Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 25


__ADS_3

“Hoekkk” Pagi ini Anum kembali mengalami morning sickness parah.


Kepalanya pusing, sekuat tenaga ia berusaha berjalan ke kasurnya untuk merebah.


Handphone yang berbunyi sejak tadi Anum hiraukan, kondisinya tidak memungkinkan untuk menerima telpon Adnan, ia tidak mau pria itu khawatir.


Matanya melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 7 pagi, sebentar lagi rewangnya akan datang, ia akan meminta beliau membuat sarapan, karena rasannya Anum tidak kuat untuk membuat sarapannya sendiri pagi ini.


Pintu kamar ia biarkan terbuka.


“Mbak?! Ya Ampun, mbak kenapa?!” histeris wanita paruh baya yang ia pilih sebagai rewang, Anum sedikit membuka matanya dan berusaha tersenyum untuk membuat Bi Imah sedikit tenang.


“Anum gak apa-apa Bi, tolong buatkan sarapan untuk Anum ya Bi, Anum muntah lagi tadi” pinta Anum dengan lemas.


Setelah mengangguk Bi Imah segera berlalu meninggalkan Anum sendiri.


Dalam diam Anum mengusap perutnya lembut, air matanya mengalir saat merasakan tendangan anaknya dari dalam.


Yang kuat ya Nak, tinggal sebentar lagi kita akan bertemu.


Mual itu kembali muncul, Anum bangkit perlahan dan kembali menuju kamar mandi, di sana Anum memuntahkan cairan bening.


Kepalanya berdenyut lebih berat dari biasanya, matanya berkunang-kunang.


Prang !!!


Anum sedikit menoleh pada Bi Imah yang ternyata sudah datang.


“Darah!” pekiknya, sembari menunjuk bagian bawah Anum yang membuat wanita hamil itu menunduk.


Jantungnya berdegub kencang, membuat kepalanya semakin sakit saat ia benar melihat darah segar mengalir ke bawah.


Anum ambruk di tempatnya.


***


Rumah sakit.


Anum terbangun dengan infus yang sudah tertancap di tangan kirinya.


Tak lama dokter masuk dalam ruangannya.


“Bagaimana keadaan Ibu sekarang?” tanya dokter itu dengan ramah.


Perlahan Anum mencoba kembali merangkai kepingan memori kejadian yang terjadi sebelum ini.


Darah!


Dia melihat darah dari selangkangannya.


“Ada apa Bu, apa ada keluhan?” tanya dokter sekali lagi saat melihat pasiennya mendadak gelisah.


“Darah dok, saya melihat darah segar mengalir tadi, saya sedang hamil, bayi saya tidak apa-apa kan dok?” tanya Anuum dengan nafas yang memburu.


“Ibu, saya mohon untuk tenang, saya akan menjelaskan sesuatu” ucap dokter itu dengan hati-hati.


“Darah yang ibu lihat adalah pendarahan dari rahim dan—“


“Dan Apa dokter?!” tanya Anum dengan tidak sabar.

__ADS_1


“Dan janin anda sudah tidak berdetak lagi”


Duarrr


Serasa ada petir yang menyambar hatinya secara langsung, ia tidak bisa mempercayai ini.


“Ini pasti salah dokter, tolong periksa kandungan saya sekali lagi, tolong!” pinta Anum sembari meraung-raung.


Dokter itu hanya diam.


Tangan meraih tangan dokter wanita itu dan meletakkannya diatas perutnya yang masih buncit.


“Ayo nak, kasih tau bu dokter kalau kamu masih hidup, ayo nak, sayang?!”


Tidak ada respon.


Padahal biasanya saat mendengar suaranya bayi dalam kandungan Anum akan bergerak.


“Nak, sayang, kamu hanya tidur kan?” ucap Anum dengan air mata yang bercucuran menolak apa yang terjadi.


“Ibu, kami sudah memastikan, kami mohon maaf, Ibu harus ikhlas, kita harus segera melakukan proses kuretase, karena bayi anda sudah gugur dan harus segera dikeluarkan ”


Bayi anda sudah gugur.


Kuretase.


“Tidak dokter, saya tidak mau?! Jangan ambil bayi saya, jangan!” histeris Anum sembari melempar apapun yang ada di sekitarnya.


Husna dan Farhat masuk ruangan dengan tergopoh-gopoh saat mendengar jeritan Anum, suasananya kacau.


“Sus, suntik obat penenang” ucap Farhat yang sudah tidak sanggup melihat istri sahabatnya hancur.


