
Beberapa lama di kerubungi rasa kahwatir akhirnya pintu perawatan intensif itu terbuka, membuat Adnan langsung bangkit.
“Bagaimana kondisi istri saya dokter?”
“Janinnya harus dikeluarkan saat ini juga Pak” jantung Adnan nyaris berhenti.
Bagaimana bisa bayi-bayi itu di keluarkan saat usianya belum genap sembilan bulan di perut Anum?
“Tapi usia kandungan istri saya masih delapan bulan dok”
“Kami terpaksa melakukan ini karena ketuban istri anda sudah menipis, juga perndarahan itu akan membahayakan ibu dan janin jika terus di pertahankan” Adnan membeku di tempatnya, ia sedikit menoleh saat bahu di remas pelan oleh sang Nenek.
“Lakukan yang terbaik dokter” ucap Nenek saat Adnan masih shock dengan penjelasan dokter.
Dokter itu mengangguk.
“Kami membutuhkan persetujuan anda sebagai suaminya sebelum melakukan tindakan sekarang juga”
‘Aku ingin Mas lebih memilih anak-anak kita dari pada Anum’
Kalimat itu terus berputar di kepala Adnan bagaikan kaset rusak saat pria itu memegang pulpen mengisi inform consent yang dokter serahkan padanya.
“Selamatkan istri saya saja dokter” dokter yang sedang mencari kertas persetujuan pasien itu tiba-tiba menghentikan kegiatannya.
“Saya tidak memberikan pilihan Pak, kita tidak pernah tau siapa yang akan Allah ambil karena telah sampai pada waktunya untuk kembali”
Mendengar itu wajah Adnan mengeras, ia merasa marah dan mencengkeram kerah dokter laki-laki itu.
“Saya tidak mau tau dokter, harus istri saya yang selamat setelah operasi nanti”
“Semua sudah memiliki masanya masing-masing Pak, saya hanya manusia biasa yang bisa berusaha semampu saya” ucap dokter itu tenang, sedikit membuat Adnan sadar.
Perlahan cengkeraman itu mengendur, Adnan menunduk lesu meratapi kesedihannya.
Melihatitu sang dokter menepuk pelan bahu Adnan, “Sabar Pak, semua yang sudah terjadi adalah ketetapannya, Allah tidak pernah menguji hamba diluar kemampuannya”
Adnan sontak menangis, kalimat itu juga pernah Anum berikan untuknya disaat Adnan kehilangan semuanya.
Adnan hanya mengangguk dan menggumamkan maaf saat dokter itu hendak berlalu.
Kini Adnan merebahkan punggung lelahnya di dinding.
Dirinya tak memiliki siapapun kecuali Anum, soal anak, Adnan tau Anum sangat menginginkan seorang anak lebih dari apapun bahkan hidupnya.
Tapi Adnan terlalu takut melalui itu semua jika Anum tak ada di sampingnya.
__ADS_1
“Sabar sayang” ucap Nenek membuat Adnan tersadar bahwa ia tak benar-benar sendirian.
Dengan langkah pasti Adnan mendekati Neneknya, kemudian memeluk wanita lanjut usia itu.
Lagi-lagi air matanya tumpah saat Neneknya mengusap lembut rambutnya, sama seperti dulu saat Adnan kehilangan kedua orang tuanya.
“Adnan tidak ingin kehilangan Anum Nek”
“Nenek tau, Anum pasti selamat juga anak kalian” dalam diam Adnan mengangguk, ikut mengamini ucapan itu dalam hati.
Malam jadi semakin sunyi, kini Adnan beran-benar sendiri setelah orang suruhan Kakeknya menjemput sang Nenek untuk pulang.
Lagipula udara malam tidak baik bagi Neneknya, alhasil Adnan juga memaksa Nenek untuk pulang meski sang Nenek masih ingin menemani cucunya.
Dengan janji akan memberi kabar apapun mengenai kondisi Anum, Nenek akhirnya mau pulang.
Sejam yang lalu Anum memasuki ruang operasi.
Adnan tidak bisa berhenti cemas, ia tak mengabari siapapun, termasuk sahabat-sahabatnya dengan alasan tidak ingin membuat mereka semua khawatir.
