
“Tembak dia!!”
Adnan menggeleng lemah.
“Tembak!!! Luapkan semua dendammu”
Dorrr!!!
Tubuh Adnan membeku, di hadapannya Adrian sudah bersimpuh dengan darah yang mengucur dari dadanya.
Adnan sudah membunuh sepupunya sendiri.
“Apa yang kamu harapkan dari Kakek saat itu? Salah satu pewaris kakek meninggal, lalu salah satunya lagi harus menjalani pengobatan psikis” ucap Barata menarik Adnan dari lamunannya dan menoleh pada pria tua yang kini menerawang ke depan, bisa Adnan lihat seberapa besar luka di hati kakeknya.
“Habis, semua harapan kakek saat itu hancur tak bersisa”
Adnan mengerti kondisi kakeknya sekarang, “Aku sudah membunuhnya Kek, aku pembunuh” ucap Adnan lirih, traumanya kini kembali.
Dengan sigap Barata meremas lengan cucunya, “Kamu tidak bersalah, bukan kamu yang menembak Adrian” ucap Barata yang kembali menekankan kalimat sebelumnya.
“Aku memegang pistol saat itu” ungkap Adnan yang masih tak bisa menerima pernyataan kakeknya.
“Tapi bukan pelurumu yang bersarang di tubuh saudaramu, dan lagi, apa kamu tau, luka tembak itu terletak di belakang, ada banyak cerita yang tidak kamu ketahui Nak, selama ini kamu hanya menelan fakta yang salah”
Adnan bergeming, ia tak lagi mengelak, satu fakta tadi saja sudah membuatnya senang, setidaknya ia tidak lagi malu bertemu dengan anak-anaknya karena sebenarnya ia bukan pembunuh.
“Tuan..”
Pembicaraan keduanya terjeda saat salah satu perawat mendatanginya.
“Ada apa sus?”
“Istri anda akan dipindahkan tolong urus adminitrasi kamarnya”
Adnan mengangguk, saat hendak pergi, Barata mencegah cucunya, “Sudah Kakek urus, Anum akan ditempatkan di kamar VVIP”
Karena anak-anak Adnan lahir prematur, maka bayi-bayi itu tidak bisa ikut dengan ibunya dan harus menetap di ruangan intensif untuk bayi bergabung dengan bayi prematur lainnya.
“Terimakasih Kek” Barata mengangguk.
__ADS_1
“Temui istrimu, Kakek akan pulang sebentar, kamu juga butuh istriharat, Kakek akan berkunjung lagi nanti” Adnan mengangguk, tak lama brankar Anum yang di dorong para perawat keluar dari ruangan.
Adnan membuntuti kemana para perawat itu membawa istrinya, mata Adnan asik menatap Anum yang masih asik memejamkan mata.
Harusnya kini Adnan bercerita pada Anum mengenai fakta baru tentang kejadian yang mengubah hampir seluruh hidup Adnan setelah kematian kedua orang tuanya.
Harusnya..
Tak lama mereka sudah sampai di sebuah kamar yang mewah yang hanya berisikan satu orang, Adnan menggumamkan terimakasih saat para perawat itu berpamitan keluar.
Kini di ruangan itu hanya ada dirinya dan sang istri, Adnan duduk di sebelah brankar, tangannya menggenggam tangan Anum yang terasa dingin.
Dari banyaknya hari yang tidak menyenangkan hari ini adalah hari yang terburuk bagi Adnan.
“Jangan tinggalin Mas dan anak-anak Num, kami masih membutuhkanmu” ucap Adnan parau.
Hening.
“Kamu harus bangun dan melihat anak yang sudah berhasil kamu lahirkan sayang, Mas belum mengucapkan terimakasih, ayo bangun, kita besarkan mereka bersama Num”
Lagi-lagi tak ada jawaban.
Adnan menggerang frustasi, air mata meluncur dari pelupuk matanya, dirinya merasa lelah hingga tak bisa lagi menyangga kepala yang ia jatuhkan begitu saja diatas tangan istrinya yang sedang ia genggam.
Hingga ia merasakan remasan pelan di bahunya dan menoleh.
Barata.
Hari sudah berganti, bahkan Adnan tidak sadar berapa lama ia tertidur, lalu ia mendesah kecewa saat Anum masih tertidur dengan damai.
