Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 38


__ADS_3

Adnan menatap hampa depan rumahnya, ia yakin sang istri sudah mati-matian mencarinya, Adnan tau Anum pasti tidak melewati malamnya dengan baik setelah pertengkaran lalu.


“Mas Adnan?!” pekik Anum ketika melihat suaminya dalam jangkauan mata, segera wanita itu berlari dan memeluk Adnan penuh rindu.


Tapi kali ini, Adnan tidak membalas pelukan itu.


“Anum minta maaf Mas, Anum minta maaf, Anum tau Anum sudah sangat menyakiti hati Mas Adnan” racaunya disertai isakan, Adnan bergeming emosinya juga belum stabil, maka pria itu memilih diam saja.


Anum merenggangkan pelukan mereka dan menatap Adnan dalam, wanita hamil itu sadar jika Adnan masih kecewa karena ulahnya.


“Mas, maukan maafin Anum?”


“Sudahlah Num, saya lelah biarkan saya tidur” ucap Adnan dingin.


Anum menangis dalam diam kala Adnan meninggalkannya, ia sadar jika sudah sangat keterlaluan sekarang.


Saat sudah bisa mengendalikan dirinya Anum melangkahkan kakinya ke kamar, takut Adnan membutuhkannya.


Dengan sisa tangis yang tersisa Anum melihat Adnan yang tertidur menghadap jendela memunggungi dirinya.


Perlahan Anum berjalan mendekat pada Adnan, wanita hamil itu berjongkok di hadapan suaminya.


“Mas, Anum minta maaf, Anum sayang banget sama Mas, semoga setelah bangun Mas bisa maafin Anum ya”


Cup


Anum bangkit dan meninggalkan suaminya, Husna mungkin benar, Adnan butuh waktu, mereka sedang butuh waktu.


Tepat setelah pintu tertutup Adnan membuka matanya.


Perkataan Anum tadi semakin menambah beban di hatinya, ada sedikit nyeri disana.


Bukahkah Adnan sudah seperti berselingkuh dari istrinya sekarang?


***


Hari-hari tampak hampa, kesunyian menyelimuti rumah Adnan.


“Mas mau nambah ayamnya”


“Tidak perlu”


“Atau..”


“Cukup” sela Adnan saat Anum tak henti menawarkan berbagai hal sejak tadi.


Anum menatap sang suami nelangsa.


“Saya ada pekerjaan, mungkin akan lama, saya pergi dulu” tanpa menunggu jawaban istrinya Adnan segera berlalu meninggalkan sang Istri.

__ADS_1


Anum terduduk kaku di meja makannya, ia tidak tau kapan gelombang marah itu akan usai dari suaminya.


Wanita itu juga tak bisa berbuat apa-apa.


Harusnya Anum jujur pada suaminya.


Harusnya Anum menepati janjinya.


Harusnya..


Kata-kata itu terus berulang di kepala Anum dengan sendirinya.


Adnan yang dulunya hangat berubah sedingin es, dengan perlahan ia menunduk menatap perut buncitnya, wanita itu tersenyum, setidaknya, ia masih memiliki anaknya sebagai sumber kekuatan.


Saat pegangan dan sandarannya sedikit goyah.


“Haaaahhhhhh, bahkan Mas Adnan melupakan jadwal periksa kandungan yang sudah kusesuaikan dengan jadwalnya” seru Anum sedih.


“Tidak apa ya sayang, Papa seperti itu pasti karena sibuk, kan untuk beli kebutuhan kalian juga, kali ini kalian akan pergi bersama Mama saja” monolog Anum.


Mood Anum meningkat seketika setelah bicara dengan kedua anaknya.


Dengan riang bagai tidak terjadi apa-apa, Anum bergegas bersiap pergi ke dokter kandungan.


***


“Widiihhh cerah amat itu muka” Indah tersenyum menanggapi celotehan sahabatnya.


Akhirnya setelah sekian lama sahabatnya selalu patah hati kini wanita muda itu berani melangkah ke depan.


“Siapa nih cowok beruntung itu?” Indah tertawa.


“Jadi sebutannya sudah berganti menjadi cowok beruntung?” alis Gladys bertaut bingung.


“Maksudnya?”


