Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 7


__ADS_3

Masih di tempat yang sama, tiga manusia sesama jenis kembali terdiam setelah berhasil mengumpati salah satu dari mereka yang sedang kebingungan dengan perasaannya.


Adnan memandangi dua sahabatnya kini terdiam dengan mata yang menatapnya nelangsa.


“Ahh! Sebel Ane!” teriak Farhat tiba-tiba yang membuat Adnan dan Baihaqi terkejut.


“Sabar Far, inget, terlalu emosi dapat menyebabkan hipertensi, dan hipertensi dapat beresiko kematian, jangan mati dulu, oke?!” kalimat penenang dari Baihaqi itu bukannya menenangkan malah membuat Farhat menatap Baihaqi yang berada di sebelahnya dengan sengit.


“Sialan! Ente doain Ane cepet mati?! Hah?!” Baihaqi hanya menggeleng dengan tawa jenakanya.


“Ente juga Nan?! Kuliah S-S an sampe 3 kali nyatanya ente dungu juga ya?!” Farhat mengatakan itu dengan nafas yang memburu, gemas sekaligus kesal terhadap Adnan, sementara Baihaqi hanya tertawa, menertawakan Adnan yang lugu dan polos, juga Farhat dan dirinya yang sempat geblek juga menghadapi kepolosan Adnan.


Dapat mereka maklumi jika Adnan bersikap seperti ini, selama hidupnya, Adnan hanya belajar, belajar dan belajar. Yang tidak mereka sangka, sahabatnya akan sebodoh ini membaca perasaannya sendiri.


“Apa hubungannya kuliahku dengan masalah ini?” Farhat meraup wajahnya kasar, sementara Baihaqi mendengus sebal.


“Gini Nan, sebelumnya ceritain dulu tentang Anum tadi, baru kita bisa jelasin ke kamu apa yang terjadi disini” ucap Haqi, Adnan diam sesaat, namun setelahnya ia mengangguk dan menceritakan semua tentang Anum, yang sudah berbulan-bulan menghiasi hidupnya.


“Jadi gitu.. ” Adnan mengakhiri ceritanya dengan nafas lesu.


“Itu namanya kamu lagi jatuh cinta, Nan” Adnan membelalakkan matanya.


“Sama siapa?” tanya Adnan lagi, kali ini Farhat hanya bisa menahan tangannya yang sudah teramat gatal untuk menimpuk sahabatnya sendiri.


“Sama Rudi?!” jawab Farhat kembali sewot sementara Baihaqi tertawa lebih kencang dari sebelumnya.


“Ya, sama Anum-Anum tadi dong Nan, gimana sih?!” jawab Baihaqi menengahi kedua sahabatnya sebelum terjadi pertarungan sengit.


Adnan termenung, apakah benar ia sedang jatuh cinta dengan Anum?


“Udah jangan bengong, nanti kesambet tau rasa” ketus Farhat yang masih agak jengkel dengan Adnan.


“Memangnya jatuh cinta itu kayak gini?” Farhat dan Baihaqi mengangguk, membenarkan perkataan Adnan.

__ADS_1


“Tapi rasanya, ini terlalu cepat, ku rasa Anum juga sulit menerima jika aku langsung menyatakan cinta padanya” lagi, dua sahabat Adnan hanya bisa menggelengkan kepala sembari berdecak kesal.


“Cinta itu gak butuh waktu lama Nan, banyak yang lama kenal, yang lama dekat juga akhirnya berpisah, meskipun itu juga gak bisa dijadikan patokan” Adnan memandang Farhat dengan seksama sembari pelan-pelan meraba perasaannya sendiri.


“Lalu, jika tidak sekarang, apa kamu yakin akan baik-baik saja, jika keduluan dengan lelaki yang bersama Anum hari ini?” giliran Baihaqi menyuarakan pendapatnya.


“Mumpung belum ada janur kuning melengkung atau ikrar khitbah yang akan membuatmu haram memperjuangkannya, Nan” tambah Haqi sembari menepuk bahu Adnan, berharap ia akan paham dan memiliki semangat untuk memperjuangkan cinta pertamanya.


Adnan masih diam, pelan-pelan ia mencerna perkataan sahabatnya. Memang ia sangat senang saat berdekatan dengan Anum. Tutur katanya, wajah ayunya, kelembutan sikapnya, Adnan suka semuanya, asalkan itu Anum.


Melihat Anum yang bisa tertawa lepas dengan lelaki lain saja bisa membuat mood Adnan turun drastis dalam sesaat.


