Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 59


__ADS_3

Adnan berlari menyusuri lorong rumah sakit saat mendengar kode emergensi yang di tujukan pada kamar perawatan istrinya.


Meninggalkan Tio yang terbengong mencerna keadaan mengejutkan ini.


Gerak langkah Adnan tak kalah cepat dengan para medis memacu kerja jantungnya.


Kegelisahan itu membuncah saat paramedis memasuki ruang dengan Barata yang berdiri seperti menunggu Adnan.


‘Tidak Anum, jangan lagi, jangan buat Mas khawatir seperti ini’


Pintu tertutup begitu saja saat Adnan hendak masuk dan memastikan keadaan istrinya, tapi terlambat saat pintu itu sudah terkunci tanda treatment kegawatdaruratan sedang dilakukan.


“Biarkan mereka menjalankan tugasnya untuk menolong istrimu” cegah Barata saat Adnan tetap memaksa masuk.


“Aku ingin menemani Anum”


Barata tetap diam, tapi kini tubuhnya tegerak untuk memeluk tubuh Adnan yang tetap bersikukup masuk.


Setelah beberapa saat Adnan menyerah, ia berjalan mundur lepas dari rengkuhan sang kakek kemudian menghempaskan tubuhnya ke tembok, lalu tubuh itu terduduk dengan lemasnya.


“Aku tidak ingin kehilangan Anum” seru Adnan dengan nada lirih, tapi kalimat itu masih tertangkap indra Barata.


Adnan meraup wajahnya kasar, dia tidak cukup kuat menerima cobaan ini, tidak lagi.


“Tenanglah semua akan baik-baik saja” ucap Barata berusaha menenangkan cucunya.


Hening, Adnan bahkan tak mampu untuk sekedar mendengar itu semua, karena seluruh atensinya teralih pada Anum yang ada di dalam sana.


Tak lama pintu terbuka. Adnan berdiri dan memburu dokter yang keluar dari ruangan itu.


“Maaf harus menyampaikan ini Pak, istri Anda mengalami koma”


Adnan tak bisa lagi berkata-kata, setelah itu ucapan dokter hanya angin lalu baginya, Adnan tidak bisa, ia tidak bisa hidup tanpa senyuman istrinya, ia tidak bisa hidup tanpa celotehan Anum yang sudah mewarnai hidupnya.


Sementara Barata mendengarkan penjelasan dokter, Adnan memaksa masuk demi melihat wajah damai istrinya.

__ADS_1


Air mata itu jatuh saat pandangannya jatuh pada sosok Anum di depan sana, rasa takut itu kembali mengerubungi hati Adnan.


Saat semua para medis keluar, Adnan mendekati brankar istrinya.


Digenggamnya tangan yang dingin itu, lalu Adnan mengecupnya dengan berderai air mata.


“Aku tau kamu lelah Num, tidurlah, tapi jangan tinggalkan aku dan anak-anak”


Hanya suara bedside monitor yang bersahutan, Adnan tidak bising dengan itu, karena itu salah satu penanda bahwa Anum masih berjuang untuk tetap hidup.


Barata masih diam di depan pintu, beberapa tahun yang lalu, ia juga melihat pemandangan ini, saat Adnan menangisi kedua orang tuanya yang pergi untuk selama-lamanya.


Sekali lagi Barata melihat sisi rapuh cucunya.


Merasa Adnan membutuhkan ruang untuk bicara pada istrinya, Barata memilih memnutup pintu agar cucunya lebih leluasa bicara.


***


Sinar matahari itu menyinari wajah pucat Anum yang sekali lagi membuat Adnan bersedih, semalaman Adnan tidak tidur demi melihat mukjizat yang mungkin saja terjadi pada istri cantiknya.


“Selamat pagi sayang, hari ini dengan sangat terpaksa aku meminta ijin untuk berangkat bekerja ya?”


Tidak ada jawaban, membuat Adnan tersenyum hambar, tapi ia tidak mau menyerah seberat apapun selama detak jantung istrinya masih ada, selama nafas istrinya masih berhembus, Adnan masih memiliki harapan itu.


