Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 36


__ADS_3

Kepala Adnan rasanya pening, matanya juga mulai perih, ia kelelahan, tapi hal itu tidak membuatnya ingin menghentikan pekerjaannya.


Setiap menit sangat berarti bagi Adnan, biarlah ia kelelahan sekarang asal bisa segera bertemu dengan istrinya itu lebih baik daripada beristirahat sekarang.


Jika semuanya lancar ia kan pulang besok, tapi Adnan tidak bisa menunggu besok.


“Pak, ini laporan terakhir yang bapak minta” pandangan Adnan sedikit teralih pada asistennya.


“Sudah kamu cek?”


“Sudah Pak”


Adnan memfokuskan atensinya pada berkas di tangannya, rasa tidak mudah percaya itu kembali mencuat pasca kerugian kemarin.


Dengan sabar Adnan membaca kata per kata agar tidak terjadi kesalahan.


Senyum pria itu mengembang saat apa yang Rudi katakan sesuai, dengan riang ia membubuhkan tanda tangannya.


“Rud, tolong cari penerbangan tercepat hari ini” Rudi mengangguk dan segera berlalu untuk melaksanakan titah atasannya.


Kali ini Adnan bisa sedikit tenang.


Dirinya bisa pulang sekarang dengan mata terpejam Adnan membayangkan wajah istrinya yang akan ia beri kejutan.


“Anum pasti senang aku pulang lebih cepat dari perkiraan”


Dua hari yang lalu Adnan bilang ia tidak bisa memastikan kapan ia bisa pulang, bagaikan sebuah keajaiban semua urusan Adnan bisa terselesaikan hari ini.


***


Anum kembali meringkuk setelah memuntahkan makanannya siang tadi, kekalutan itu datang lagi, gejalanya sama persis, tapi Anum memilih untuk terus berpikiran positif, ia yakin janinnya kali ini kuat.


Terhitung sudah satu bulan Adnan tidak ada di rumah, rahasia tentang kondisinya masih tertutup rapat.


Tangannya terulur mengusap perutnya yang membuncit, empat bulan sudah anak-anaknya bersemayam dalam perutnya.


Apapun yang terjadi Anum akan menjaga mereka dengan sangat baik, mual muntahnya kali ini tidak terlalu menjadi beban karena Anum mencoba menikmati kehamilannya kali ini.

__ADS_1


Lama berbaring membuat mata Anum memberat dan perlahan terpejam.


“Anum?!” mata Anum membola ketika melihat siapa yang memanggilnya.


“Mas Adnan?! Mas sudah pulang?” girangnya dan berlari mendekati Adnan, namun langkahnya terhenti kala Adnan mengangkat sebelah tangannya.


“Mas, Anum rindu, Anum ingin peluk” rengek Anum tapi tidak ada yang berubah dari Adnan, wajahnya tetap datar.


“Kamu keterlaluan, Mas kecewa sama kamu” satu kalimat yang mampu membuat hati Anum serasa di remas kuat.


“Mas?!!” dengan terengah Anum mengamati sekitarnya, kosong, tidak ada Adnan di dalam kamarnya, rupanya itu hanya mimpi.


Anum mengusap peluhnya kasar.


‘Apa maksud mimpi tadi?’


Mual kembali menyerang Anum, matanya kembali berkunang-kunang, tubuhnya lemas dan seketika itu pandangannya menggelap, Anum tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa agar seseorang segera datang dan menolongnya.


Pandangan seorang pria itu kosong, beberapa jam lalu saat akan memberi kejutan pada sang istri justru dirinya yang terkejut mendapati istrinya terkulai lemas di kamar mandi.


Tubuhnya mencelos ketika mengetahui satu rahasia yang istrinya sembunyikan lagi darinya, beruntungnya mereka tidak apa-apa, tapi rasa kecewa Adnan kembali terpupuk dalam relung hatinya.


“Mas?” lirih Anum membuat Adnan menatapnya datar.


Tatapan yang tidak pernah Anum dapatkan dari suaminya.


“Mas pulang?”


“Kenapa Num? Kamu inginnya Mas tidak pulang? Biar kamu bisa sembunyiin semuanya? Begitu?!” air mata mulai menggenang di mata cantik Anum ketika menerima nada tinggi Adnan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.


