia kecolongan.
“Ada banyak manipulasi data Pak, maaf saya kurang teliti”
Brakkkk
Rahang Adnan mengeras, tak pernah menyangka bahwa ada pengkhianat di perusahaannya, ia sadar bahwa ia terlalu percaya pada orang lain, tangan Adnan yang menempel pada meja mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
“Saya tidak mau tau Rud, segera perbaiki ini, pecat semua penghianat perusahaan dan orang-orang yang terlibat” Rudi mengangguk dan pergi, ia memilih memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.
Tubuh Adnan merebah kasar pada kursi kebesarannya, dirinya sungguh lelah, kesibukannya semakin menjadi, masalah satu belum selesai timbul masalah baru.
Matanya tak sengaja bersitatap dengan dua bingkai foto yang sengaja ia simpan di atas meja sebagai penyemangat dirinya saat Adnan sudah teramat lelah dan ingin menyerah.
Wajah terduh Anum dengan kebaya pernikahan mereka yang ia tatap penuh cinta saat foto itu diambil pada pernikahan mereka, juga maternity photo shoot yang sengaja Adnan ambil diam-diam dari album.
Hati Adnan kembali sakit saat mengingat kehilangan itu, saat Adnan tengah sibuk menstabilkan kondisi perusahaan cabang, ia kehilangan calon bayinya.
Belum lagi perusahaan baru yang sedang ia rintis bersama para sahabat, hal itu semakin membuatnya lupa dengan rumah.
Adnan sadar ia sudah sedikit abai dengan sang istri.
Sekarang ia justru mengalami kerugian yang tidak sedikit karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab di perusahaan pusat yang didirikan sang kakek.
Saat Papanya masih ada perusahaan ini stabil, kini mulai mengalami kemunduran saat Adnan yang ambil alih setelah sang Papa tiada, ia tidak bisa membiarkan perusahaan yang sudah turun temurun di jalankan sang Kakek dan mendiang Papanya gulung tikar begitu saja.
‘Sabar ya sayang, setelah semua ini selesai aku akan temanin kamu kemanapun’
Jemarinya mengusap pelan bingkai foto Anum.
Ia sungguh merindukan istrinya, sangat-sangat rindu, baru kemarin ia pulang setelah perjalanan dinasnya, namun sepertinya kali ini ia harus kembali lembur.
Padahal Adnan sadar betul jika istrinya juka masih sering terpuruk, alih-alih menemani, Adnan justru terlihat seperti menjauh.
Berkali-kali Adnan membenturkan kepalanya pada meja, dia merasa sangat brengsek sebagai seorang suami, harusnya ia bersama Anum, harusnya mereka saling menyembuhkan satu sama lain setelah kehilangan itu.
Kepala Adnan terasa berat sekali.
Tok tok tok
Adnan menegakkan kepalanya, ia berusaha menghapus raut sedih yang tadi sempat muncul dalam benaknya.
__ADS_1
“Masuk!”
Pintu itu terbuka dan menampakkan sosok yang tidak Adnan harapkan.
Tanpa diperintah Seno berjalan masuk mendekati Adnan sang keponakan dengan senyuman yang sangat Adnan benci.
“Bagaimana anakku? Kamu masih tidak butuh keluarga untuk menyelesaikan masalahmu?” pancing Seno, tidak mau terpancing Adnan mencoba bersikap biasa, bahkan senyuman mematikan itu sudah terpatri di wajah tampannya.
“Sudah ku duga jika ini semua ulah licik anda” Seno tertawa mendengar itu, dia datang kesini bukan untuk menerima dakwa-an itu, tapi ia harus tetap bersikap tenang menghadapi putra tunggal kakaknya ini.
“Ayolah Adnan, untuk mempermudah ini semua bisakah kamu mundur saja, paman dengar kamu memiliki perusahaan baru bukan? Lakukan pekerjaanmu disana saja” Adnan menyeringai ke arah Seno.
Dibanding Yuda, adik ayahnya yang lain, Senolah yang paling tamak, bahkan diantara tiga bersaudara hanya Seno yang berambisi memiliki segalanya.