“Nanti siang aku akan kembali, aku ingin makan siang bersama, kalau bisa nanti siang aku ingin melihat senyumanmu, boleh? Berikan aku imunbooster andalan kamu ya” ucap Adnan seraya menyelipkan sebaris do’a yang barangkali akan terwujud.


Adnan menyerahkan punggung tangannya untuk dikecup bibir istrinya, hal yang tidak pernah Anum lupakan semenjak resmi menjadi istri, lalu dengan sayang Adnan membelai lembut puncak kepala Anum, kemudian mengecup kening istrinya lama.


Kali ini Adnan tidak akan menangis, ia akan mencoba tegar dan ikhlas menghadapi semuanya.


“Sudah siap Nak?” Adnan menoleh dan mengakhiri prosesi yang sekarang Adnan nantikan itu, lalu menoleh ke sumber suara.


Nenek Adnan sudah berdiri di depan pintu lengkap dengan asisten juga para bodyguard di depan sana.


Adnan menghampiri sang nenek, lalu mengecup tangannya dengan takzim, lagi-lagi hal itu kembali mengingatkannya pada Anum yang sudah mengajarkan itu kepadanya.

__ADS_1


Ucapan lembut di puncak kepala Adnan membuat ia merasa tenang, tanpa kata Adnan langsung pamit, dan keluar demi menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga.


Adnan menjadi gila kerja, semua pekerjaan ia ambil bahkan hingga jatah lemburnya jadi selesai sebelum waktunya, meski sudah sesibuk itu ia tetap tak bisa melupakan kegelisahannya, hingga saat Adnan sudah tak sanggup lagi, tubuhnya yang berjalan tiba-tiba memelan, pandangannya kabur, lalu menghitam.


Brukk.


“Hai sayang, kamu kelelahan, karena menjagaku ya? Atau menjaga anak kembar kita?” tubuh Adnan merespon suara itu, matanya membuka, senyumnya terbit saat wajah hangat Anum tersenyum ke arahnya.


“Aku tidak akan lama, aku tunggu kamu ya” perasaan tak rela menggerogoti Adnan yang ditinggal pergi begitu saja.


“Anum!!!”


“Tenanglah Adnan, Anum ada di sampingmu” sontak Adnan menoleh, benar saja istrinya berada tepat di sampingnya.


Lalu kemudian Adnan tersadar saat memakai baju pasien yang sama persis dengan milik istrinya, Adnan kenapa?


“Kamu melupakan sarapan dan makan siangmu, saking sibuknya sekarang kamu juga ikut sakit” penjelasan Nenek membuat Adnan tau apa yang terjadi padanya.


Adnan drop, karena terlalu banyak pikiran hingga melewatkan jam makannya.


“Adnan tidak apa-apa Nek” jelas Adnan saat menyadari raut khawatir wanita lanjut usia yang sangat menyayanginya.


“Nenek juga berharap itu, Nenek berdo’a semoga kalian semua baik-baik saja” tanpa sengaja tatapan Adnan beralih pada istrinya.


Bagi Adnan saat ini, tak apa ia yang sakit, tak apa ia yang menderita asal jangan istri dan anak-anaknya.


Angan Adnan buyar saat sebuah tangan hangat membelai lembut wajahnya, “Mereka akan baik-baik saja Nak, tadi dokter mengatakan itu, kamu harus segera pulih agar bisa menyambut kesembuhan mereka hingga kalian berempat bisa kembali berbahagia seperti orangtua baru lainnya”


Air mata yang bagaikan serpihan kaca itu meleleh, namun dengan sigap Adnan menghapusnya, “Aku akan segera pulih Nek, jangan menangis”


Mendengar kalimat penguat yang seharusnya ia ucapkan akhirnya nenek menyudahi tangisnya.


Sementara Adnan ia sangat senang bisa melihat senyuman itu, meski ia harus pingsan terlebih dahulu untuk melihatnya, senyuman Anum tadi menjadi penguatnya saat ini, meski badannya terasa letih Adnan memiliki penyemangat baru, yakni senyuman Anum yang akan ia dapat lagi ketika istrinya bangun nanti.


TBC

__ADS_1


__ADS_2