Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 46


__ADS_3

Adnan diam memandangi wajah istrinya yang masih asik mengusap keringat di wajahnya setelah selesai yoga.


Kali ini Anum kembali pada mode disiplin agar suaminya mau rutin kembali melakukan olahraga itu meski Anum tau sesibuk apa suaminya.


“Eh mau kemana?” cegah Adnan saat Anum sudah berdiri dan hendak pergi.


“Mau.. ke dalem, kenapa Mas?”


“Hadiah paginya mana Num?” semburat merah itu muncul di pipi Anum tanpa bisa dicegah, wanita itu bukannya lupa tapi memang sengaja lari.


“Hadiah apa?” mata Adnan menyipit curiga.


“Jangan pura-pura, sini duduk” ucap pria itu sembari menepuk pahanya sendiri.


“Ihh masih pagi Mas”


“Terus kenapa?” Anum memutar bola matanya malas, percuma berdebat dengan Adnan.


Dengan langkah gontai wanita itu duduk di pangkuan suaminya.


“Mau kasih suka rela apa Mas paksa nih?” sindir Adnan membuat Anum lagi-lagi hanya bisa mencibir.


Cup!


Senyum Adnan terbit seperti sinar matahari yang meyinari mereka berdua, tidak mau kehilangan Adnan memegang kepala bagian belakang Anum dan kembali mengikis jarak keduanya.


“Astaghfirullah!!! Qi! Lihat nih temen ente lagi mesum ama bininya” Adnan jatuh tersungkur setelah Anum yang kaget mendorong suaminya dan berlari masuk ke dalam rumah lewat belakang untuk menghindari tatapan mengejek sahabat suaminya.


“Mesum ama siapa?” tanya Baihaqi saat sudah sampai dengan menahan tawa melihat salah satu sahabatnya duduk di tanah yang dapat di yakini itu bukanlah keinginan calon ayah itu karena tepat disampingnya juga terdapat kursi tergeletak tak semestinya.


“Ama bininya” meski kesal dengan pertanyaan tak berfaedah Haqi Farhat tetap menjawabnya.


“Bininya sapa?” kali ini Farhat tidak bisa untuk tidak mengumpat sahabatnya sendiri, sementara Adnan, ia masih asik gegoleran di tanah melihat interaksi keduanya.


Pletak!


“Ya bininya Adnan dong bodoh, emang diantara kita yang sudah menikah siapa? Ha!” sewot Farhat setela berhasil menjitak kepala Haqi dengan puas.


“Ya ente tuh yang bodoh, orang Adnan nyosor bininya kenapa ente yang sewot, jomblo sih!”


“Ente juga jomblo o’on!” hilang sudah gairah Farhat untuk mengejek Adnan berganti dengan keinginan untuk menceburkan Haqi ke dalam kolam.


“Lah iya juga ya”


Akhirnya mereka bertiga menertawai keabsurdan mereka bersama.


Karena jadwal mereka yang padat ditambah lagi dengan kondisi kesehatan Adnan membuat waktu temu mereka semakin mundur dari jadwal awal.


Harusnya hari ini ketiganya pergi nongkrong bersama, tapi Adnan menolak dengan alasan tidak ingin jauh dari istrinya.

__ADS_1


“Gini amat ya kalau punya sahabat yang udah nikah, diajak ketemu alasannya selalu pasangan atau kalau nggak anak” keluh Farhat membuat Adnan tersenyum kecut mendengarnya.


Terdengar sedikit egois memang, tapi Adnan tidak bisa lagi mengorbankan istrinya, dia sudah sering meninggalkan ibu hamil itu untuk perjalanan dinas ataupun untuk pelarian seperti kemarin, maka dari itu Adnan menyiapkan weekend ini untuk kebersamaannya dengan sang istri.


“Ya makanya Far, nikah gih biar gak ngeluh, ntar juga ente kalau nikah bawaannya pengen kelonan sama bini mulu” Farhat memlototi Haqi yang kini sudah sadar akan sesuatu.


“Eh Nan, si arab ini mau nikah juga dong! Fyi aja”


“Beneran?”


“Iya Nan!”


“Alhamdulillah!”


“Alhamdulillah!”


Seru Haqi dan Adnan bebarengan.


Merasa kesal dengan mulut ember salah satu sahabatnya Adnan melempar dengan segenggam kacang yang akhirnya berserakan di lantai.


“Dasar ban bocor!” umpat Farhat yang hanya dihadiahi cengiran Haqi.


