
“Sudah jangan berdebat dulu, cucu kita baru sampai, Mas” Barata langsung menoleh pada Ningrum, istrinya, yang berada di sebelahnya.
“Siapa namamu tadi?” tanya Barata pada Anum, tidak mengindahkan perkataan Ningrum.
“Nama saya Anum Azizah” jawab Anum sopan.
“Nama orangtuamu?” Anum terhenyak.
Adnan yang menatap kakeknya tidak suka, “Untuk apa Kakek bertanya seperti itu?”
Barata menatap cucunya dengan senyum mengejek.
“Tentu saja untuk mengetahui asal usulnya” tangan Adnan mengepal marah.
“Darimanapun Anum berasal itu tidak mengubah keputusanku, jadi..” kata Adnan terpotong saat Anum menggenggam tangannya menenangkan.
Adnan menoleh pada Anum yang hanya dibalas dengan senyuman tulus Anum, amarahnya luntur, Adnan diam.
“Maaf sebelumnya Kek, saya selama ini tinggal di panti asuhan, saya tidak tau siapa orang tua saya” semua orang yang berada di ruangan itu terkejut.
“Darimana kalian saling kenal?” tanya Barata pada Adnan kemudian.
“Bukannya Kakek sudah pasti tau?”
“Jawab saja!”
“Di sebuah lembaga pendidikan” jawab Adnan singkat. Barata langsung terkekeh.
“Rumah singgah maksudmu?” Adnan menatap kakeknya tajam, ia bukan tidak tau jika kakeknya sudah mengetahui segalanya. Hanya saja untuk apa berpura-pura tidak tau jika sudah mengetahuinya.
“Kenapa kamu lebih pilih wanita yang tidak jelas asal usulnya seperti ini sih Adnan?” Kali ini keluarga yang lain ikut berkomentar, Inggita, istri Seno, tante Adnan.
__ADS_1
Hati Anum sakit saat mendengar itu, hampir saja air matanya meluncur, namun tidak, ia akan tetap tenang, berbeda dengan pria di sebelahnya yang sudah berapi-api.
“Tidak jelas bagaimana? Hanya karena berasal dari panti asuhan lalu Anum ini hina, begitu?!” pukas Adnan, membuat inggita terdiam seketika.
“Mohon maaf jika hal itu membuat tante tidak berkenan,s aya juga tidak pernah bisa memilih bagaimana saya akan hidup, pun siapa yang akan melahirkan saya tante” jawab Anum dengan sopan setelah berahil mengendalikan diri, Inggita berdecih dan menatap tajam ke arah Anum.
“Lihat kan, dia sangat tidak sopan”
“Bagian mana yang tidak sopan tante? Anum menjawab perkataan pedas tante dengan nada yang lembut, tante lah yang tidak sopan di sini!” lagi-lagi Adnan meledakkan amarahnya.
“ADNAN! Jaga mulut kamu, kami ini masih keluargamu” ucap Seno yang tidak terima.
“Tante seperti ini karena peduli dengan kamu, apa jangan-jangan wanita ini telah mencuci otak kamu, iyakan?! Dasar wanita ular”
“CUKUP!” Adnan menatap sengit semua anggota keluarganya yang hadir saat ini.
“Saya hadir disini bukan untuk mendengar kalian mencaci maki calon istri saya, dengan atau tanpa restu kalian, saya dan Anum akan tetap menikah” tambah Adnan tepat setelah mengatakan hal yang terakhir, Adnan memandang lurus pada kakeknya.
“Kami mewarisi sifat itu darimu, Kek” Barata tersenyum kecut saat mendengar sindiran cucunya sendiri, memang benar, mereka lemah jika soal wania yang mereka cintai.
“Jika kamu memilihnya, bagaimana dengan Indah? Kamu tidak memikirkan itu?!” tanya barata kemudian.
“Aku tidak pernah menyetujuinya, itu keputusan sepihak yang kalian buat sendiri” jawab Adnan ketus.
“Biarkan Adnan memilih calon istrinya sendiri, Yah” ucap Yuda yang sedari tadi hanya mengamati perdebatan ini.
