
“Sebenarnya ada apa dengan Mas Adnan, Bang Haqi?” Baihaqi hanya bisa menatap istri sahabatnya lamat-lamat, setelah menerima pesan dari Farhat pria itu langsung memutuskan untuk kesini.
“Kamu sudah tau kan kalau Adnan itu sakit?” Anum menatap Baihaqi dengan bingung, dia rasa Adnan pergi dalam keadaan sehat.
“Bukan saki fisik yang aku maksud Num” perlahan Anum mulai mengerti arah pembicaraan lelaki jangkung di hadapannya.
“Mas Adnan sedang kambuh saat ini?” Baihaqi mengangguk membuat Anum yang awalnya bersikap santai mulai merasakan ketegangan.
Perut anum mendadak kram hingga perempuan itu merintih.
“Kamu tidak apa-apa Num?” sejenak ia mengumpati keputusan Farhat yang memintanya untuk memberitahu wanita hamil dihadapannya ini tentang apa yang terjadi, tapi Baihaqi tidak bisa berbuat apa-apa.
Jika farhat sudah berkata keadaan genting, maka suasana disana sudah dipastikan lebih kacau dari bayangannya, apalagi jika menyangkut kesehatan mental Adnan.
Baihaqi akan lebih memilih menuruti perkataan sahabat gilanya itu.
“Tidak apa-apa Bang, hanya sedikit terkejut” Baihaqi hanya bisa mengangguk maklum.
“Maaf Num, tapi Farhat yang memintaku untuk menyampaikan ini sekaligus mengantarmu kesana, Adnan butuh kamu disana”
“Tidak apa Bang, ayo Anum sudah siap” melihat ketabahan istri sahabatnya ini Baihaqi tidak bisa untuk tidak kagum, kini ia tau mengapa Adnan mati-matian memperjuangkan Anum.
“Ayo” mereka berdua berjalan menuju kendaraan roda empat yang biasa Haqi gunakan, untuk mempersingkat waktu mungkin mereka akan menggunakan transportasi udara.
“Bang”
“Ya?”
“Boleh Anum tau apa yang membuat Mas Adnan menjadi seperti sekarang?” tanya Anum hati-hati, Baihaqi memilih diam untuk sesaat, jakunnya bergerak naik-turun gugup.
“Maksud Anum, pasti ada kejadian yang begitu besar dan membekas di benak Mas Adnan, apa Abang tau sesuatu?” Baihaqi menatap sekilas Anum di sebelahnya.
Sesungguhnya ini bukan kapasitas Baihaqi untuk menjelaskan pada Anum, tapi melihat hingga saat ini sahabatnya itu tidak pernah bercerita mengenai ini membuat Baihaqi sedikit bimbang, haruskah ia menceritakan masa kelam sahabatnya?
Melihat respon Baihaqi yang terdiam membuat Anum sedikit kecewa, wanita hamil itu sudah tidak tau lagi harus bertanya pada siapa.
“Dulu, keluarga Adnan mengalami pembantaian” setelah menimbang segalanya Baihaqi memutuskan untuk sedikit bercerita, sedikit saja.
Anum terpaku di tempatnya.
Merasa Anum paham jika ia tidak bisa lagi menceritakan sesuatu yang lebih dari itu, Baihaqi memilih untuk fokus mengemudi.
Masa itu adalah masa terberat bagi Adnan, Baihaqi menghela nafas lelah, kejadian menyesakan dada yang membuat Adnan berubah total hingga nyaris seperti orang lain.
Baik Baihaqi dan Farhat tidak pernah lupa bagaimana susahnya memulihkan Adnan yang kacau nyaris hancur.
__ADS_1
***
Dengan terengah Adnan memeluk tubuh sang Mama yang hendak pergi meninggalkannya, “Adnan, dengar Mama ya, apapun yang terjadi Adnan tidak boleh keluar dari sini, jangan bersuara sekecil apapun, Adnan harus tetap sembunyi, jangan percaya pada siapapun kecuali hati Adnan sendiri yang memilih untuk percaya, Adnan mengerti?” dengan berderai air mata Adnan mengangguk tapi masih enggan melepas genggaman tangannya.
“Ma, mama juga sembunyi aja disini, orang itu sepertinya orang yang jahat”
Mama Adnan menggeleng pelan, “Jika Mama disini siapa yang akan membantu Papa disana, jangan menangis Nak” jemari itu mengusap pipi basah Adnan dengan lembut lengkap dengan senyuman yang seolah mereka tidak sedang dalam bahaya.
Dor!
Dua manusia itu berjingkat kaget, Mama Adnan tergerak memeluk putranya, ia menyembunyikan tangisan dan ketakutannya hanya untuk menguatkan sang putra.