“Tidak, anakku belum mati, dia hanya tidur, tidak” raung Anum yang semakin melemah seiring efek obat yang mulai bekerja, hingga Anum kembali tertidur.


Husna hanya bisa menangisi keadaan sahabatnya, sedangkan Farhat meraup wajahnya dengan kasar.


Ini baru Anum, mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jika Adnan sudah berada disini.


Kehilangan anak adalah hal yang paling menyedihkan sebagai calon orangtua.


***


Di dalam pesawat Adnan menerawang ke jendela pesawat dengan sedih.


“Kenapa kamu menghukum papa seperti ini Nak” lirihnya.


Air mata mengalir dari mata tajamnya.


Hidupnya hancur saat Farhat mengabarinya bahwa Anum mengalami pendarahan dan bayi mereka telah berhenti berdetak.


Anak mereka meninggal dalam kandungan dan harus segera di kuret.


Dunianya runtuh, tidak ada guna semua harta yang ia coba kumpulkan selama ini hingga merelakan waktu bersama anak dan istrinya.


Langkahnya semakin cepat saat telah sampai rumah sakit.


Ada Husna dan suaminya, serta Farhat yang menyambutnya di depan ruang operasi, lewat Farhat ia menyerahkan tanggung jawab untuk menyetujui apapun yang terbaik untuk Anum.


“Yang sabar bro, ane ikut prihatin atas musibah ini” Adnan memeluk Farhat, ia kembali menangis.

__ADS_1


Husna dan suami juga mengucapkan hal yang sama.


“Far kenapa ini bisa terjadi? Seingatku Anum baik-baik saja”


“Ayo ke ruangan ane, operasinya baru mulai, kemungkinan satu jam lagi baru selesai” Adnan mengangguk dan mengikuti Farhat setelah menitipkan Anum pada Husna.


***


“Preeklampsia?” tanya Adnan memastikan.


“Iya, dari yang ane lihat di rekam medis Anum seperti itu, kondisi itu yang menyebabkan solusio plasenta atau komplikasi kehamilan berupa plasenta yang terlepas dari dinding rahim”


“Plasenta yang terlepas dari dinding rahim?” lagi-lagi Farhat mengangguk


“Iya, bayi ente meninggal karena sumber kehidupannya lepas dari badan ibunya”


Adnan meremas rambutnya dengan frustasi.


“Yang ane bingung, kenapa ente seperti tidak tau apapun? Ente lagi bertengkar sama Anum?” Adnan menggeleng.


“Anum, dia gak pernah bilang apa-apa” ucap Adnan dengan lemah, dahi Farhat kembali berkerut.


“Gimana bisa ente bilang gitu? Jangan bilang ente gak pernah ikut selama Anum periksa kandungan?” tuduhnya ada sang sahabat.


Adnan menggeleng.


“Ya salam, Adnan!”


“Aku gak bisa apa-apa Far, keadaan perusahaan cabangku sedang tidak baik, dan Anum selalu bilang untuk mementingkan mereka, aku percaya padanya Far”


Farhat diam, lebih tepatnya bingung dengan keadaan rumah tangga sahabatnya.


“Ada satu hal lagi yang ente harus tau Nan” Adnan mendongak menatap sahabatnya.


“Sebenarnya Anum punya penyakit bawaan”


Dahi Adnan mengernyit, hatinya kembali di remas, ada berapa banyak hal lagi yang Anum sembunyikan darinya?


“Ngomong aja Far, aku perlu tau apa aja yang sudah Anum sembunyikan dariku tentang kesehatannya”


“Anum punya penyakit lupus, atau yang biasa di sebut autoimun, kondisi dimana kekebalan tubuh yang harusnya menyerang penyakit justru menyerang sel sehat penderitanya”


Air mata Adnan kembali jatuh.


Dia seperti orang bodoh yang tidak tau apapun tentang istrinya sendiri.


“Itu bisa disembuhkan kan Far?” tanya adnan dengan segenggam harapan baik yang ingin ia dengar.


Jantungnya seakan lepas ketika Farhat justru menggeleng lemah.


“Sampai saat ini belum ada obat khusus untuk mengatasi kondisi langka itu, seumur hidup Anum selalu bergantung dengan obat”


Adnan terdiam, kilasan-kilasan dimana ia sering melihat Anum meminum obat muncul seketika.


Laki-laki itu meremas rambutnya sendiri dengan kencang, betapa bodohnya ia sampai kecolongan hanya karena Anum bilang ia sedang meminum vitamin.


Farhat hanya bisa mengusap bahu Adnan melihat sahabatnya seperti kehilangan harapan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2