Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 47


__ADS_3

Adnan puas menatap hasil kerjanya, semua saham sudah stabil, berikut dengan para pengkhianat kantor sudah diamankan, setidaknya otaknya hanya perlu memikirkan keluarga kecilnya untuk sekarang.


Anak-anaknya yang semakin hari semakin aktif, juga istrinya yang semakin hari semakin menggemaskan dengan segala sifat manjanya, namun Adnan sukai.


“Semuanya sudah beres Pak” Adnan mengangguk menatap Rudi dengan senang, satu bebannya terangkat.


“Kamu berliburlah Rud, saya pun akan begitu” tawar Adnan yang dihadiahi gelengan pelan Rudi.


“Anda berliburlah dulu Pak, saya akan disini untuk berjaga selama bapak berlibur” senyuman tulus Adnan merekah begitu saja, tidak salah jika ia mempekerjakan Rudi menjadi asistennya.


Adnan bangkit, menepuk bahu Rudi sekilas, “Jika kamu lelah, liburlah untuk sehari saja” Rudi kembali menggeleng.


“Hari minggu sudah cukup untuk itu Pak” tolak Rudi dengan sopan.


“Jangan khawatirkan saya Pak, Anda juga tidak kalah sibuk daripada saya, nikmati liburannya Pak, biar saya yang meng-handle sisanya disini, setelah Bapak kembali saya pasti akan mengajukan cuti panjang saya” kelakar Rudi diiringi tawa Adnan yang terdengar lebih ringan dari sebelumnya.


“Baiklah, untuk lima hari ke depan saya mengambil libur, tapi kamu masih bisa menghubungi saya, ponsel saya tersedia 24 jam jika kamu butuh bantuan” ucap Adnan sontak membuat Rudi menganga tak percaya.


“Hei kenapa mukamu seperti itu?!” Rudi menggeleng cepat seraya sedikit menunduk.


Sepertinya Adnan melupa jika dirinya yang pernah berkata ia tidak ingin di ganggu di waktu tengah malam, pernah sekali Rudi terkena amarah Adnan karena melanggar perintahnya, juga suara-suara aneh yang ia tak sengaja dengar itu.


Ayolah, Rudi memang belum menikah, tapi dia tidak sepolos itu hingga tidak bisa membedakan suara ngeong-an kucing yang Adnan katakan, namun lebih terdengar seperti suara tertahan seseorang.


Tidak mau banyak berdebat Rudi akhirnya meng-iyakan saja perintah Adnan.


“Saya pulang duluan Rud, istri saya sudah menunggu” Lagi-lagi Rudi hanya bisa mengangguk.


Sembari berjalan Adnan bersiul riang, ia sungguh tidak sabar menemui istrinya dan anak-anak yang sudah mulai bisa merespon perkataannya.


Rudi hanya bisa menatap atasannya dengan pandangan yang sulit diartikan, kemudian perhatiannya teralih saat handphone yang ada disaku jasnya bergetar.


‘Sudah tau apa yang harus kau lakukan?’


Rudi menggeram marah dengan tangan yang mencengkeram benda pipih itu.


Sambil berdiri, tatapannya tertuju pada wajah Adnan yang tersenyum sangat lebar dengan tatapan yang tertuju pada wanita berhijab yang juga melakukan hal yang sama, mereka bahagia dalam bingkai itu.


Dengan sedikit membungkuk di hadapan foto itu Rudi meninggalkan ruangan itu kemudian.


***


Pyar!


Anum menatap gelas pecah itu, terkejut tentu saja, rasanya ia sudah sangat berhati-hati tapi gelas pecah itu seolah mengejek Anum yang bersikap ceroboh.


“Kalau Mas Adnan tau, bisa habis aku dikurung di kamar dan tidak boleh melakukan apapun” gumam ibu hamil itu yang sudah sedikit berjongkok hendak memungut pecahan kaca berserakan di hadapannya.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan Num?!”


“Auw!” mendengar pekikan itu Adnan segera berlari menghampiri istrinya, gelas kaca yang pecah dan darah segar yang muncul di jemari istrinya membuat ia menatap Anum sengit.


“Anum bisa jelasin Mas” kilahnya, namun Adnan yang tidak mau mendnegar segera menggendong sang istri dan mendudukkannya di sofa setelah memanggil ART mereka untuk membersikah pecahan gelas tadi.


“Mas, dengerin Anum dulu” cegahnya sembari menggenggam lengan Adnan yang hendak meninggalkannya dengan wajah marahnya.


Hati Anum semakin kecewa saat Adnan menepis pelan cekalan tangan Anum.


Karena tidak tau harus berbuat apa, Anum hanya bisa duduk dan memandangi lukanya, ada setitik darah disana, tidak parah.


Harusnya Adnan tidak semarah itukan? Dia baik-baik saja.