Indah kembali cengingisan.


“Biasanya kamu sebut dia laki-laki bodoh” mata Gladys membola seakan matanya akan keluar seketika.


“Ndah..”


“Dia Mas Adnan” ungkap Indah penuh bahagia.


Bahu Gladys merosot lesu, serasa dikutuk, sahabatnya ini seakan tidak bisa lepas dari laki-laki bernama Adnan itu.


“Ndah kamu tau kan kalau ini salah?” senyuman yang sejak tadi terbit itu meredup seketika.


Indah menatap Gladys dengan murung.

__ADS_1


“Apa gak boleh aku bersama Mas Adnan meski hanya sebentar?”


“Dan Adnan setuju?” Indah mengangguk.


“Bagaimana bisa?!” kemudian mengalirlah cerita dua hari lalu.


Gladys speecless, dia sudah tidak tau bagaimana cara memahamkan sahabatnya ini, tapi dia tetap tidak terima jika sahabatnya melakukan hal yang salah.


“Kalau kamu berada di posisi istri Adnan, apa kamu akan terima jika suami kamu jalan dengan wanita lain?”


Indah menunduk, logikanya sudah jelas menentangnya melakukan ini, tapi, hatinya tidak bisa dibohongi jika ia juga haus cinta dari Adnan, laki-laki yang ia cintai selama ini.


“Kalau kamu tetap jalan sama Adnan, aku gak yakin kalau kamu cinta sama dia Ndah” tambah Gladys membuat atensi Indah berpusat padanya.


Ada sorot kecewa di benak Gladys itu, Indah juga menyadari ini salah, sekali lagi, ini masalah hati, permasalahan yang membuat salah dan benar tampak samar.


“Sekarang aku yakin kamu itu cuman terobsesi sama Adnan, ini bukan cinta Ndah, kalau kamu cinta kamu gak bakal memaksakan kehendak, menghalalkan segala cara seperti ini”


“Ini perjuangan ku Dys” sela Indah yang tidak terima dengan statement sahabatnya.


“Aku rasa bukan hanya sekali Adnan memperingatimu agar berhenti, apa kamu mendengarkan pria itu?”


Indah diam, hatinya sibuk menganalisis perasaannya, dalam benak wanita itu ini adalah cinta.


“Adnan sudah sering bilang, dia juga mengatakan padamu, ada wanita lain yang bertahta di hatinya saat mengakhiri pertunangan kalian kan?”


Lagi-lagi tebakan Gladys tepat sasaran.


“Aku membenci Adnan hanya untuk membuka matamu Ndah, bahwa tanpa dia kamu masih tetap utuh, kamu tidak akan hampa, masih ada aku dan keluargamu”


Entah karena terharu atau menyadari kesalahanya, Indah menitikan air mata.


“Aku cuma ingin tau rasanya mengahbiskan waktu bersama Mas Adnan Dys, aku janji ini yang terakhir, dan ini hanya sehari saja, setelah itu Mas Adnan akan menjadi milik Anum seutuhnya” Gladys hanya bisa menggelengkan kepala mendengar penuturan sahabatnya.


“Aku janji hanya sehari, bahkan aku rela meminta maaf pada Anum setelahnya”


“Apa artinya sebuah maaf jika luka yang menganga masih terasa sakitnya, kamu.. kamu gak akan tau rasanya diduakan, karena kamu tidak pernah ada di posisi itu” ucap Gladys yang mulai emosional.


“Aku tau Dys, aku tau! Bahkan lebih dari itu aku pernah merasakan tidak dianggap?!” Gladys menatap tak percaya pada sahabatnya, untuk pertama kali Indah membentaknya.


Gladys mengangguk kaku, air matanya juga tak terasa jatuh satu demi satu.


“Iya, aku memang tidak tau jika kamu pernah merasakannya, aku sahabat yang buruk, selamat bersenang-senang dengan SUAMI orang Ndah” Ucap Gladys sarkas.


Merasa tidak lagi memiliki kepentingan Gladys mengemasi barangnya dan meninggalkan Indah sendirian.


Menyadari kesalahannya membuat Indah menggeram kesal.


Tidak ada siapapun yang mengerti dirinya, sekalipun Gladys, sahabatnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2