Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 27


__ADS_3

Anum hanya diam melihat Adnan yang masih bungkam sembari menata barang-barang mereka selepas menginap di rumah sakit selama lima hari.


Anum masih diam, lebih tepatnya tidak tau bagaimana harus memulai semuanya, sedangkan suaminya yang biasanya ramai kini dalam posisi hening.


Karena tidak dihiraukan Adnan, Anum memilih keluar kamar, lebih tepatnya ke taman belakang.


Semilir angin membuatnya kembali hanyut dalam kenangan sedih beberapa hari yang lalu.


‘Biasanya kalau sore seperti ini kita berbincang bersama ya nak?’


Anum berusaha sekuat tenaga menahan tangis, nyatanya semua itu gagal, tendangan kecil dari anaknya membuatnya semakin rapat terbalut rindu.


‘Mama kesepian Nak’


Anum meringkuk bak memeluk buah hatinya, dia menangis karena menyadari anaknya sudah tidak ada.


Dari sisi belakang Adnan terdiam, ia menahan diri untuk tidak lari ke arah istrinya dan memeluk tubuh ringkih itu.


Mereka masih saling diam.


Merasa tidak sanggup melihat semuanya, Adnan memilih untuk pergi meninggalkan Anum yang masih hanyut dalam tangisnya, tangan Adnan mengepal, ia benci kondisi ia tidak bisa berbuat apa-apa seperti sekarang.


Adnan memilih pergi ke kamar calon bayi yang sudah mereka siapkan.


Semua barang yang Adnan beli masih utuh di tempatnya, ia duduk berlutut diambang pintu, andai saja bayinya masih hidup, pasti kamar ini sudah ia dekor bersama Anum.


Tapi semuanya tak terjadi.


Air mata pria itu kembali luruh, ia masih belum membahas apapun dengan Anum, keduanya masih memilih menyembuhkan luka mereka sendiri-sendiri.


“Pak, Mbak Anum” ucap Bi Imah dengan tersengal-sengal membuat Adnan menghapus air matanya dan berdiri menghadap Bi Imah yang sangat panik.


“Mbak Anum pingsan” tambahnya saat sudah sedikit bernafas dengan tenang, Adnan berlari ke tempat terakhir ia melihat Anum.


Anum sudah tergeletak di taman belakang, Adnan membopong tubuh Anum yang lebih ringan dari biasanya.


Setelah memastikan istrinya di tempat yang aman, Adnan menelpon Farhat untuk datang ke rumah.


Tak selang berapa lama Farhat datang bersama suster.

__ADS_1


“Untung aja ane ada home visit deket sini Nan” dumelnya sembari memasang manset tensimeter, dan memompanya.


Adnan diam memperhatikan wajah pucat itu, terlihat jejak tangis disana.


“Gimana Far?” tanya Adnan saat melihat sahabatnya itu menggeleng pelan.


“Tekanan darah Anum rendah banget Nan, kalian masih saling diam?!” Adnan tidak menjawab, membuat Farhat dengan sendirinya mengambil kesimpulan.


Lagi-lagi Farhat menghela nafas.


“Ini vitamin untuk Anum, setelah infusnya habis ane harus pergi, tapi sebelum itu, bisa kita bicara berdua?” Adnan mengangguk, setelah menitipkan Anum pada suster, mereka berdua mengasingkan diri ke dalam ruangan Adnan.


“Apaan nih Nan?!” sembur Farhat pada sahabatnya yang kini sudah berhadapan dengannya di ruang yang lebih private dari sebelumnya.


“Apa?” tanya Adnan dengan tidak berdosanya membuat Farhat meraup wajahnya kasar.


“Nyesel Ane kasih tau ente tentang kondisi Anum” Adnan menatap tak suka pada Farhat.


“Apa? Gak terima ente?! Jangan salahin Anum kalau nyembunyiin ini semua, ente kayak anak kecil!” umpatnya, Farhat bukan tidak tau, ia sangat tau, bahwa pasutri yang baru saja kehilangan anak mereka itu sedang perang dingin.


“Terus aku harus gimana Far, aku masih berusaha menerima ini semua dengan ikhlas!”


“Aku marah Far, aku kecewa?! Dia sembunyiin ini dengan rapi, sampai aku sendiri yang suaminya gak tau apa-apa, aku ngerasa gak berguna, kamu paham kan?!” ungkap Adnan mengeluarka semua isi hatinya, Farhat hanya bisa diam, mau memberi saranpun rasanya percuma, Adnan masih dikendalikan emosinya.


