Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 55


__ADS_3

“Masak apa?” bisik Adnan yang tiba-tiba sudah memeluk istrinya dari belakang.


“Pagi ini sarapan pancake ya Mas” Anum bisa merasakan Adnan mengangguk di belakangnya, tapi nampaknya pria itu belum mau melepaskan belitannya.


“Mas duduk gih, Anum mau selesaiin ini dulu” pintanya, Adnan mendengus namun masih bertahan di posisi yang sama.


“Kamu terganggu kalau Mas menempel seperti ini?” tanya Adnan dengan nada khas suami-suami yang sedang manja pada istrinya.


“Tidak sih, tapi”


“Ya sudah seperti ini saja” potong Adnan membuat Anum hanya bisa menghela nafasnya.


“Num”


“Hmm?”


“Boleh Mas minta sesuatu sama kamu?”


Anum sedikit menoleh setelah menuangkan adonan ke dalam wajan, kemudian mencuri satu kecupan di pipi Adnan.


“Boleh dong, memangnya Mas mau minta apa?”


“Jangan pernah tinggalin Mas ya”


Merasa harus memberikan waktu lebih pada suaminya Anum mematikan kompor lalu berbalik menghadap Adnan yang berwajah murung di pagi hari.


“Anum janji gak akan tinggalin Mas, kecuali...” jawab Anum panjang tanpa mau melanjutkan kalimatnya untuk membuat suaminya penasaran.


“Kecuali apa?”


“Kecuali maut yang memisahkan” ucap Anum dengan nada jenaka berniat menggoda suaminya.


Adnan terhenyak, jawaban Anum yang sama sekali ia inginkan setelah ia bermimpi buruk tentang istrinya.


Anum menggoyangkan lengan suaminya saat Adnan berdiri dengan pandangan kosongnya.


“Kok malah ngelamun sih, Anum lagi menggombal tau?!” rajuknya.


Adnan menatap lekat wajah istrinya yang terlihat lebih berseri dari biasanya.


“Kalau maut bisa membuat kamu meninggalkan Mas, lebih baik Mas aja yang lebih dahulu pergi” ucap Adnan menyentil sebagian hati Anum yang kini menjadi nyeri.


“Kok jadi gini sih?” tanpa ba-bi-bu Adnan langsung memeluk istrinya yang kini keheranan karena tingkahnya.


“Karena aku gak mau kehilangan kamu dalam situasi apapun Num, kalaupun itu harus terjadi aku akan berdoa pada Tuhan agar mengambilku terlebih dahulu” ucap Adnan runtut.


Anum menegang di tempatnya tak menyangka bahwa gombalannya akan berujung pernyataan menyayat hati dari suaminya.


“Aku ingin Mas memiliki umur yang panjang, jangan tinggalkan Anum ya Mas” pinta Anum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tak lagi bisa berkata-kata Adnan memeluk tubuh Anum, entah kenapa pagi yang mendung ini juga berimbas pada suasana hati keduanya.


“Mas, boleh Anum minta sesuatu”


“Hmm?”

__ADS_1


Anum membasahi bibirnya untuk meredam kegugupan, “Kalau ada apa-apa di persalinan nanti..”


“Cukup, Mas tidak mau dengar apapun” potong Adnan yang sudah tau arah pembicaraan istrinya.


“Ihh dengarkan dulu Mas” rengeknya.


“Aku ingin Mas lebih memilih anak-anak kita dari pada Anum, ya mas?”


Adnan tak menjawab, matanya berembun, pikirannya tidak menginginkan ada pilihan itu.


Tidak!


“Mas akan selamatkan keduanya”


Pagi itu mereka habiskan untuk saling memeluk dalam kesunyian, hanya detak jantung mereka berdua yang terdengar.


***


Beberapa lama setelah Adnan berangkat bekerja Anum memutuskan pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka selama sebulan.


Saat Anum sudah yakin mengunci pintu dengan baik wanita itu terus berjalan ke luar pekarangan rumah sembari mengotak-atik ponselnya untuk meminta ijin kepada Adnan.


Bruk


Anum hampir saja jika orang di hadapannya tidak memegang tangannya.


“Kamu tidak apa-apa sayang?”


“Nenek?!” wanita itu hanya tersenyum membuat segala kerutannya menghiasi wajah.


“Anum mau pergi kemana?” tanyanya melihat Anum yang sudah rapi dan membawa sebuah tas.


“Tidak apa Nenek hanya bertanya, Nenek tidak akan memberitahukan ini kepada Adnan” janjinya untuk meyakinkan Anum.