“Dia sudah besar, dari dulu Adnan tidak pernah mengatakan setuju akan perjodohan itu, bahkan saat pertunangan mereka Adnan memilih tidak hadir” tambah Yuda lagi, Adnan sedikit melunak, ternyata masih ada anggota keluarganya yang masih perduli dan mendengar keinginan Adnan.
Barata hanya terdiam.
“Gak bisa begitu dong Kak Yuda, apa kata keluarga besar Indah kalau kita tiba-tiba membatalkan perjodohan mereka” Ucap Inggita.
__ADS_1
“Kenapa harus memikirkan respon orang lain? Adnan keponakan kita, Anak kita juga, coba sesekali dengarkan maunya, pasti ini tidak akan terjadi” jawab Yuda datar, sesungguhnya ia malas sekali berdebat, namun kali ini, ia pikir Adnan patut di bela, karena ini bukan salahnya.
Adnan hanya memiliki keluarga dari Papanya, sedangkan Mamanya anak tunggal dan kakek nenek dari pihak mamanya sudah meninggal dunia sejak Adnan kecil. Papa Adnan anak pertama dari tiga bersaudara.
“Apa kamu mencintai cucuku, Anum?” Tanya Ningrum yang sedari tadi hanya diam. Anum sempat terkejut dengan pertanyaan itu. Namun setelahnya, ia kembali tersenyum ramah seperti dari awal memasuki rumah ini.
“Iya Nek” Senyum Adnan merekah mendengar itu, selama ini Anum tidak pernah mengatakan apapun soal perasaannya.
“Ya iyalah, Adnan orang kaya, siapa yang gak mau sama dia, coba aja kalau Adnan orang gak punya, pasti kamu gak mau” sinis Inggita, hati Anum serasa diremas-remas saat mendengar itu, tapi ia tak mau gegabah, ia harus tetap tenang, batin Anum.
“Bagi saya itu bukan segalanya tante, harta bisa dicari, tapi cinta, kesetiaan, dan rasa hormat yang Adnan coba berikan kepada saya, membuat saya yakin untuk menerima pinangannya” Anum mengatakan itu dengan tersenyum pada seseorang yang juga tersenyum kepadanya, Adnan.
“Halah, tau apa kamu soal cinta dan kesetiaan, lihat saja setahun dua tahun kamu akan muak dengan kata itu” Inggita kembali meluap-luap, Anum menggeleng pelan.
“Saya yakin Adnan akan terus menjaga ikatan kami kelak, saya juga yakin bahwa Adnan akan menjadi imam yang baik untuk saya” Anum dan Adnan kembali bersitatap dan saling melempar senyum. Semuanya melihat adegan itu, betapa keduanya saling mencintai, itu terlihat jelas dari tatapan mereka berdua.
“Seyakin itukah kamu dengan bocah ini?” tanya Barata membuat Adnan mendnegus keasl karena disebut bocah.
“Saya sudah meminta petunjuk-Nya sebelum memberi jawaban pada cucu kakek ini” Anum diam sejenak sembari menatap Adnan.
“Saya tidak punya apapun untuk di tampilkan, kekurangan saya mungkin lebih banyak dari kelebihan yang saya miliki, satu hal yang membuat saya tidak ragu karena saya percaya dengan ketentuan Allah, seberat apapun itu, meski mungkin tidak indah, saya percaya itu yang terbaik untuk saya”
Barata dan Ningrum diam mendengar itu, sementara Adnan bahagia melihat Anum menghadapi keluarganya dengan anggun dan tetap sopan.
Sekaligus merasa bahwa kini Anum tengah memperjuangkannya dihadapan keluarga.
“Perlu kamu ketahui, Adnan sudah kami jodohkan dengan wanita lain, kalian hanya bisa menikah jika perjodohan ini dibatalkan oleh kedua belah pihak” Barata mencoba menyadarkan kedua manusia yang sedang kasmaran di hadapannya ini.
“Kek, sudah saya katakan bah..” Barata mengangkat tangannya untuk menghentikan cucunya bicara.
“Kakek tau. Semua pilihan ada di tangan kalian, kami hanya akan merestui kalian dengan satu syarat ini” semua orang tampak lega, setidaknya Anum tidak ditolak sebagai calon menantu. Kecuali Inggita dan Seno, mereka satu-satunya orang yang tidak menyukai Anum.
__ADS_1
TBC