“Berhenti Paman, jangan buat aku mengetahui kebusukanmu dengan mudah” tangan Seno mengepal.
“Harusnya setelah orangtuamu tidak ada, akulah yang menduduki kursi itu, bukan kau!” Adnan tertawa, mudah sekali memancing amarah pamannya yang satu ini.
“Karena itulah paman membunuh kedua orang tuaku kan?” tuduh Adnan, Seno menatap keponakannya dengan seriangaian yang mengerikan.
“Aku atau bukan pelaku itu, orangtua mu tidak akan hidup kembali nak, jadi, terima saja nasibmu” tanpa membuang waktu Seno segera pergi meninggalkan Adnan yang sudah terbakar emosi karena umpannya sendiri.
Adnan kembali menggebrak meja meluapkan amarahnya.
Ini yang membuatnya benci dengan keluarga besarnya, Seno yang terus menerus mengusiknya, sementara sang kakek dan pamannya yang lain hanya bisa diam tanpa membantu Adnan sedikitpun.
***
Tangan Anum bergetar hebat memegang testpack yang beberapa waktu lalu telah memunculkan hasilnya.
Positif.
Rasa haru itu tidak bisa lagi ia bendung, anak yang selama ini ia nantikan bersama sang suami kini telah bersemayam dalam rahimnya.
Dengan perlahan ia mengusap perutnya lembut.
Tangannya yang lain sibuk mencari kontak sang suami, Anum terlalu bersemangat hingga ia tidak bisa menunggu nanti.
Tuuuut tuuuuut tuuuuut
Dengan gemas Anum mengetuk-ngetukkan jarinya pada handphone yang memunculkan foto profil Adnan.
Foto Adnan yang tengah memandanginya, tak terasa Anum tersenyum, ia sungguh bersyukur memiliki Adnan dalam hidupnya.
__ADS_1
Panggilan itu berakhir tanpa Adnan sempat menjawabnya.
‘Mungkin belum saatnya Mas Adnan tau’
Dengan senyuman yang tak luntur Anum memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya, namun sebelum itu ia mengambil satu foto Adnan yang berada di atas nakas.
Anum rindu suaminya, tapi ia juga, sadar posisi Adnan yang harus bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya, nasib ribuan orang bergantung pada pundak suaminya.
Karena itu Anum tidak boleh egois.
Sembari memeluk foto sang suami, Anum memejamkan matanya perlahan, besok, ia akan mengabarkan berita gembira ini pada Adnan.
***
Sinar matahari menyinari Anum dari sela-sela tirai kamarnya, dengan sigap Anum terbangun.
Pukul 06.00
Dengan linglung ia mencari keberadaan suaminya, tapi tidak ada.
Kakinya perlahan menyentuh tanah dan bergerak turun, mungkin suaminya disana.
“Mbak.. mau sarapan sekarang?” Anum menggeleng saat hanya rewangnya yang berada di dapur.
“Bibi lihat Mas Adnan tidak?”
“Oooh itu Mbak, Mas Adnan tadi berpesan kalau Mbak nyariin si Mas, Mas Adnan pagi sekali pergi ke kantor, ada meeting penting katanya Mbak” Anum manggut-manggut saja kemudian pamit untuk kembali ke kamarnya dengan perasaan kecewa.
Tangannya kembali mengusap perutnya yang masih datar.
‘Lagi-lagi Mama belum bisa kasih tau Papa tentang kehadiran kamu sayang’
Dengan perasaan berusaha untuk tegar Anum menegakkan badannya di depan kaca, sudut di samping bibirnya ia angkat dengan paksa agar membentuk sebuah senyuman.
Anum tidak boleh lemah bukan?
Adnan pergi untuk bekerja, itu tanggung jawab besar bagi suaminya.
Tidak papa jika harus terabai sebentar demi kepentingan orang banyak.
Anum sepenuhnya sadar, menjadi istri seorang pengusaha besar seperti Adnan harus juga menerima konsekuensi dari segala kemudahan yang ia dapat.
Anum yakin bahwa ia bisa melalui ini semua dengan hati yang lapang.
__ADS_1
Semoga.
TBC