Rasa kecewa, marah dan sedih karena penolakan Adnan tertahan begitu saja saat tangan kekar lelaki itu melingkupi tangannya yang terluka, Adnan sudah kembali dengan sekotak P3K di pangkuannya.


Jarak yang begitu dekat membuat Anum bisa dengan puas memandangi wajah lelakinya dengan sangat leluasa.


Aroma tubuh Adnan sehabis kerja entah kenapa menjadi candunya saat ini, harusnya Anum juga mendiamkan suaminya, harusnya ia juga bersikap dingin pada Adnan sekarang, tapi tidak bisa!


Otak dan hatinya memang selalu kontra jika itu berhubungan dengan Adnan, lihat saja bahkan kepala Anum sudah bersandar di bahu lebar Adnan saat suaminya itu masih asik mengobati luka kecilnya.


“Mas.. Anum tidak sengaja” cicitnya, Adnan masih bergeming di tempatnya.


Berusaha tenang, dan bepikir dewasa, Adnan menghela nafasnya.


Mungkin kali ini Adnan memang sudah terlalu menghawatirkan istri nakalnya.


“Anum tau, tapi itu diluar kendali Anum, Mas juga tau kan Anum selalu berhati-hati juga agar Mas tidak selalu khawatir seperti ini” senyum Anum merekah saat Adnan mengangguk kaku, meski masih enggan menatapnya.


“Lihat Anum Mas” pintanya sembari menyentuh lembut dagu Adnan yang sedikit ditumbuhi bulu karena Adnan selalu memendekkannya.


Saat sudah saling tatap, Anum paham jika Adnan teramat sangat mengkhawatirkannya, hal yang selalu membuat wanita itu tersentuh dan hanya pasrah menerima segala omelan suaminya lengkap dengan wajah seram Adnan yang justru terlihat menggoda di mata Anum.


Cup!


“Sebagai permintaan maaf, dimaafkan?” Anum memberengut saat Adnan menggeleng sebagai jawaban.


Saat hendak memprotes, Adnan sudah mengikis jarak diantara mereka membuat Anum hanya bisa membiarkan Adnan meredam amarah dengan dirinya.


Anum kini sudah di posisi terlentang dengan Adnan yang berada di atasnya, ini adalah salah satu cara Adnan meredam emosinya.


Mencium Anum dengan sangat lama.


Kegiatan keduanya terjeda saat sama-sama kehabisan nafas.


Meski belum puas Adnan tidak mau menyiksa istri dan anak-anaknya, satu hal tadi saja sudah cukup bagi Adnan yang sudah bangkit dan membantu istrinya kembali ke posisi semula.

__ADS_1


“Sudah tidak marah?” Adnan menggeleng dan membawa Anum ke dalam pelukannya.


“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Adnan dengan khawatir, takut kesenangannya malah menyakiti istri dan anaknya, kini Anum yang menggeleng pelan, tangan Adnan tergerak mengusap pelan perut buncit itu.


Dung!


Keduanya saling tatap, namun tertawa setelahnya.


“Asal itu bisa membuat Mas Adnan merasa lebih baik, Anum akan lakukan” senyuman itu tercipta di wajah keduanya.


Teringat sesuatu Adnan merenggangkan pelukan mereka.


“Mas Ada berita gembira”


“Apa?”


Dengan semangat Adnan membuka tas kerjanya, mengambil dua lembar kertas kemudian menunjukkannya pada sang istri.


“Ini...”


“Iya, kita akan berlibur berdua, anggap saja babymoon dan liburan sebelum kita diributkan dengan kewajiban sebagai orang tua setelah twins lahir”


“Tapi masalah kantor Mas bagaimana?”


“Semuanya sudah beres sayang” Anum tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


“Benaran Mas?” Adnan mengangguk yakin, sembari mengusap puncak kepala Anum dengan gemas yang terlihat seperti anak-anak yang baru saja dibelikan mainan oleh orangtuanya.


“Berkat doa kamu dan twins, masalah Mas selesai”


“Alhamdulillah” rasanya kalimat syukur itu masih kurang untuk menggambarkan betapa membahagiakannya berita yang Adnan bawa kali ini.


TBC


Jiahhh, siapa yang mau ikut mereka babymoon, ngacung! 🤣


Pertama-tama aku mau ngucapin maaf udah sempet PHP kalian pembaca setia Eternal de Amor, maafin Author yakk..


Awalnya berniat hiatus yang gak tau sampe kapan, dengan pikiran pendek akhirnya memaksa ending pada cerita ini..


Atas ketidaknyamanan nya, Author mohon maaf yang se-big-big-nya 🙃


Ada hal yang gak bisa Author share disini tentang kenapa Author lakuin itu..


But, sekarang Author sudah mendapatkan hidayah 🤣


Dan berniat melanjutkan cerita ini sampe bener-bener ending! seneng gak? seneng dong please.. (sedikit maksa) 😅

__ADS_1


So, enjoy!


Love you guys! 🥰


__ADS_2