Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 42


__ADS_3

“Apalagi ini Ndah? Saya kan sudah bilang tidak ada lagi semua omong kosong ini” ungkap Adnan yang mulai terpancing.


Indah tersenyum dan berjalan mendekati Adnan, tangannya terangkat untuk mengusap dada bidang Adnan, meski berakhir di tepis kasar oleh pria itu “Tenang dong Mas”


Adnan berjalan menjauh, lebih tepatnya hendak keluar guna menjauhi wanita itu sebelum apa yang ia takutkan akan terjadi.


Tapi sepertinya Indah memang diciptakan untuk menguji kesabaran Adnan, terbukti dari tangan wanita itu yang sudah melingkari tubuh Adnan dari belakang.


“Lepas Ndah!” geram Adnan tapi dari balik tubuhnya ia bisa merasakan wanita itu menggeleng pelan.


Nafas Adnan kembali berhembus kasar.


“Ndah, saya bilang, le-pas!” ucap Adnan kasar sembari menyentak kedua tangan putih itu yang sempat membuat wanita itu tertegun.


“Beberapa waktu lalu kamu mengatakan soal harga diri, dan detik berikutnya kamu tidak segan merendahkan harkat dan martabat diri kamu sendiri” Indah kmebali terhenyak medengar penuturan pedas Adnan.


“Dan itu semua karena kamu Mas! Kamu yang selalu membuat aku berharap kemudian mencampakkan aku seperti sampah”


“Kalalu begitu, jangan lagi menjadi menjijikkan Ndah, sampah itu sudah menjijikkan, jangan memperburuk citramu sendiri di hadapan saya” kaca-kaca itu mulai bergumul di pelupuk mata Indah, ia tidak menyangka akan mendapat hinaan sebesar ini.


Tapi Indah belum lagi mau menyerah, dia sudah terlanjur basah, sekalian saja menceburkan dirinya.


Dengan mengais belas kasian Indah memilih berlutut di hadapan Adnan, yang membuat nurani laki-laki itu sedikit tersentil.


“Bangun Ndah” wanita itu menggeleng dan semakin menunduk dalam.


“Tidak sepantas kamu seperti ini, jangan..”


“Indah tau Mas” potong Indah dengan suara parau.


“Indah tau kalau diri Indah ini sudah lebih menjijikkan dari apapun di mata Mas, tapi Indah tidak peduli” ungkapnya diselingi isakan kecil membuat Adnan mengurut pelipisnya yang mulai berdeyut pelan.


“Padahal Indah hanya ingin menghabiskan waktu bersama Mas waktu itu, kenapa Mas juga mengingkarinya? Sehina itukah Indah di mata Mas Adnan?”


“Cukup Ndah, kamu tau betul saya melakukan ini untuk kebaikan bersama, saya tidak ingin memberikan harapan semu kepada kamu”


“Tapi Indah janji Mas, hanya sehari, setelah itu Indah akan menghilang, Indah janji” kukuhnya yang kini sudah menggenggam tangan Adnan dan menatap pria itu sendu.


Nurani dan logika Adnan kembali bergolak, sekali lagi Adnan melihat Indah mengangguk kecil untuk meyakinkan Adnan.


“Baiklah” satu kata itu akhirnya meluncur dari bibir Adnan membuat senyuman Indah tercetak jelas.


“Saya sudah berkata baiklah Ndah, kamu tidak mau bangun?” ucap Adnan lagi saat Indah masih saja berlutut di hadapannya.

__ADS_1


Dengan sigap Adnan membantu wanita itu untuk bangkit, “Terimakasih Mas” Adnan mengangguk sebagai jawaban.


“Berangkat sekarang?” Indah terperangah mendengar kalimat itu dari Adnan.


“Halo?!” ucap Adnan lagi sembari mengibaskan tangannya dihadapan wajah Indah ketika lawan bicaranya itu masih tertegun.


“E-eh iya Mas, iya sekarang tapi Indah mau benerin riasan sebentar ya?” Adnan hanya bisa menatap Indah datar.


“Janji hanya sebentar, ya, ya?”


“Ok, saya tunggu di luar”


“Iya”


Setelah memastikan pintu tertutup, Indah merogoh ponselnya, mencari nama seseorang kemudian jarinya asik menari merangkai sebuah kalimat.


‘Target sudah masuk jebakan’


***


Pyarr


“Astaghfirullah” pekik Anum saat gelas susunya meluncur bebas ke lantai, kini cairan putih itu sudah mewarnai lantai dapur Anum.


“Tenang aja Bi, Anum gak papa kok, nanti Anum bersihin ini”


“Eh gak usah Mbak biar bibi aja yang bersihin ini, Mbak ke atas aja, mau bibi buatin susu lagi?” dengan merasa tak enak Anum tersenyum malu sembari mengangguk pelan.