Pelukan mereka terurai, dua tangan lembut itu asik membingkai wajah kecil Adnan “Janji sama Mama, kamu gak akan jadi orang jahat” Adnan mengangguk.
“Janji sama Mama kalau Adnan akan jadi orang yang bijaksana dan bertanggung jawab” lagi-lagi Adnan mengangguk.
“Janji sama Mama apapun yang terjadi, kamu akan terus berbuat baik pada siapapun” kali ini Adnan diam, menatap mata sang Mama lekat.
“Adnan, janji sama Mama!” seru sang Mama panik, mau tak mau Adnan mengangguk.
“Sembunyi Nak!” Adnan bergerak ragu meninggalkan sang Mama.
“Cepat Adnan!” pekik Mama Adnan panik.
Begitu atap kamar itu tertutup Mama Adnan meringkuk memeluk tubuhnya sendiri juga sang bayi, Adik Adnan.
“Bersembunyi disini rupanya, tempat persembunyian yang aman” sarkas salah satu diantara mereka.
“Kalian boleh bunuh saya, silahkan” pasrah Mama Adnan mengundang tawa keduanya.
“Membunuh? Tidakkah kita boleh bersenang-senang terlebih dahulu” Mama Adnan mundur teratur, diikuti keduanya.
Hingga punggung Mama Adnan terbentur pegangan balkon dua pria itu menyeringai.
“Mau kemana lagi? Hmm?”
Tanpa mereka prediksi Mama Adnan menaiki pembatas itu dan meluncur bebas ke bawah sana mengundang desah kecewa keduanya.
Ada anak yang berteriak tanpa suara disana, tepat diatas mereka, dengan Air mata berderai Adnan kecil menggigit tangannya hingga berdarah.
“Mama!!!”
“Mas..” Adnan yang terengah dengan buliran keringat yang sudah tak terdefinisi sebesar apa menoleh ke sumber suara.
Air matanya kembali berderai, Anum mendekap tubuh sang suami, bisa wanita itu rasakan sebesar apa ketakutan suaminya.
__ADS_1
“Istighfar Mas, itu hanya mimpi, semuanya akan baik-baik saja, ok?” diantara ketakutan itu Adnan mengangguk, tangannya masih melingkari tubuh Anum, khawatir ia akan sendirian seperti sebelumnya.
Meski Anum tidak tau apa yang ada dalam mimpi pria itu sebelumnya.
Anum mengusap lembut punggung Adnan teratur hingga dapat ia rasakan tubuh Adnan memberat, prianya kembali tertidur.
Setelah merasa Adnan sudah pulas direbahkannya kembali tubuh besar itu, Anum mengusap peluh yang masih menghiasi wajah suaminya.
Dia tidak pernah menyangka suaminya mengalami kisah pilu itu di usianya yang masih belia, Anum menutup mulutnya kala isakan itu meluncur dari bibirnya.
Diantara semua yang Anum lakukan untuk Adnan, ada Indah yang baru saja akan masuk untuk menawari baju ganti pada Anum.
Naasnya ia malah melihat keromantisan keduanya, dimana Adnan dapat dengan mudah tertidur di pelukan Anum yang mana jika bersamanya jangankan seperti itu, berdekatan saja Adnan sudah siaga satu untuk menghindar sejauh-jauhnya.
“Tau kan sekarang kenapa kamu tidak bisa diterima Adnan?” ucap Baihaqi tiba-tiba, jika saja Indah bukan wanita sudah ia hajar sejak dulu kala, Baihaqi paling tidak suka jika orang terdekatnya diusik.
Merasa sekali lagi tak diterima, Indah memilih pergi, menghindari semuanya.
Teras depan rumahnya, Indah membenturkan kepalanya berkali-kali pada tembok, lagi-lagi ia buta entah karena cinta atau obsesinya untuk memiliki Adnan, wanita karir itu sudah tidak bisa membedakan mana baik dan buruk dari sesuatu.
“Indah..”
Setengah kaget Indah menoleh saat mendengar suara yang sangat ia rindukan.
“Gladys...” ucapnya dengan air mata yang berderai, wanita itu merentangkan tangannya membuat sang sahabat berhambur ke dalam pelukannya.
“Dys, aku...”
“Ssstttt, sudah, aku sudah tau semuanya kok, sudah puas kan main-mainnya? Jangan lagi seperti itu ya Ndah”
Indah mengangguk.
Setelah puas temu kangen satu pertanyaan muncul di benak Indah.
“Kamu kok tau??” Gladys tersenyum malu, mengundang rasa penasaran Indah.
“Gladys ihh, cerita gak...” desaknya.
“Aku tau dari calon suamiku” mata Indah membola.
Gladys tertawa melihat respon sahabatnya, “Mas Farhat”
“A-apa?” Gladys mengangguk malu.
“Dia pria yang dijodohkan kedua orang tuaku”
__ADS_1
TBC