Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 16


__ADS_3

Wanita berhijab itu kembali menghela nafas sebelum memasuki cafe untuk menunggu seseorang.


Ia duduk pada meja yang sudah direservasi, siang ini akan menjadi hal yang sangat mendebarkan baginya.


Nyatanya berhubungan dengan pria baik tidaklah selalu membuat nyaman, apalagi jika ada perbedaan status sosial dan ekonomi diantara keduanya.


Tapi Anum tidak ingin menyerah begitu saja, ia juga ingin ambil andil dalam hubungan nya dengan Adnan.


Syarat dari keluarga besar Adnan, Anum terima, meski Adnan sudah mengatakan untuk membiarkan itu menjadi urusan Adnan. Tapi, Anum tak boleh hanya berpangku tangan bukan? Ini tentang pernikahan mereka, jadi, bukan hanya Adnan yang harus berusaha tapi Anum juga.


Anum belum tau situasi beberapa jam kedepan, dari Farhat yang ia minta cerita sedikit tentang Indah, tunangan Adnan, Anum bisa tau jika wanita ini sangat mencintai Adnan, terlihat dari caranya yang masih melanjutkan pertunangan meski Adnan tidak hadir dalam acara tersebut sudah sangat jelas bagaimana perasaan wanita itu pada pria yang melamarnya beberapa hari lalu.


Wanita itu sudah siap menerima perkataan bahkan perlakuan kasar, ia akan coba bertahan.


Satu hal Anum yakini, jika dia memang berjodoh dengan Adnan, ribuan halang rintang tidak akan membuat mereka berpisah, mereka akan tetap bersatu.


Ia tak sendiri bukan? Anum yakin Sang Penguasa Alam akan membantunya, itulah yang membuatnya berani untuk menemui tunangan Adnan, meski secara status Anum kalah dan terlihat seperti perebut calon suami orang, tapi Allah maha tau.


Jadi untuk apa meributkan perkataan orang?


Anum hanya ingin mengajak wanita itu berdiskusi demi kebaikan semua tanpa menyakiti siapapun.


Lagi-lagi wanita itu menghela nafas untuk membulatkan tekad dan mengumpulkan harapan yang terbaik.


“Hai” sapa seorang wanita sembari tersenyum yang menyadarkan Anum dalam lamunannya.


“Hai, Mbak” Anum berdiri dan menyalami perempuan itu.


“Indah Sawastika” Anum tersenyum saat Indah mengenalkan dirinya dengan sopan.


“Anum Azizah, Mbak, mari duduk” Indah mengangguk sopan dan duduk di seberang Anum dengan elegan.


“Jadi, kenapa kamu meminta bertemu Anum?” tanya Indah sembari membolak-balik buku menu.


Indah mengenal wanita dihadapannya ini, calon istri pilihan pria yang dicintainya.

__ADS_1


Pertemuan keluarga Adnan untuk mengenalkan Anum sebagai calon istri Adnan sudah sampai di telinga wanita ini.


Bukan hanya Anum, Indah sebenarnya juga gugup berhadapan dengan wanita yang bisa disebut sebagai rivalnya sendiri.


“Saya ingin membicarakan tentang Mas Adnan, Mbak” sontak Indah menatap Anum dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Kemudian ia terkekeh.


“Kamu to the point sekali, Anum” ucap Indah dengan datar, meski ia tidak bisa memungkiri hatinya yang bertalu-talu.


“Mbak, saya tau, disini saya seperti perebut calon suami Mbak Indah, saya merasa buruk akan itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika mbak berkenan” Anum menjeda kalimatnya, menunggu respon dari wanita dihadapannya ini.


Indah terdiam, tidak tau harus merespon apa, harusnya ia bisa marah, tapi melihat ketenangan wanita ini yang memohon maaf membuatnya tidak mau bertingkah buruk.


“Saya sungguh baru mengetahui hal ini saat saya sudah menerima lamaran Mas Adnan” ucap Anum dengan nada bersalah kemudian memberanikan diri menatap Indah yang kini juga menatapnya.