“Ya sudah, Bibi beresin ini dulu ya mbak?”


“Terimakasih Bi”


Sembari berjalan Anum kembali heran dengan gelas susu tadi, Anum sudah yakin kalau dia memegang gelas tersebut dengan benar, tapi kenapa bisa jatuh ya?


Perasaan Anum mendadak jadi tak enak.


Dengan ragu ia kembali mengecek ponselnya, wanita hamil itu mendesah pelan kala tidak ia dapati sebuah pesanpun dari suaminya.


“Mas Adnan kenapa belum balas pesanku ya?” monolognya yang hanya bisa menatap kontak sang suami dalam ponselnya.


“Apa iya sibuk sekali disana?” tanya Anum lagi kembali menerka-nerka.


“Iya pasti Mas Adnan sedang sibuk disana” putusnya.

__ADS_1


***


“Cukup Ndah, piring saya hampir penuh” centong sayur itu akhirnya hanya mengambang di udara sebelum Indah mengembalikannya lagi ke tempat asalnya.


“Kamu makannya sedikit sekali Mas, masakanku tidak enak?”


Tanpa menjawab Adnan kembali menyuapkan nasi beserta lauk yang menurut info dari Indah semua makanan itu ia masak sendiri khusus untuknya.


“Masih enakan masakan istri kamu ya?” gerakan tangan Adnan yang hendak kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya seketika terhenti dan atensinya teralih pada Indah sebelum akhirnya Adnan memutus tatapan mereka.


Selera makannya hilang seketika.


“Eeeh maaf ya, abaikan, abaikan pertanyaanku tadi Mas, silahkan lanjutkan makannya” ucap Indah tidak nyaman saat menyadari perubahan sikap Adnan.


“Saya sudah kenyang, terimakasih makananya” setelah mengucapkan itu Adnan beranjak pergi dan memilih berdiri di area balkon apartemen Indah.


Wanita itu memilih apartemen karena tidak ingin ada yang mengenali Adnan yang akan berakhir akan memperburuk citranya jika salah satu kolega pria itu semisal ada yang melihat keduanya menghabiskan waktu bersama.


Tidak ada lagi kontak fisik, Adnan sudah memberikan garis tegas itu pada Indah sebelum mereka mencapai kediaman Indah.


Maka dari itu Indah memilih berdiri di samping Adnan, sesungguhnya hatinya juga sakit ketika melontarkan pertanyaan itu, tapi mau bagaimana lagi, rasa ingin tau dan perasaan tak ingin kalah menyelimutinya tadi.


“Kalau kamu tanya kamu dan Anum mana yang terbaik, pasti saya akan menjawab Anumlah yang terbaik” ucap Adnan memecah keheningan diantara mereka.


“Kenapa? Kenapa dia yang orang baru dalam kehidupan kamu bisa mendapatkan penilaian demikian sementara aku tidak?!”tanya Indah tak terima dengan parau.


Adnan adalah definisi luka yang Indah inginkan, karena pria itu hanya tau caranya membuat Indah menangis, tapi Indah tetap menyukainya.


“Banyak hal yang tidak bisa kita ungkapkan melalui kata Ndah, cukup amati dan rasakan dengan hati untuk bisa mengetahuinya” bulir-bulir kaca itu meluncur bebas dari pelupuk mata Indah.


Jadi sebesar itu cinta prianya ini pada sang istri?


“Apa sih kurangnya aku Mas? Kalau kamu mau, aku tidak masalah jika menjadi yang kedua asal aku bisa menjadi istrimu juga” Adnan tidak paham bagaimana wanita di hadapannya ini bisa memiliki ide segila ini.


“Itu, itu salah satu contoh keunggulan Anum dibanding kamu Ndah” Indah yang masih tercengang hanya bisa menatap Adnan yang masih sibuk menatap lurus ke depan tanpa mau memandangnya.


“Anum, dia bukan wanita yang egois, dia cukup pintar mengendalikan rasanya, dibandingkan kamu yang sampai meminta saya untuk berbagi cinta, Anum sudah lebih dulu menawarkannya” untaian kalimat itu serasa tidak bisa dimengerti oleh Indah hingga membuat Adnan menatap lawan bicaranya saat tidak ada sautan disana.


“Anum sudah pernah meminta saya untuk menikahimu juga” mulut Indah terbuka saking kagetnya, satu fakta yang membuat hati Indah terketuk seketika.


“Iya, kalian memang sama-sama gila, bedanya, kamu memikirkan kebahagiaanmu sendiri, sementara Anum, dia memikirkan kenyamananku, juga perasaanmu”


TBC

__ADS_1


__ADS_2