“Sudah jangan terlalu dipikirkan Nan, percaya saja jika Anum memang jodohmu, dia akan tetap jadi milikmu siapapun lawanmu nanti” Adnan memandang Farhat yang kini menepuk bahunya pelan untuk menyadarkan Adnan dari lamunannya.


“Pastikan perasaanmu dulu Nan, mintalah petunjuk dari-Nya” kali ini Adnan hanya mengangguk, saran Baihaqi juga tidak ada salahnya.


“Mas Adnan” sapa seorang yang membuat tiga pria yang sedang berkumpul itu menoleh ke sumber suara. Adnan menegang setelah tau siapa yang menyapanya, Husna, dan Anum yang berdiri di sebelahnya.


“Loh, dokter Farhat disini juga?!” Husna yang tidak bisa menunjukkan rasa terkejutnya langsung berteriak heboh.


“Kok tadi gak ke rumah singgah mas?” tanya Husna pada Adnan.


“Maaf tadi sedang banyak pekerjaan” kilah Adnan, kedua wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


“Na, udah dapet? Yuk kita pulang, kasihan Anum” tanya seorang lelaki yang tiba-tiba muncul dan kembali mengejutkan ketiga pria tersebut, terutama Adnan.


“Bentar mas, kenalin, ini Mas Adnan, yang sering main ke rumah singgah dan menemani Anum mengajar anak-anak. Mas adnan, ini calon suami Husna, mas Faisal” Adnan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Faisal, lelaki yang bercanda ria bersama Anum tadi.


Rupanya dia calon suami Husna. Dada Adnan terasa lebih plong sekarang.


“Saya Adnan Mas” lelaki itu mengangguk sopan dan membalas uluran tangan Adnan.


“Saya Faisal, salam kenal mas Adnan” suasana berubah menjadi canggung.

__ADS_1


“Oh iya, kalau ini dokter Farhat, rekan kerjaku di rumah sakit” Farhat juga melakukan hal yang sama dengan Adnan, kemudian Baihaqi juga memperkenalkan diri. Mereka juga sempat berkenalan dengan Anum.


Karena ada keperluan lain, Anum, Husna dan Faisal undur diri, tinggallah mereka bertiga lagi.


Adnan bisa melepas kepergian mereka dengan gembira.


“Pinter banget cari calon Nan, Anum cantik dan anggun banget” celetuk Haqi, membuat Adnan langsung menatapnya tidak suka.


Merasa di pandang seseorang dengan garang Haqi menoleh ke arah Adnan yang seperti sudah siap memakannya hidup-hidup, “Ah elah, cuman ngomong Nan gak ada niat ngerebut kok, tenang”


Adnan kembali lega mendengar itu, ia sangka akan berebut Anum dengan sahabatnya sendiri.


“Aku doakan kamu bertemu dengan wanita seanggun dan secantik Anum, tapi bukan Anum” Haqi mendengkus mendengar kalimat aneh itu, tanpa butuh petunjuk apapun Haqi sudah yakin bahwa Adnan sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada wanita bernama Anum.


“Aamiin, makanya pepet terus si Anum biar gak keduluan sama cowok yang kamu ceritain tadi” celetuk Haqi mengingatkan sahabatnya dengan musuh yang sebenarnya, bukannya kembali mendung Adnan justru menggeleng sembari tersenyum senang.


“Itu lelaki yang tadi sore, ternyata dia calon suami Husna” ucap Adnan dengan lega.


“Ciyeee, gak jadi patah hati si Adnan” Baihaqi kembali menggoda Adnan, ia juga bahagia jika sahabatnya tidak lagi terluka karena cinta.


“Ane yang patah hati” ucap Farhat dengan sedih, Adnan dan Baihaqi saling pandang kemudian kembali memandang Farhat yang sudah berwajah masam.


“Husna itu perempuan yang rencananya mau Ane khitbah minggu depan, ternyata dia sudah punya pawang” ungkap Farhat dengan sedih.


Ya salam..


“Udah bro, cewek gak cuma Husna” hibur Adnan, Farhat meliriknya dengan tajam, ini semacam karma telah mengolok pria polos berhati selembut kapas ini.


“Iya bener, kan masih ada Anum yang masih single ya” setelah mengatakan itu Farhat segera bergegas pulang, mata Adnan membulat lebar mendengar celetukan Farhat.


“Far! Jangan macem macem ya!” teriak Adnan mengejar Farhat yang sudah berjalan cepat.


“Hei! Dasar bocah kalian berdua, eh gua ditinggal dong, Far kan tadi kita barengan!” jerit Baihaqi yang menyusul keduanya setelah membayar pesanan mereka bertiga.

__ADS_1


TBC


__ADS_2