Seakan mengetahui keresahan cucunya, Barata mengusap pelan punggung Adnan, “Bukan hanya istrimu yang butuh perhatian dari mu Nak, jangan lupakan kedua anak mu, mereka juga butuh suport yang sama dari Papanya”
Sekali lagi Adnan menangis, ia merasa sudah sangat egois pada anak-anaknya, “Aku harus menemui mereka Kek” Barata mengangguk, menyetujui keputusan cucunya.
“Pergilah, istrimu biar kakek yang menjaganya” setelah mengucapkan terimakasih, Adnan keluar.
Ruangan bayi tidak jauh dari ruangan istrinya berada, hanya sekitar lima belas menit Adnan sudah ada di depan ruangan kaca.
Adnan merasa miris saat melihat ada anak yang lebih kecil dari pada bayi-bayinya, pria itu tak bisa membayangkan perasaan orang tua bayi mungil itu.
__ADS_1
“Bayi anda yang mana Pak?” Adnan menoleh, ada lelaki sebayanya juga menatap lurus ke depan tempat di mana bayi-bayi itu berada.
Wajah pria itu nampak kuyu, seperti baru saja melalui malam-malam berat sebelum ini.
Dengan yakin Adnan menunjuk inkubator besar yang berisi dua bayinya, “Kembar?!” pekik pria itu heboh.
Adnan kembali menatap bayi-bayinya sembari mendengarkan ungkapan takjub pria di sebelahnya.
Sedikit tersenyum Adnan mengangguk, “Bayi anda juga disini?”
Pria itu mengangguk, “Saya Tio, anda?” tanya pria itu memulai perkenalan mereka.
“Saya Adnan”
Pria bernama Tio itu mengangguk, “Kita senasib rupanya”
Adnan diam, mempersilahkan lawan bicaranya untuk menyuarakan pendapatnya.
“Anak saya ada di situ” tunjukknya pada inkubator tepat di hadapan mereka, bayi mungil yang terdapat banyak sekali alat medis di tubuhnya.
Adnan semakin tak bisa berkata-kata, selain tak bisa beramah-tamah dengan orang lain, ia juga takut salah bicara dan malah membuat pria di sebelahnya ini semakin sedih.
“Saya tidak tau apa yang membuat Tuhan mempercayai cobaan ini untuk saya, anak itu adalah anak yang saya dan istri tunggu selama bertahun-tahun, apapun kami usahakan demi keberlangsungan hidupnya dalam rahim istri saya, tapi dia malah memilih lahir sebelum waktunya” ucap Tio yang diakhiri tawa.
Ada nada getir di dalam tawa pria itu, Adnan bisa merasakannya, karena Adnan juga mengalami hal yang serupa.
“Semuanya akan baik-baik saja” ucap Adnan yang bukan hanya untuk menenangkan lawan bicaranya, itu juga sugesti yang selalu ia ucapkan, bagaikan doa baik yang berharap bisa dikabulkan oleh Sang Pencipta.
“Ya saya juga mengharapkan itu, tahukah anda, saya punya uang, saya bisa membawa anak saya berobat kemanapun asal dia sembuh dan sehat seperti bayi lain, tapi kondisinya riskan untuk dibawa perjalanan jauh, saya merasa uang saya tidak ada gunanya”
Adnan pernah merasakan itu di saat-saat terakhir orangtuanya sebelum meninggal dunia, Adnan bisa saja meminta kakeknya menjual apapun untuk kesembuhan kedua orang tuanya, tapi nafas yang sudah sampai tenggorokan tidak bisa diminta untuk menetap kembali.
Nyatanya uang tak bisa membeli nyawa seseorang untuk tetap tinggal atau sekedar di perpanjang masa hidupnya.
“Maaf saya jadi curhat” ucap Tio yang menyadarkan Adnan dari lamunannya.
“Tidak apa, semoga Anak anda akan baik-baik saja ya Tio”
“Terimakasih, doa yang sama juga untuk anak-anakmu” setelahnya mereka menghabiskan waktu dengan berbincang ala pria.
__ADS_1
Hingga perbincangan keduanya terhenti karena alarm emergensi yang menggema di susul dengan para medis yang berlarian.
TBC