Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 12


__ADS_3

Kini Anum duduk sendiri di sebuah bangku taman setelah kemarin malam ia membuat janji dengan Adnan di taman kota. Panasnya sinar matahari di sore ini tidak mampu menghangatkan kedua tangan Anum yang dingin karena gugup.


Beberapa hari ini ia sudah memikirkan semuanya, tentang perasaannya, tentang perasaan Adnan, Anum juga sudah memohon petunjuk pada yang Maha Kuasa, dan hatinya sudah condong pada sebuah keputusan yang akan ia sampaikan pada Adnan hari ini.


“Hah, maaf ya Anum, aku telat” seru Adnan yang terengah-engah sembari duduk di samping Anum namun tetap menjaga jarak mereka.


Anum hanya menganggukkan kepala, ia semakin menunduk, tangannya saling meremas satu sama lain, deguban jantungnya semakin tidak karuan.


“Jadi?” tanya Adnan saat sudah menguasai dirinya.


Mau tak mau Anum mengangkat wajahnya, pandangannya langsung tertuju pada wajah lelah Adnan yang tetap tidak kehilangan kharismanya.


“Anum, kamu menyuruhku datang bukan untuk memandangi kamu saja kan?” tanya Adnan lagi, sontak Anum menggeleng.


Setelahnya Adnan tertawa, hal itu membuat Anum heran.


“Lalu, kita mau ngapain Anum? Jangan bikin deg-deg an deh, kamu mau jawab pertanyaanku beberapa hari yang lalu, kan?” ucap Adnan kemudian setelah menuntaskan tawanya yang hanya diangguki Anum.


Adnan paham sekali bahwa gadis dihadapannya ini sedang gugup, tapi itu justru menambah kecantikan Anum yang semakin membuatnya jatuh pada pesonanya.


“Udah, kamu ngomong aja, tentang perasaanmu, mungkin juga hasil istikharahmu? Aku akan menghormati semua keputusan yang kamu ambil” Anum menatap Adnan yang tersenyum di sebelahnya.


“Sebelum aku menyampaikan keputusanku, boleh saya bertanya sesuatu, Mas” senyum Adnan memudar, tapi dengan tegas ia mengangguk.


Anum kembali menunduk saat melihat wajah Adnan yang berubah serius.


“Apa yang Mas ketahui tentang cinta sejati?” Adnan diam sejenak, mengingat jawaban dari ini pasti akan menjadi pertimbangan Anum dalam menerima pinangannya atau tidak, maka ia tidak boleh sampai salah dalam menjawab.


“Itu adalah cinta yang akan tetap abadi sampai kapanpun, meski raga telah berpisah dengan jiwa, meski dunia sudah luluh lantah tak bersisa, karena tujuan utamanya bukan hanya bersatu di dunia, tapi akhirat juga” jawab Adnan sembari menatap mata Anum yang juga menatapnya.


“Cinta seperti itukah yang Mas punya untuk Anum?”


“Aku tidak bisa menjanjikan apapun Anum, tapi ya, itu salah satu hal yang ada di pikiranku saat menyadari perasaan cintaku padamu” ucap Adnan sembari menatap lekat lawan bicaranya, tatapan mata mereka seperti menyelami satu sama lain, mencoba menyelami dalamnya perasaan mereka yang belum diketahui akan sedalam apa.

__ADS_1


“Dunia ini hanya sementara Anum, aku juga ingin, kita tetap bersama di akhirat nantinya, kehidupan yang kekal” Anum terharu mendengar jawaban Adnan, hatinya menghangat, dalam hati ia bersyukur ada yang mau mencintainya setulus ini.


Sudah, Anum sudah semakin yakin dengan pilihannya, dengan mengucapkan bismillah dalam hati Anum akan mengutarakan perasaannya juga.


“Kalau begitu ijinkan Anum menyampaikan hasil istikharah Anum ya Mas”


Adnan mengangguk kaku, ini kali pertamanya jantungnya bergegub diatas normal, hanya karena menunggu jawaban dari seorang wanita.


“Saya Anum Azizah bersedia, menemani Mas Adnan dalam suka dan duka dengan izin Allah tentunya restu dari keluarga Mas juga”


Mata Adnan berkedip berkali-kali, rasa tak bahagia dan haru menyeruak begitu saja.