“Kamu mikirnya gimana sih Num?! Kamu mau kasih tau aku tentang kondisi kamu dan anak-anakku ketika semua sudah memburuk seperti kemarin?” tanya Adnan sedikit menuntut, rasanya sakit sekali ketika lagi-lagi ia harus menerima kabar tentang orang terkasihnya dari orang lain.


“Mas, Anum bisa jelaskan, tolong tenang dulu” mohon Anum mencoba meraih lengan Adnan tapi pria itu tepis mengundang tangis Anum menjadi.


“Aku tau kamu seperti ini karena kondisi mentalku kan? tapi kamu gak sadar satu hal Num, kamu sudah nyakitin aku, rasanya gak dipercaya pasangan sendiri dan tidak dilibatkan dalam apapun tidak enak Num, kamu tau tidak?!” Anum menutup mata rapat ketika menerima bentakan dari Adnan.


“Kamu pikir bisa menjalani semuanya sendiri? Kamu gak butuh aku!” Anum menggeleng cepat.

__ADS_1


“Tapi kenyataannya begitu Num, pernah kamu jujur sama aku? Bahkan tentang kondisi anakku saja kamu selalu bohong! Kamu pikir dia cuman tanggungjawab kamu?! Dia juga anakku!” Anum menangis kencang, dadanya serasa di remas, ini kali pertama mereka bertengkar hebat.


Adnan menghela nafas kasar, emosinya belum bisa stabil karena masalah yang lalu, ditambah lagi masalah ini.


“Kamu ngerasa bisa laluin ini semua tanpa aku kan? baiklah Num, lakukan apa yang kamu mau, tapi jangan pernah lagi ikut campur urusanku!” Anum hanya bisa menangis saat melihat Adnan kembali keluar dari kamarnya dengan koper kecil yang Anum yakini itu koper suaminya sehabis perjalan dinasnya.


Husna dan rekan sejawatnya menghampiri Anum yang menelungkupkan wajahnya di kedua lutut, mereka mendengar semuanya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Husna memeluk sahabatnya, ia sadar betul bahwa kali ini sahabatnya telah salah langkah, tapi Adnan yang marah ketika sahabatnya baru saja siuman juga tidak bisa dibenarkan.


“Husna, Mas Adnan, hiks” Husna mengusap punggung Anum teratur, ia sendiri tau rasanya tidak dilibatkan dalam hal genting pasangannya, itu rasanya tidak nyaman, tapi kembali lagi, semua orang pasti memiliki alasan dalam melakukan sesuatu.


Mungkin suami sahabatnya itu sedang lelah hingga bersumbu pendek seperti beebrapa saat lalu.


“Semuanya akan baik-baik saja Num, tenanglah” hanya itu yang bisa Husna katakan di sela tangis sahabatnya.


Hingar bingar dan dentuman musik yang kencang memecah kesunyian dalam hati Adnan, batangan yang muali ia hisap beberapa waktu lalu kini mulai habis. Adnan kembali meneguk gelas kecil itu, pikirannya sungguh kacau!


Gluk gluk gluk!


Cairan haram itu kembal imembasahi kerongkongan Adnan.


Kepalanya yang berat kini mulai enteng, Adnan menatap sayu wanita-wanita yang mulai berani menggerayangi tubuhnya.


Semua keramaian itu tak serta merta membuat Adnan tidak kesepian.


“Hei hentikan! Jauhi dia, pria ini milikku” Aku Indah jumawa pada wanita-wanita nakal itu, tapi pandangannya berubah sayu ketika melihat pujaan hatinya dalam keadaan yang tidak bisa dilihat baik saat ini.


Indah jelas tidak rela jika Adnan harus menerima pelecehan dari para wanita nakal itu, sekaligus ia kebingungan saat menemukan sosok Adnan di dalam tempat yang dikatakan orang surga dunia ini.


Setau wanita itu, Adnan adalah orang yang taat dan selalu menjauhi larangan tuhan, tapi yang hari ini ia lihat, pria yang ia cintai ini sudah menyingkirkan batasan antara boleh dan tidak boleh.


“Sakit Num, hati Mas sakit” racaunya, kini bukan hanya hati Adnan yang merasakan itu, tapi Indah juga, kala nama itu disebut oleh bibir kemerahan Adnan.


Indah sekaligus tersadar, Adnan sudah minum banyak alkohol.


“Ayo pulang Mas, ini bukan tempatmu” Adnan menatap Indah sekilas, lantas ia tersenyum dan pasrah saja saat wanita itu memapahnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2