Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 52


__ADS_3

Adnan menatap rumah yang sudah ia tinggali bersama Anum hampir setahunan ini, rumah yang ia desain untuk keluarga kecilnya bukan lagi miliknya.


Pria itu menoleh saat lengannya diusap pelan, Anum.


“Semuanya sudah siap Mas,yang ikhlas ya?” tidak punya pilihan lain Adnan mengangguk sebagai jawaban.


Netra Adnan menatap, Farhat, Baihaqi, Husna dan Faisal yang turut membantu kepindahan mereka.


Mereka semua tersenyum menguatkan Adnan.


“Ayo kita berangkat” Adnan mengangguk dan menurut saja saat Anum menuntunnya ke mobil Farhat.


Mereka hanya membawa pakaian, dan dokumen penting saja, karenanya tidak memerlukan mobil besar.


Di perjalanan semuanya diam, mereka satu mobil dengan Farhat dan Baihaqi, sementara Husna ada di mobil lain bersama suaminya.


Rencananya mereka akan tinggal sementara di properti milik Haqi, bahkan para sahabatnya itu sudah mencarikan pekerjaan untuk Adnan.


Dikondisi sulit ini Adnan bersyukur karena masih bisa bernafas dan tidak sepenuhnya terhimpit karena keberadaan para sahabatnya.


Lamunan Adnan buyar saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah sederhana, “Ayo turun Mas” Adnan mengangguk.


“Silahkan masuk” Adnan berjalan masuk membuntuti Baihaqi.


Matanya sedikit terperangah melihat area dalam yang cukup luas, tidak sekecil yang terlihat dari luar.


“Seadanya ya bro, ya Ane taulah ini gak ada apa-apanya dibanding rumah ente sebelumnya”


“Ini udah lebih dari cukup, terimakasih Qi” Bahiaqi mengangguk senang.


“Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungin kami” ucap Faisal.


“Terutama Anum nih, awas aja gak kabarin kami kalau ada apa-apa” Anum tersenyum lebar mendapati tuduhan itu.


“Terimakasih untuk kalian semua”


“Santai lah Nan, kita kan sohib, ya gak guys?” ucap Haqi diangguki semuanya.


Acara selanjutnya diisi dengan kegiatan ramah tamah dengan makan bersama.

__ADS_1


***


“Hahhhh” Anum tersenyum dan mengusap peluh di dahi Adnan.


“Capek ya?”


“Sedikit, tapi ini menyenangkan” Anum tertawa.


Mereka baru saja selesai beberes rumah setelah satu per satu para sahabat mereka pamit pulang.


“Emangnya Mas Adnan bener-bener gak pernah bersih-bersih rumah sebelum ini?” Adnan menoleh pada Anum kemudian menggeleng pelan.


“Dari dulu aku selalu terima beres, bahkan setelah kematian Papa dan Mama..” Anum menggenggam tangan pria itu saat Adnan sedikit menjeda kalimatnya.


“Aku sudah tidak apa-apa Num, berkat kamu, berkat anak-anak kita, aku jadi punya semangat tinggi untuk sembuh” Anum sedikit tersentuh dengan itu.


Sebelum ini Anum pasti tidak pernah mengira akan menjadi sebuah alasan seseorang untuk berubah lebih baik, tapi itu bagus kan?


“Mas bersyukur sekali dipertemukan dengan kamu saat itu, Mas bersyukur sekali cinta Mas dijatuhkan untuk kamu” ucap Adnan mengenang masa-masa itu.


“Anum juga beruntung bisa menikah dengan pria baik seperti Mas Adnan” pria itu mengecup tangan istrinya dengan lembut.


“Setelah ini, apakah semuanya akan baik-baik saja Num?”


“Kalau begitu kenapa kita mau menghabiskan waktu untuk sekedar berpikiran buruk, kan labih baik kita memikirkan hal-hal yang baik agar semuanya menjadi baik, iya kan?” rasa kagum yang mencuat pada sang istri membuat Adnan mengusap pipi Anum yang menggembung semenjak hamil.


Tapi bukannya terlihat buruk, Anum semakin terlihat cantik semenjak kehamilannya kali ini.


“Tidak ada cobaan yang melebihi batas kemampuan hambanya Mas” Adnan kembali mengecup tangan istrinya.


“Bantu Mas untuk sembuh Num” dengan senang hati Anum mengangguk.


“Oke, bapak Adnan silahkan dilanjut membersihkan taman belakangnya, jangan sampai ada rumput yang tersisa ya..” ucap Anum yang sudah berdiri, tapi Adnan mencegahnya.


“Kamu mau kemana Num?”


“Anum mau bikin es teh, kan enak tuh panas-panas minum es, Anum masuk dulu ya Mas”


Dengan berat hati Adnan mengannguk.

__ADS_1


Tinggallah Adnan sendiri di halaman belakang mereka yang katanya akan Anum buat sebagai taman dengan ayunan kecil untuk anak mereka kelak.


Mengingat itu Adnan tersenyum, hatinya kembali menghangat, juga dirinya yang tidak menyangkan jika sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Namun raut kecewa itu kembali muncul saat menyesali semua yang terjadi.


Tapi Adnan segera menggeleng untuk menghilangkan pikiran buruknya.


Nyeessss


Adnan terkejut saat ada sensasi dingin yang menyentuh kulit pipinya, lalu ia pura pura merajuk saat melihat Anum yang sudah menertawainya.


“Ngelamunin apa sih, kok Anum gak diajak?”


“Mas kaget tau Num”


“Makanya jangan suka ngelamun” Adnan diam, matanya menerawang ke depan.


“Tuh, tuh, ngelamun lagi”


“Mas minta esnya Num” dengan sigap Anum menuangkan es teh itu ke gelas dan memberikannya pada Adnan.


Merasa lelah Adnan mencuci tangannya dan duduk di kursi sebelah Anum, sembari menerima segelas es teh itu.


Perutnya terulur mengusap lembut perut besar Anum, tendangan-tendangan kecil itu Adnan terima dari anak-anaknya.


Senyuman Adnan terbit begitu saja, senyuman yang tentunya juga menular ke Anum, akhir-akhir ini Adnan sering diam dan melamun.


Insecurity-nya kembali merajai Adnan yang merasa suda tidak memiliki apapun.


Padahal Anum tidak pernah menuntut apa-apa dari Adnan, tapi pria itu selalu merasa ia yang paling bertanggungjawab untuk musibah yang menimpa mereka.


“Kapan waktunya periksa lagi Num?”


“Minggu depan Mas”


“Ingatkan Mas ya Num, Mas ingin ikut” Anum mengangguk, kemudian ia menggenggam tangan Adnan yang masih setia diatas perutnya.


“Semua ini ada hikmahnya Mas, lihat saja, biasanya Mas tidak bisa menemani Anum periksa kandungan tapi kali ini bisa, ya kan?” Adnan mengangguk dengan senyum kecilnya.

__ADS_1


Anum tau bahwa suaminya ini masih belum bisa menerima keadaan baru mereka, tapi tidak apa-apa Anum masih bisa berusaha untuk meyakinkan suaminya bahwa semua akan baik-baik saja.


TBC


__ADS_2