
“Halo” sapa Anum saat Adnan menelponnya, terdengar helaan nafas pria itu di sana.
“Aku deg-degan, Num” pipi Anum memerah seketika, ia pun sama, besok mereka akan melangsungkan akad nikah, setelah melalui persiapan selama dua bulan.
Sudah semingguan ini mereka di pingit, sesuai adat jawa yang mengharuskan mereka tidak bertemu selama itu.
“Kamu merasakan hal yang sama kan?” tanya Adnan lagi setelah mereka berdua sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
“Hmmm” hanya itu yang bisa Anum katakan sebagai respon, Adnan tidak tau saja, dia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak akhir-akhir ini.
“Hmmm? Hmm apa?”
“Iya deg-degan juga” cicit Anum, sementara Adnan tersenyum senang di seberang sana.
“Perasaan kita sudah sama ya sekarang, haahhh, tinggal besok aja, tapi aku udah kangen banget sama kamu” jelas Adnan yang mau tak mau membuat Anum kembali tersipu.
“Mas Adnan gak tidur? Sudah malam loh ini”
“Memangnya kamu bisa tidur? Aku sudah mencobanya berkali-kali, tapi gak bisa” Anum menggeleng tanpa sadar mereka hanya melakukan panggilan audio.
“Mas kepikiran apa?”
“Aku takut kamu pergi” ucap Adnan yang langsung dihadiahi tawa oleh Anum.
“Kok kamu ketawa sih? Aku serius ini” kesal Adnan, sebetulnya ia malu mengatakan ini, tapi tidak ada pilihan lain, ia mau beristirahat malam ini, tidak mau terjebak oleh pikiran-pkiran negatif yang ia ciptakan sendiri.
“Ya habisnya Mas Adnan lucu, dengerin Anum ya Mas, kita ada di hotel yang sama, artinya aku masih dalam jangkauan Mas, lagian kalau aku mau kabur, ngapain aku susah-susah nerima lamaran Mas waktu itu?” tutur Anum yang sedikit membuka pikiran Adnan untuk membuang pikiran negatifnya.
Semenjak sore hari Anum sudah diboyong ke hotel tempat mereka melangsungkan pernikahan, alasannya sederhana, agar mereka mudah menyiapkan segalanya untuk besok.
“Gimana kalau musuh bisnisku yang bikin kamu pergi, nyulik kamu misalnya?” tanya Adnan menumpahkan segala kegundahannya.
__ADS_1
“Sejauh apapun aku berpisah dari kamu, kalau kita memang berjodoh pasti aku bakal kembali ke kamu lagi Mas”
“Kamu benar banget, tapi entah kenapa aku tetap gusar kalau gak lihat wajah kamu aman di depanku” lagi, respon Adnan kali ini kembali mengundang tawa Anum.
“Tinggal besok aja kok Mas, aku malah khawatir Mas yang gak dateng besok”
“Kenapa gitu?”
“Ya bisa aja Mas nanti kesiangan bangun dan gak dateng tepat waktu kan?” goda Anum yang membuat Adnan mau tak mau sedikti terhibur.
Lucu juga jika itu benar-benar terjadi, tapi Adnan tidak ingin itu terjadi, ia ingin segera memiliki Anum dalam ikatan pernikahan.
“Iya juga ya, tinggal besok, aku hanya harus bersabar sedikit lagi kan?”
“Iya, Mas Adnan tidur ya, jangan lupa mimpiin aku” goda Anum lagi.
“Udah berani godain aku ya sekarang” ucap Adnan dengan malu-malu. Anum tertawa, Adnan tidak tau saja, saat ini ia merasa malu setengah mati.
“Semua tentang kamu aku suka, Anum” ucap Adnan lirih, namun Anum masih bisa mendengar perkataan manis Adnan itu yang membuat detak jantungnya bersautan tak berirama.
“Mas udah dulu ya, aku ngantuk”
“Ciyeeeeeee, pasti sekarang pipi kamu lagi blushing, ya kan?” seketika Anum meraba pipinya yang menghangat, namun ia lebih memilih memutus sambungan telepon dari pada melayani ejekan Adnan yang sayangnya benar.