“Aku masih cari cara tenangin diriku sendiri Far, aku gak mau meledak-ledak di depan Anum, aku tau dia masih rapuh sekarang”


“Kalau gitu terserah ente Nan, Ane cuman bisa kasih saran, perempuan pasca melahirkan saja bisa terkena syndrom baby blues, mood swingnya parah, ini lagi ditambah bayinya meninggal dalam kandungan, bisa ente coba pikir gimana kacaunya suasana hati Anum sekarang?! Ente jangan minta dipahami terus Nan, sekali-kali peka sama istri sendiri itu juga penting” jelas Farhat membuat Adnan bungkam.


“Bicara sama Anum Nan, jangan kasih dia tembok pembatas dan biarin dia sembuhin luka hatinya sendirian, dia butuh dukungan, secara orangtuanya gak ada, cuman ente satu-satunya yang bisa bikin dia pulih” tambah Farhat.


“Kehilangan itu paling dirasakan oleh kalian, ane pikir ente juga perlu memperkuat bonding antara suami istri, jangan sembuhin diri masing-masing” setelah mengatakan itu, Farhat pergi meninggalkan sahabatnya.


***


Setelah Farhat selesai dengan treatment-nya pada Anum, Adnan memindahkan istrinya ke dalam kamar.


Wajah yang dulunya berseri-seri kini memucat.


Adnan kini telah menyadari kesalahannya.

__ADS_1


Mata indah itu terbuka perlahan.


Anum ingin duduk bersandar saat melihat Adnan di hadapannya. Pria itu dengan telaten membantu istrinya duduk dengan nyaman, tak lupa ia memberikan air putih yang langsung di minum Anum sedikit.


“Apa masih ada yang sakit?” tanya Adnan dengan nada biasa mencoba untuk meruntuhkan egonya.


Anum langsung memegang dadanya, hal itu membuat Adnan panik.


“Hati aku sakit Mas” potong Anum saat Adnan bergerak menelpon seseorang, ia tau ini saatnya berbicara dengan suaminya.


Adnan mengurungkan niatnya yang ingin kembali menelpon Farhat, ia diam menantikan curahan hati istrinya.


“Aku tau kamu marah sama aku kan Mas? Aku tau” lirih Anum dengan berlinangan air mata.


“Mas bukan marah sama Anum, hanya.. kecewa” ucap Adnan membuat Anum memberanikan diri menatap wajah suaminya.


“Ternyata Mas selama ini belum mengenal kamu dengan baik ya Num, kamu rapi sekali menyembunyikan semuanya dari Mas” Anum kembali menangis tanpa suara saat paham arah pembicaraan suaminya.


“Kamu dan bayi kita itu tanggungjawab Mas, Num, kenapa kamu tidak pernah bilang kalau keadaan kalian membahayakan? Kamu selalu bilang kalau kalian baik-baik saja kan Num?” Ucap Adnan kembali mencoba bicara dengan tenang.


“Kenapa Num?” desak Adnan, ia sungguh ingin tau alasannya.


“Aku tidak ingin kamu lebih memilih anak kita, aku dengar jawaban kamu waktu kita sedang pillow talk waktu itu, aku takut kehilangannya” Adnan mengalihkan wajahnya kemana saja, dia tidak sanggup menatap wajah istrinya.


“Bukan hanya itu Num, tapi juga tentang penyakitmu, kenapa kamu seolah tidak ingin Mas mengetahuinya” Air mata Anum semakin deras mengalir, suaminya sudah mengetahui semuanya.


“Kamu anggap Mas ini apa Num?!” tanya Adnan dengan frustasi tapi masih berusaha mengendalikan suaranya.


“Aku hanya tidak ingin kamu khawatir” lirihnya.


Adnan tidak tahan dengan ini semua membingkai wajah Anum dengan kedua tangannya, dan membuat wanita itu menatapnya “Num dengar, apapun itu, Mas ingin selalu tau tentangmu, jangan membuatku khawatir seperti kemarin Num, kamu tanggung jawab Mas sekarang” dengan patuh Anum mengangguk.


“Maaf Mas”


Adnan memeluk wanita yang sangat ia cintai ini.


“Semua penyakit pasti ada obatnya sayang, jangan pernah patah semangat, kamu akan baik-baik saja” ucap Adnan menenangkan istrinya.


Farhat benar, setelah bicara dari hati ke hati dengan istrinya, semua tampak ringan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2