
Pagi ini Adnan mengajak sang istri untuk jalan-jalan pagi, setelah semua kesibukan dan kemalangan yang menimpa keluarga kecil mereka, Adnan tersadar bahwa ia tidak memiliki banyak waktu dengan Anum.
“Eh Mas Adnan dan Mbak Anum, lagi jalan-jalan ya?” sapa seorang tetangga membuat mereka berhenti untuk sekedar beramah tamah.
“Iya Bu, Pak” jawab Adnan pada pasangan paruh baya itu.
“Bagus tuh, jarang banget saya lihat Mas sama Mbaknya ini keluar rumah, sekali-kali keluar lah Mas, Mbak, gak bosen apa di rumah mulu” kelakar sang bapak yang mau tak mau mengundang senyum canggung dari keduanya.
Yang dikatakan tak sepenuhnya salah, tapi memang Adnan yang sibuk dan Anum yang tidak mudah bergaul membuat mereka terlalu asik untuk berada dalam rumah.
“Iya Mbak, disini ada banyak kegiatan ibu-ibu, barangkali Mbak Anum mau ikut kan enak jadi nambah temen saya” tambah sang Ibu, Anum sudah memikirkan ini, terlalu sering berada di rumah juga pada akhirnya membuat ia bosan.
“Memangnya ada kegiatan apa saja ya Bu? Mumpung ada suami saya disini biar sekalian minta ijin”
“Ada banyak, diantaranya sih pengajian rutin, majlis taklim dan arisan” mata Anum berbinar, sepertinya tiga kegiatan itu seru semua, dengan puppy eyes Anum menatap suaminya agar mengijinkannya mengikuti kegiatan itu.
Adnan terkekeh melihat wajah melas istrinya, dengan gemas ia mengusap puncak kepala Anum, padahal Adnan selama ini tidak pernah membatasi sang istri untuk melakukan kegiatan yang ia mau.
“Ada administrasi atau pendaftarannya bu?” tanya Adnan, sang Ibu menggeleng.
“Gak ada sih Mas, kalau Mbak Anum mau ikut ya nanti saya bilang ke ibu-ibu yang lain, gak seformal kayak daftar sekolah kok” Adnan dan Anum tertawa, sekaku itu mereka berdua.
“Kalau Mas Adnan, kegiatan bapak-bapak juga ada loh, gak mau ikutan juga? biar samaan sama istrinya” goda sang bapak pada dua sejoli itu.
“Boleh Pak, memangnya apa kegiatan bapak-bapak disini?”
“Ronda malam Mas, sama kerja bakti” Adnan manggut-manggut paham.
Mereka sedikit bercerita satu sama lain hingga pasangan paruh baya itu harus pamit saat anak mereka yang dari kota datang pagi ini.
Adnan dan Anum kembali melanjutkan langkahnya ke taman perumahan, berdasarkan info dari tetangga mereka tadi, di akhir pekan taman perumahan mereka akan ramai pedagang.
Anum yang rindu kulineran langsung menyeret Adnan untuk kesana, tidak jauh, mereka hanya perlu berjalan sedikit lagi untuk sampai.
__ADS_1
Benar, ada banyak sekali penjual jajanan dan aneka makanan.
Untuk pilihan pertama di pagi ini Anum memilih untuk memakan bubur ayam, dengan segala sate-sateannya, dulu sebelum menikah Anum dan Husna sering sarapan seperti ini saat selesai lari pagi.
Meski bukan dengan Husna, kini Adnanlah yang kebagian posisi itu.
“Pelan-pelan sayang, aku gak minta kok” goda Adnan saat melihat Anum memakan buburnya dengan lahap.
Anum tersenyum senang ke arah suaminya, perempuan itu sudah memutuskan untuk mengikhlaskan semuanya, berjalan maju dengan Adnan yang selalu berada di sampingnya.
“Enak banget Mas” adu Anum pada sang suami membuat Adnan lagi-lagi gemas padanya.
“Mau tambah?” Anum menggeleng, karena ia ingin mencoba makanan yang lain.
Setelah selesai dan membayar, Anum kembali menggeret suaminya untuk mencoba jajanan lain, bagi Adnan itu bukan masalah, selama istriny bahagia itu sudah lebih dari cukup bagi Adnan.