“Alhamdulillah” hanya itu yang muncul dari mulut Adnan, Allah mendengarkan doanya, Allah mengabulkan munajatnya.


Anum menatap pria yang kelak akan menemani masa tuanya, membimbingnya.


“Ana uhibbuka fillah, Anum”


Deg


Deg


Deg


“Ahabbakalladzi ahbabtani lahu, Mas Adnan”


Tangis haru Anum turut mengiringinya saat mengucapkan jawaban atas pernyataan Adnan yang menyentuh relung hatinya.


Dalam hati Adnan bersyukur tekah di pertemukan dengan Anum, menjatuhkan cintanya pada gadis anggun dihadapannya, rasanya terbalaskan.


Ingin sekali Adnan mendekat dan memeluk Anum dengan erat kalau saja sudah halal bagi mereka untuk melakukan itu, tapi sayangnya Adnan harus menahan hasrat itu kuat-kuat.


“Terimakasih Anum” ucap Adnan dengan ceria, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, senyumnya merekah sejak Anum memberikan jawaban yang sesuai dengan ekspektasinya.

__ADS_1


“Keberatan jika bertemu dengan orang tuaku sekarang? Aku ingin memperkenalkanmu sekaligus menyampaikan bahwa aku sudah mendapatkan pendamping yang sangat sempurna” meski terharu dengan ucapan Adnan, Anum segera memandang Adnan dengan wajah terkejutnya, ia tak menyangka Adnan akan langsung mengenalkannya dengan orang tua Adnan.


“Apa ini tidak terlalu cepat Mas?” Adnan menggeleng, ia tersenyum saat melihat wajah khawatir Anum.


“Tenang saja Anum, mereka pasti menyukaimu” puji Adnan bermaksud untuk menenangkan gadisnya, namun itu tak berpengaruh apa-apa pada Anum, jantungnya tetap berdegub kencang.


Ia kembali gugup!


“Besok aja deh ya? Lagi pula aku belum siap-siap apapun” tawar Anum, Adnan kini tak bisa menahan tawanya.


“Kok malah ketawa sih” kesal Anum yang melihat Adnan tertawa semakin kencang dari sebelumnya.


“Oke-oke sorry, memangnya kamu mau siapin apasih? Ini cuman pertemuan biasa kok” ucap Adnan setelah menuntaskan tawanya. Sementara Anum sudah memasang wajah cemberut.


Meskipun begitu, Anum tetap mengikuti langkah Adnan yang melangkah ke arah mobilnya, mereka akan benar-benar menemui kedua orangtua Adnan saat ini juga, bahkan saat Anum baru saja mengungkapkan keputusannya.


“Mas, beneran sekarang nih? Gak besok-besok aja?” tanya Anum untuk yang kesekian kalinya, Adnan hanya berdehem. Sementara mobil yang mereka tumpangi sudah meninggalkan taman beberapa menit yang lalu.


Adnan memperhatikan sekitar, macet panjang.


Rasanya Adnan harus berbuat sesuatu agar ratu hatinya ini tidak terus menerus melancarkan protes padanya.


Dengan langkah pasti Adnan mencondongkan tubuhnya ke arah Anum yang saat ini sedang sibuk memperhatikan jalanan yang macet. Tepat saat wajah Adnan sudah dekat dengan wajah Anum, perempuan itu menoleh ke arahnya, hingga hidung keduanya bertabrakan.


Anum terkejut begitu pula dengan Adnan. Nafas mereka saling bersautan, tidak ada yang mau mengalah, mereka tetap pada posisinya.


Niat Adnan yang ingin menggoda Anum dengan berbicara sedikit dekat malah membuat mereka tak berjarak, membuat mereka berdua kaku karena tak tau harus berbuat apa


“Orang tuaku pasti menyukaimu Anum, percayalah” Anum diam saja mendengar penuturan Adnan yang sudah bersuara rendah itu, fokus Adnan tiba-tiba beralih pada bibir pink Anum yang alami dan indah.


Tinnn!


Keduanya terlonjak, lalu Adnan menjauhkan badannya, dan kembali menyetir, sementara Anum terdiam mengalihkan atensinya pada jalanan, dia masih shock dengan apa yang dilakukan Adnan tadi.

__ADS_1


Suasana kembali sunyi, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


TBC


__ADS_2