Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 33


__ADS_3

Anum terpaku di tempatnya melihat ruangan sang suami yang biasanya rapi kini sudah berantakan, juga ada bingkai foto dirinya yang sudah remuk dan berlumuran darah.


Tak


Bekal makan siang yang sudah Anum siapkan susah payah kini sudah berserakan menambah kekacauan dalam ruangan itu.


Farhat yang mendengar itu segera keluar dari ruangan yang biasa di pakai untuk beristirahat.


Pria bersneli putih itu terkejut saat melihat siapa yang datang, jika sudah seperti ini tidak mungkin Anum tidak akan tau.


Lagi-lagi Farhat menghela nafasnya kasar.


“Num” pandangan kosong itu berubah penuh tanya saat melihat Farhat di hadapannya.


“Bang, ini ada apa? Mana Mas Adnan?” tanya wanita hamil itu dengan parau, bahkan air matanya meleleh seketika.


Rasanya Farhat tidak mampu menatap wajah terpuruk istri sahabatnya ini, ia pun tau jika Anum masih belum sepenuhnya sembuh dari luka kehilangan itu.


“Bang?! Mas Adnan gapapa kan?! jawab dong Bang!” histeris Anum, bahkan ia tak segan-segan mengguncang tubuh Farhat sedikit kencang.


“Adnan di dalam Num” tanpa memperdulikan sekitar Anum segera memasuki ruangan istirahat suaminya.


Benar saja, Adnan terbaring disana dengan infus dan perban di tangannya.


Dengan langkah pasti Anum mendekati suaminya.


Tangan hangatnya menggenggam tangan besar itu hati-hati, dikecupnya tangan itu dengan lembut.


Bukan pertemuan seperti ini yang Anum harapkan, padahal ia sudah memasak makanan kesukaan Adnan, berharap mereka bisa makan bersama sembari mengikis rindu yang sebenarnya sudah menumpuk.


Air matanya terus mengalir disertai isakan kecil yang memilukan, tapi Adnan tetap terpejam.


“Adnan akan baik-baik saja Num, tenanglah” pandangan Anum beralih pada Farhat yang sudah berada di seberang ranjang, berhadapan dengan dirinya.


“Sebenarnya ada apa Bang? Kenapa Mas Adnan seperti ini?”


“Intermitten Explosive Disorder”


Serangkaian kata asing yang baru saja Anum dengar, satu yang Anum tau, itu sebuah nama penyakit.


“Adnan pasti menjauhi kamu kan akhir-akhir ini?” Anum mengangguk dengan rasa penasaran yang semakin menumpuk.


“Dia sengaja melakukan itu Num, Adnan punya gangguan mental, Intermitten Explosive Disorder, gangguan yang membuat penderitanya kesulitan mengontrol emosi dan bersikap kasar” Anum menutup mulutnya tak percaya, berkali-kali ia menatap wajah damai suaminya, sama sekali tidak menyangka jika pria yang selama ini menemaninya memiliki sakit secara psikis.


“Yang kamu lihat di depan adalah salah satu contohnya, dia menjauhi kamu untuk menjaga kamu dari emosinya yang tidak stabil itu, Adnan takut menyakiti kamu” tambah Farhat membuat Anum kembali menangis.


Ternyata seperti inilah rasanya tidak mengetahui hal penting tentang pasangan, Anum menyadari itu, dan rasanya menyakitkan, kini dia tau apa yang Adnan rasakan.

__ADS_1


“Tapi Mas Adnan akan sembuh kan? itu bisa disembuhkan kan Bang?” bahu Anum merosot saat melihat gelengan samar dari Farhat.


“Sembuh atau tidaknya gangguan itu hanya Adnan yang bisa mengontrol, dengan semangat untuk sembuh yang tinggi dan berkurangnya tekanan yang Adnan terima akan membuatnya setidaknya tidak mudah kambuh”


Anum tau perusahaan Adnan sedang dalam masalah, meski tidak tau pasti masalah apa itu, jika memang benar terjadi, Anum yakin Adnan kambuh karena itu.


Anum akan mencari tau sebesar apa masalah suaminya.


Karena ada panggilan dari rumah sakit Farhat terpaksa meninggalkan Adnan bersama Anum.


Wanita itu keluar dari ruangan saat cleaning service sudah membersihkan kekacauan yang terjadi.


Dia duduk menunggu seseorang.


Cklek.


Rudi.