Seakan tau bahwa cucu menantunya ini sedang berusaha lari dari cucunya yang sangat overprotektif padanya.


“Anum mau ke pasar, tapi mungkin nanti saja, silahkan masuk Nek” Nenek Adnan melambaikan tangannya.


“Jangan, semakin siang akan semakin panas Nak, keberatan kalau Nenek ikut bersama kamu?” Anum mengerjapkan matanya berkali-kali.


Namun kemudian mengangguk diikuti senyuman tulus dari Nenek.


Di sepanjang perjalanan mereka berdua saling bercerita, lebih tepatnya Anum yang mengadu pada Nenek Adnan tentang perilaku suaminya yang diluar normal dalam memanjakannya.


“Kamu pasti heran kenapa keluarga Adnan sangat kacau” ucap Nenek membuat Anum menunduk tak tau harus merespon apa.


“Kakek dan Nenek punya tiga putra, putra sulung kami adalah ayah Adnan, yang kedua adalah paman Yuda yang mendukung hubungan kalian, Anum ingat?” Anum mengangguk sembari tersenyum mengenang momen dimana ada satu dari anggota keluarga Adnan yang menerimanya.


“Dan yang terakhir adalan paman Sena, yang saat ini menduduki kepemimpinan suamimu” jelas Nenek tanpa diminta.


Anum mendadak sendu mengingat betapa hancurnya sang suami saat pama dari suaminya sendiri merebut semua milik Adnan.


“Sebenarnya mereka saling menyayangi, tapi..”


“Awas rem blong!!” pekik seseorang menginterupsi ucapan Nenek yang langsung Anum selamatkan terlabih dahulu.

__ADS_1


Bruk!


“Anum?!” pekik Nenek saat melihat cucu menantunya meringis kesakita sembari memegang perut besarnya.


Pyar!


Adnan terkejut memandang gelas yang sudah pecah, hatinya gusar bukan main, memainkan ponsel setelah rapat mata Adnan terbelalak mendapat pesan dari istrinya yang izin keluar.


Dada Adnan berdegub kencang, ia tak percaya mitos, tapi situasi tiba-tiba juga kebiasaan istrinya yang diluar kebiasaan membuat Adnan cemas.


Dengan segera Adnan menelpon nomor istrinya, namun belum juga tersambung panggilan masuk dari sang nenek membuat Adnan berdecak.


Tapi juga tidak bisa begitu saja menolak panggilan dari Nenek yang selama ini merawatnya dengan senang hati setelah kedua orang tuanya tidak ada.


“Halo Nek?”


“Syukurlah kamu mengangkat telpon Nenek Nak”


“Ada apa Nek semuanya baik-baik saja kan?”


Terdengar deru nafas yang menggebu-begu dari seberang sana.


“Anum, istrimu..” jantung Adnan hampir saja melompat mendengar dua kata itu.


“Anum kenapa Nek?”


“Dia pendarahan”


Runtuh.


Dunia Adnan terasa hancur, bayangan mengerikan itu kembali tergambar jelas di benaknya.


Sekuat tenaga Adnan menggeleng untuk mengenyahkan semua pikrian buruk itu.


“Halo Nak? Kamu masih disana kan?”


Mencoba meraih sisa-sisa kesadarannya Adnan mengatur nafas untuk menjawab Neneknya, “Bagaimana keadaan Anum Nek?”


Dengan gemetar Adnan mencoba untuk berdiri.


“Sedang ditangani dokter, kamu kesini ya? Anum pasti butuh suport dari suaminya” mau tak mau Adnan mengangguk, diiringi dengan air mata yang meluruh.


Setelah mengajukan ijin pulang awal Adnan bergegas ke rumah sakit tempat Anum dirawat, dalam perjalanan Adnan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


Ia tidak siap haru menjalankan permintaan Anum pagi tadi.


“Tidak, mereka tidak akan kenapa-napa, aku tidak boleh terus menerus berpikiran buruk” monolognya.


Setelah sampai pria itu berlari ke UGD untuk segera mengetahui keadaan istrinya.


Tepat saat Adnan datang, Nenek bangkit menghampiri cucunya, memeluk tubuh itu penuh kasih.


Samar-samar Adnan bisa melihat Anum dikerubungi beberapa tenaga medis di dalam ruangan intensif.


Mata wanita itu terpejam dengan damai semakin membuat Adnan takut.

__ADS_1


‘Jangan tinggalkan aku Num’


TBC


__ADS_2