“Tidak mudah bagi saya melepaskan Adnan begitu saja Num”


“Saya paham”


“Boleh, jika saya meminta kamu mundur dan menyerahkan Adnan untuk saya, Anum?” Indah mencoba peruntungannya untuk menyentuh hati Anum yang selembut kapas.


“Apa setelah itu Mbak akan bahagia?” tanya Anum dengan lembut. Indah mengangguk cepat.


Melihat Indah yang terdiam Anum kembali buka suara.


“Saya tidak yakin bisa membahagiakan Mas Adnan, Mbak, karena itu saya ingin memastikan semuanya, jika Mbak akan bahagia jika saya mundur, dan bisa membahagiakan Mas Adnan, silahkan, saya bersedia mundur” tambah Anum kemudian.


Indah terpaku saat mendengar perkataan Anum, selama ini ia hanya peduli akan perasaannya, tanpa memikirkan orang lain, tanpa memikirkan perasaan Adnan.


Ia bahkan terkesan memaksakan kehendak hanya untuk bisa mendapatkan Adnan.


“Apa kamu mencintai Adnan, Anum?”


“Maaf, Mbak, hal itu biar saya dan Maha Kuasa yang tau” Indah mengangguk paham saat Anum menjawab pertanyaannya dengan sopan.


“Baiklah, saya paham” Anum hanya tersenyum.

__ADS_1


“Setelah ini, maukah kamu menemaniku berkeliling sebentar Anum? Kita bisa menyelesaikan ini dengan suasanya yang nyaman, aku kurang nyaman disini” tanpa pikir panjang Anum meng-iya-kan ajakan Indah.


Dalam pikiran Anum hanya ingin masalah ini cepat selesai.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Anum tidak kembali ke panti asuhan setelah ijin untuk bertemu dengan seseorang di sore hari. Husna dan Bu Halimah tampak panik, tidak biasanya Anum seperti ini, dan mereka bertanya-tanya tentang siapa yang Anum temui.


“Bu, bagaimana? Apa ada kabar tentang Anum?” Tanya Adnan yang baru datang setelah Husna menelponnya, lengkap dengan dua sahabatnya, karena mereka baru saja berkumpul untuk bersantai bersama.


Bu Halimah dan Husna hanya menggeleng lemah, Husna bahkan sudah menelpon seluruh teman-teman mereka mungkin Anum berada disana, tapi nihil.


“Apa Anum pernah pulang malam sebelumnya?” tanya Baihaqi.


Adnan dan Husna langsung membelalakkan matanya, tuduhan mereka tertuju pada satu orang, pak Adi dan para preman pasar.


“Apa? Kenapa kalian seperti terkejut? Apa kalian tau sesuatu?” tanya Bu Halimah dengan panik.


“Pak Adi, Bu” jawab Husna dengan lesu, wajah Bu Halimah langsung pias, ia sama sekali tak berpikir ke arah sana.


“Nan, Pak Adi siapa?” tanya Farhat penasaran.


“Dia orang yang mau menjadikan Anum istri ke-empatnya” Farhat dan Baihaqi terkejut.


“Gila! Serakah amat jadi laki!” ucap Farhat dan Baihaqi bersamaan, sementara Adnan segera menelpon seseorang, ia tidak akan membiarkan seseorang pun menyakiti calon istrinya.


“Ibu dan Husna tenang saja, saya sudah menyuruh seseorang untuk mencari Anum” ucap Adnan kemudian setelah selesai menelpon detektif andalannya.


Setelahnya mereka duduk dengan cemas, tak ada yang mau beranjak sebelum memastikan keberadaan Anum.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, mereka semua masih terjaga, memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, sembari terus mendoakan yang terbaik untuk Anum.


Tiba-tiba handphone Adnan bunyi, tanda pesan masuk. Setelah melihat siapa pengirimnya, Adnan langsung duduk tegak, disusul Farhat dan Baihaqi yang mendekat ke arah Adnan.


Sebuah file, berkas penyelidikan tentang Anum.


Kepergian Anum bukan karena Pak Adi, itu yang dikatakan oleh detektif yang disewa Adnan untuk mencari Anum. Tapi setelah membaca kelanjutannya, mata Adnan membola.

__ADS_1


“Indah?!” teriak ketiga pria itu dengan histeris.


TBC


__ADS_2