“Duduk Rud” pria itu hanya mengangguk dan menuruti perintah istri bosnya.


“Boleh saya tau sebesar apa masalah perusahaan?”


“Maaf nyonya, Pak Adnan memerintahkan saya untuk tidak memberitahukan hal ini pada siapapun” jawab Rudi seraya terus menunduk, ia tidak siap jika harus kembali dimarahi, dalam seharian ini sudah ada dua orang yang memarahinya.


“Tapi saya istrinya Rud”


“Suami saya tidak pernah marah sebelumnya Rud, dan hari ini saya bisa melihat kemarahannya, saya istrinya, saya hanya ingin tau masalah apa yang membuat suami saya begitu marah” Anum sengaja menjeda kalimatnya, ia ingin meluluhkan hati Rudi dengan kata-kata.


“Informasi itu mungkin tidak akan berpengaruh apapun jika saya mengetahuinya, karena saya tidak memiliki pengalaman dalam mengurus perusahaan, tapi setidaknya itu bisa membuat saya tau bagaimana harus bersikap agar tidak menambah masalah suami saya, kamu tau kan Mas Adnan sudah tidak pulang ke rumah beberapa hari ini?” Rudi mengangguk.


“Saya takut Pak Adnan akan marah jika saya memberitahukan ini pada Nyonya”


“Saya akan melindungi kamu”


“Ada apa ini?!” keduanya berdiri gugup saat orang yang tengah mereka bicarakan sedang berdiri di ambang pintu.


“Informasi apa yang mau kamu tau Num?”


“Mas.. itu..”


“Kamu! Keluar!” tunjuk Adnan pada Rudi, tanpa buang waktu pria itu segera undur diri.


Adnan menatap istrinya lekat, saat pintu sudah tertutup Anum segera berlari menghampiri suaminya, memeluk tubuh pria yang akhir-akhir ini ia rindukan.


“Kamu bisa bertanya apapun padaku Num, jangan tanyakan itu pada lelaki lain, aku tidak suka!” hardiknya sembari melepas paksa pelukan Anum dan berlalu pergi kembali pada ruangan istirahatnya.


Ada pergolakan dalam batin Adnan saat tanpa sengaja ia mendengar isakan kecil lolos dari bibir istrinya.

__ADS_1


Ini yang ia takutkan, tanpa sengaja ia sudah menyakiti Anum.


Kaca besar yang terpampang di lemari baju itu menampakkan tubuhnya yang berantakan, Adnan kembali benci menatap potret dirinya.


Rasa bersalah itu muncul kembali.


Harusnya ia bisa sedikit sabar, harusnya Adnan tidak melepas paksa pelukan istrinya, harusnya..


Adnan geram.


Ia benci pada dirinya sendiri.


“Laki-laki brengsek!”


Bug


Pyar


Kaca retak itu menampakkan wajah Anum bersama jejak tangisnya.


Adnan semakin merasa berdosa.


Tangan bebasnya mengambil pecahan kaca itu lalu menggenggamnya kuat, darah segar perlahan menetes, Adnan sedikit merasa puas, tangannya yang menampik pelukan istrinya tadi harus dihukum!


“Mas, sudah tangan Mas berdarah!” ucap Anum sembari berusaha melepas genggaman Adnan, tapi ia tidak bisa.


Mata wanita itu memejam dan mengecup tangan Adnan lama “Mas Anum mohon, demi Anum dan anak-anak Mas, jangan lakukan ini” lirihnya membuat Adnan menyadari sesuatu, genggamannya mengendur.


Anum bisa merasa lega.


“Kamu bilang apa tadi?” tanya Adnan masih tak percaya dengan pendengarannya.


Anum mengangguk berkali-kali sembari menahan tangis, meski air matanya tetap bisa meluncur bebas, perlahan ia membuka tangan Adnan, dan mengambil pecahan kaca itu lalu menempatkannya pada perut tanpa peduli bajunya akan kotor dengan darah.


“Disini, ada anak-anak kita” Adnan menatap istrinya tak percaya.


“Anak-anak?” Anum mengangguk, mata Adnan melebar.


“Mereka kembar?!” Anum tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan suaminya.


“Num mereka kembar?” desak Adnan dengan penasaran.


“Iya Mas”


“Alhamdulillah” ucap Adnan penuh syukur sembari memeluk istrinya.


“Maaf Num, Maafin Mas” sesalnya, bukannya menjawab Anum malah semakin merekatkan pelukan mereka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2