Hingga akhirnya mereka pulang dengan berbagai tentengan di kanan kiri keduanya,
Wajah Adnan mengeras saat melihat salah satu mobil yang ia kenal terparkir di halaman rumahnya, mobil pamannya.
Sudah dapat dipastikan bahwa mereka datang bukan untuk menjenguk, entah apa yang akan mereka lakukan disini tapi Adnan yakin kedatangannya hanya untuk mengusik ketenangan Anum.
Adnan memijat pelipisnya, baru tadi malam mereka bisa meluapkan perasaan satu sama lain, dengan susah payah Adnan kembali membangun bonding dengan istrinya, meyakinkan Anum bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Lalu apa yang terjadi hari ini?
Rasanya Adnan harus membatasi keluarga besarnya untuk berkunjung di rumah.
“Mas sepertinya ada tamu” Adnan hanya menatap sekilas sang istri.
Karena tidak mendapat jawaban, Anum semakin menambah langkah, saat mereka sudah diambang pintu Anum mencoba tersenyum saat paman dan tante Adnan sudah duduk manis di ruang tamu mereka.
“Om tante, sudah lama?” sapa Anum mencoba ramah pada keluarga suaminya.
__ADS_1
“Saya turut berduka atas kehilangan calon anak kalian” ucap Inggita to the point.
“Terimakasih tante”
“Tante sudah kira kalau ini akan terjadi” senyuman yang sejak tadi terpatri kini hilang begitu saja, Adnan menatap tak suka tantenya, perkataannya terlalu menyudutkan mereka berdua yang padahal apa yang terjadi diluar kendali mereka.
“Itulah gunanya melihat bibit, bebet, dan bobot pasangan, agar hal seperti ini dapat diminimalisir” tambahnya lagi dengan nada tak suka.
“Apa tante bisa jamin hidup seseorang?! Hidup dan mati itu ditangan Tuhan tante, memangnya tante siapa bisa bicara seperti itu!” jawab Adna meledak-ledak, Anum mengusap lengan suaminya berharap pria itu akan tenang.
Mendapat perlakuan lembut Anum membuat Adnan menatapnya sekilas, Anum menggeleng pelan, mengisyaratkan agar suaminya berhenti melawan orang yang lebih tua dari mereka.
Adnan kembali menghela nafas kasar. Ia juga tak ingin bertingkah tak sopan pada saudara Papanya, tapi ia juga tidak terima saat istrinya disalahkan seolah tak becus menjaga calon buah hati mereka.
Meski tidak selalu bersama tapi Adnan yakin bahwa istrinya ini sudah melakukan yang terbaik, jika ada yang harus disalahkan, Adnanlah yang lebih pantas menerima itu, jika saja dia lebih peka dengan keadaan istrinya, pastilah ini tidak akan terjadi, begitu pikirnya.
Tapi semuanya sudah terjadi bukan? Mencari siapa yang salah dan menyalahkan itu bukan tindakan yang rasional.
“Jangan selalu menanggapi negatif nasihat dari orang tua, kamu sepertinya tidak pernah jera” ucap Seno bagai bensin yang kembali mengobarkan amarah Adnan.
“Tidak perlu repot-repot menasehati saya, lebih baik anda didik istri Anda yang tidak pernah memiliki sopan santun dengan sesama keluarga”
“Adnan!” teriak Seno yang sudah berdiri dari duduknya marah.
“Saya tidak pernah meminta belas kasihan dari kalian, tolong jangan datang lagi, karena saya tidak suka kalian menginjakkan kaki di rumah saya” balas Adnan tak kalah sengit.
Seno dan Inggita pergi dengan marah, Adnan beranjak masuk meninggalkan Anum yang termangu sendirian di ruang tamu setelah Adnan mengamuk pada om dan tantenya.
Adnan merasa malu, keluarga dekat Anum tidak ada yang menyalahkannya atas kejadian yang menimpa mereka, lalu mengapa justru keluarga Adnanlah yang melakukan itu pada istrinya?
Adnan tidak bisa menerima itu, bukan Anum yang salah disini tapi dirinya.
TBC
__ADS_1