***
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Adnan EL-Fatih bin Alm Fatih Aslam dengan Anum Azizah binti Fulan Al Andunusi dengan mas kawin berupa uang senilai 100 juta dan seperangkat alat sholat di bayar tunai” ucap wali hakim dengan tegas sembari bersalaman dengan Adnan untuk proses ijab kabul.
“Saya terima nikah dan kawinnya Anum Azizah binti Fulan Al Andunusi dengan mas kawin tersebut tunai” jawab Adnan dengan satu kali tarikan nafas, aura kelegaan terpancar dari wajah tampan Adnan kali ini.
“Bagaimana saksi? Sah?”
__ADS_1
“Sah”
Semua orang langsung mengucapkan hamdalah, memanjatkan syukur karena lancarnya prosesi sakral nan suci ini, tidak terkecuali dua pengantin yang hari ini sedang berbahagia.
Anum dan Adnan yang saat ini masih terpisah senantiasa mengucap syukur dan berdo’a untuk kelangsungan rumah tangga mereka dengan status suami istri yang saat ini mereka sandang.
Setelah selesai berdo’a Adnan dan para hadirin di persilahkan berdiri untuk menyambut sang pengantin wanita yang akan memasuki Hall untuk menemui suaminya untuk pertama kali.
Mata keduanya terpaku pada satu titik, saling pandang seakan tidak ada lagi objek yang bisa dilihat selain pasangan mereka, Anum tersenyum manis pada Adnan yang kini malah menangis haru, tidak menyangka bahwa Allah mempermudah semuanya, ketakutan Adnan semalam sudah sirna, berganti dengan kelegaan karena berhasil mengikat Anum untuk berlayar bersamanya.
Setelah keduanya berhadapan, Adnan memegang puncak kepala Anum dan melantunkan do’a denga lirih, kemudian Anum diperintahkan untuk mencium tangan suaminya sebagai bentuk baktinya pada sang suami, pun Adnan yang langsung mengecup kecing Anum dengan khidmat sebagai bukti kasih dan sayangnya.
Keduanya langsung menandatangani berkas dan bertukar cincin disaksikan oleh para tamu undangan dan para keluarga.
Setelah menerima ucapan selamat dari para tamu, keduanya dipersilahkan untuk istirahat sejenak sebelum acara resepsi yang juga di gelar pada hari yang sama dilaksanakan, Anum diam saat keduanya berjalan beriringan menuju kamar pengantin.
Jantungnya semakin bertalu saat Adnan membuka pintu kamar mereka dan mempersilahkan Anum untuk masuk terlebih dahulu.
Dari mata cantiknya, Anum melihat Adnan yang juga masuk dan mengunci kamar mereka dari dalam, ini pertama kalinya bagi Anum berada dalam satu kamar dengan seorang pria.
“Boleh peluk?” mata Anum membola saat Adnan bertanya dengan tatapan penuh harap seperti itu, namun ia segera mengangguk, tidak baik menolak suami saat ia baru saja resmi menjadi seorang istri.
Tubuh hangat Adnan langsung melingkupi tubuh mungil Anum yang berbalut kebaya syar’i sederhana namun tetap elegan, sesuai pilihan Adnan.
“Terimakasih sudah mau mendampingi aku disisa hidupku ya Anum, aku beruntung sekali memiliki kamu dalam hidupku saat ini” hati Anum menghangat, ia merasa sangat dicintai oleh suaminya sendiri, ia lantas mengeratkan peluknya pada Adnan, seolah berkata bahwa ia juga sama beruntungnya memiliki Adnan dalam hidupnya.
“Bimbing Anum selalu ya Mas, tegur Anum kalau ada salah” Adnan merenggangkan pelukan mereka untuk dapat emnatap wajah cantik Anum yang semakin mempesona dengan makeup natural.
“Pasti, kita belajar bersama ya” Anum mengangguk dan kembali mengeratkan pelukan mereka.
Tidak ada yang menyangka bahwa benih-benih cinta dapat tumbuh subur dalam diri keduanya, melalui pertemuan yang sama sekali tidak disangka-sangka, tapi seperti itulah konsep jodoh kan? bukan karena mereka bertemu lalu berjodoh, tapi karena mereka jodoh maka mereka dipertemukan dan dipersatukan.
__ADS_1
TBC