“Oaaaakkk oaaakk” Adnan menggumamkan hamdalah saat mendengar suara tangisan bayi di dalam sana.
Tak selang berapa menit ada tangisan lain yang lebih kencang menyusul tangisan pertama.
‘Apa itu bayi-bayinya?’
Dengan pelan sembari menahan haru, Adnan berjalan mengikuti suster itu.
“Selamat ya Pak, bayi anda laki-laki dan perempuan, semua organnya lengkap” Adnan mengangguk saja dengan tatapan yang tetap fokus pada objek yang sejak masuk tadi mencuri perhatiannya.
Ada dua bayi super mungil yang di letakkan di dua buah kotak yang terpisah, “Yang berbaju serba pink adalah si putri dan yang berbaju biru itu jagoan” jelas suster itu tadi tanpa di gubris sedikitpun oleh Adnan yang masih sibuk memandangi darah dagingnya.
“Silahkan mengadzani di luar kotak itu ya pak, karena bayi anda prematur maka sangat tidak disarankan untuk dibawa keluar mesin inkubator sebelum semua organnya matang”
Adnan tidak menghiraukan itu, tangan besarnya menempel pada kaca kotak di sebelah bayi bertuliskan ‘By. Ny. Adnan’
Seperti tau sedang berdekatan dengan sang Ayah, bayi berbaju pink itu menggeliat mengundang tangis haru Adnan yang memulai Adzannya.
Adnan mengadzani putrinya dengan nada bergetar menahan tangis, saat sudah selesai ia berpindah ke kotak satunya dan melakukan hal yang sama.
Saat sudah menyelesaikan tugasnya, Adnan masih diam, memandangi putra dan putrinya.
“Dokter pasien mengalami kejang” Adnan juga terkejut mendengar pekikan itu dari ruang bersalin, beberapa petugas yang ada di ruangan yang sama juga mendadak panik.
“Ada apa?” ditanya seperti itu petugas yang berjaga di ruang bayi terdiam tak tau harus berbuat apa.
__ADS_1
“Ada apa?!” desak Adnan saat mereka hanya diam.
“I-itu, ada pasien bersalin yang mengalami kejang”
“Itu pasti orang lain kan?”
Petugas itu kembali bungkam.
Adnan menerobos masuk meski beberapa petugas menghalanginya.
“Ada apa dokter?”
“Sebaiknya anda menunggu di luar Pak, sus, tolong” Adnan menurut saja saat tubuhnya di geret pergi.
Sebelum benar-benar pergi Adnan melihat Anum yang bergerak tak karuan dengan ritme yang sama.
Kini Adnan tidak diperbolehkan masuk ke ruang bersalin maupun ruang bayi karena mereka bertiga sedang dalam perawatan intensif.
Terlampau bimbang dan tidak tau harus berbuat apa Adnan berjalan tak tau arah, hingga ia sampai di bangunan lumayan besar betuliskan Allah dan Rasulnya.
Seketika hati Adnan bergetar.
Jam menunjukkan pukul 2.30 dini hari.
Waktu yang kata para ulama adalah waktu yang mustajab untuk berdo’a.
Tapi inikah saatnya Adnan memulai kembali setelah semua yang ia lakukan selama ini?
Mendadak hati Adnan kembali meragu dan mengambil langkah untuk menjauhi tempat yang selama ini sudah tidak pernah ia datangi.
Tapi lagi-lagi hatinya menginginkan hal lain.
Dengan langkah tertatih Adnan mengikuti kata hatinya.
Mengambil langkah semakin masuk ke latar masjid, lalu berbelok ke area wudhu.
Sejuk.
Itu yang Adnan rasakan saat air itu menyentuh dirinya yang terlampau panas.
Setelah selesai mebersihkan diri Adnan berjalan masuk, begitu melihat nama Allah dan Rasulnya Adnan terduduk.
Laki-laki itu menangis tanpa malu meraung mengingat segala yang sudah ia terima meski dirinya selalu menjauhi Allah dengan menyalahkan takdir.
Adnan menunduk malu bahkan hanya untuk sekedar memohon pertolongan pada yang memiliki segalanya ia tak mampu.
__ADS_1
“Ya Allah, bisakah kau mengabulkan doa dari seorang pendosa sepertiku ini?”
TBC