Adnan tertawa, sudah lama sekali ia tidak seperti ini.


“Kapan ngadain pesta bujang nih?!” seru Adnan.


“Ente kagak diajak Nan, gausah pake nanya-nanya begitu!”


“Kan ente bukan bujang!”


“Kan ente bukan bujang!”


Meski begitu Adnan tetap tertawa menanggapi seruan keduanya.


“Itu pasti gak beneran kan? nggak dong pastinya” Farhat hanya bisa memutar matanya malas, sedang Haqi ikut tertawa bersama Adnan.


“Sebenernya ane pusing nih” tawa keduanya redup seketika.


“Kekurangan biaya Far?”


“Bukan itu Nan! Astagaa, kalian pikir ane ini pengangguran apa?!”


Baihaqi tertawa dan segera menepuk bahu Adnan pelan “Dia kagak cocok sama calon bininya, kurang hot katanya” ucapnya diselingi tawa mengundang kekesalan Farhat yang sudah ambil ancang-ancang menghajar Haqi.


“Ane kagak bilang gitu ya!”


“Terus kenapa dong?” mendengar pertanyaan itu Farhat kembali duduk dan menatapa Adnan untuk meminta solusi.


“Dia wanita manja, sepertinya besok kalau jadi nikah ane bakal direpotin sama banyak hal yang kagak bisa dia lakuin sendiri” Adnan mendadak paham.

__ADS_1


“Kan itu tugas suami bro, nih coba emang kalian pikir nafkah lahir itu cuman kasih uang?” keduanya mengangguk.


“Salah tuh, kita sebagai suami gak hanya bisanya kasih uang terus istri yang ngolah uang itu untuk jadi makanan jadi untuk keluarga, sebagian nafkah lahir yang dimaksud disini adalah makanan jadi yang bisa istri dan anak kita makan, setauku begitu” Adnan sedikti menjeda kalimatnya.


“Dengan kata lain kita sebagai suami memang harusnya menerima jika direpotkan istri karena tugas kita memang tak sesederhana itu”


“Tapi berat Nan”


Adnan merangkul Farhat, “Husna udah mau punya anak yang kedua loh masak ente belum move on juga”


Farhat hanya bisa menghela nafas lelah.


Tak bisa dipungkiri memang itulah salah satu alasannya berat untuk dekat dengan siapapun, karena hatinya masih terpaut disana.


“Life must be go on, ya gak Nan”


“Betul itu!”


Farhat menatap kedua sahabatnya yang kali ini mengangguk untuk meyakinkannya.


Kemudian keduanya harus pamit setelah selesai dengan perbincangan mereka. Adnan yang kembali kesepian mencasri keberadaan istrinya.


Setelah lama mencari, Adnan menemukan ibu hamilnya sedang duduk di kursi santai yang ia buat di belakang rumah, tempat itu memang dikhususkan untuk Anum, karena wanita itu sangat senang bersantai di taman kecil belakang rumah.


“Eh Mas?! Kok berdiri aja disana, sini!” Adnan tersneyum dan duduk bersimpuh di hadapan istrinya.


“Assalamualaikum anak-anak Papa” Anum tersenyum sembari membelai rambut Adnan yang menciumi perutnya sayang.


“Pa, anak-anaknya lagi pengen sesuatu nih”


“Pengen apa? Biar Papa belikan ya nak”


“Pengen makan masakan Papa” Adnan menatap istrinya pias, pasalnya ia tidak pernah menyentuh kompor.


“Yang bener aja dong Num, dimasakin bibi aja ya, aku gak bisa masak, ngerebus air aja gosong” Anum tertawa mengenang momen itu.


Saat keduanya masih berstatus pengantin baru dan Anum yang mengeluh lapar tengah malam meminta Adnan untuk memasak mi instan, entah karena gengsi atau apa Adnan menyanggupinya yang berakhir dengan teriakan Adnan saat panci airnya sudah menghitam.


“Ledekin aja terus suaminya, jahil amat!” Tawa Anum semakin mengudara, membuat Adnan semakin kesal.


Cup!


“Ternyata cuma itu yang bisa bikin Anum diam ya” ucap Adnan setelah berhasil mencuri ciuman dari istrinya.


“Papa resek! Gak usah diajak ya Nak”


Adnan membuntuti istrinya, pria itu tau jika istrinya hanya menggoda.


Benar saja setelah sampai meja makan makanan sudah terhidang di meja.

__ADS_1


“Anum cuma bercanda Mas, yuk makan” Adnan mengangguk senang.


TBC


__ADS_2