Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 22


__ADS_3

Anum kembali termenung sendiri dalam rumah yang sudah ia tempati semenjak resmi menjadi istri sah Adnan. Semua tugas rumahnya sudah ia kerjakan dengan baik sore ini, kini hanya tinggal duduk manis sembari menunggu kedatangan sang suami.


Setelah mengajukan negoisasi dengan Adnan, akhirnya Anum memiliki sedikit peran dalam membersihkan kamar mereka sendiri dan memasak, meski itu melalui proses yang panjang dalam membujuk sang suami, tapi Anum puas.


Sudah terhitung delapan bulan mereka mengarungi bahtera rumah tangga, sudah beberapa kali pula wanita itu memakai alat tes kehamilan, hasilnya negatif.


Ketakutannya kembali muncul, riwayat penyakitnya, ditambah jadwal mens yang tidak teratur membuatnya selalu berpikiran buruk.


Sudah mulai banyak mulut usil yang menanyakan hal itu membuatnya semakin sendu dan uring-uringan.


“Kamu gak sendirian melewati proses itu. Mas akan selalu bersamamu”


Hati Anum kembali terenyuh ketika mengingat perkataan Adnan kala itu. Kata-kata yang sederhana memang, semua orang bisa mengatakan hal itu pada siapapun. Tapi, Anum punya firasat bahwa Adnan tidak akan mengingkari janjinya sendiri.


“Lagi mikirin apa sih?” Anum menoleh ke sumber suara, Adnan, dengan tampilan lelah sepulang kerja namun tidak menghilangkan kharismanya di mata Anum.


Wanita itu tersenyum dan bangkit untuk menyalami Adnan, mengambil alih tas Adnan kemudian menuntun pria itu untuk duduk.


Tidak menjawab pertanyaan Adnan, Anum memilih berjalan ke dapur.


Adnan menatap wajah Anum mendung saat ia datang membuatnya juga ikut sedih, Adnan tau penyebab wanitanya murung, sepintar apapun Anum menutupinya, ia akan selalu tau.


Anum datang membawa segelas air, “Minum dulu Mas” Adnan mengangguk dan gelas itu berpindah tangan. Dengan telaten Anum bersimpuh dan melepaskan sepatu Adnan, kebiasaannya semenjak menjadi seorang istri.


Meski senang diperlakukan sebaik itu tapi Adnan sudah pernah melarang.


“Ini adalah salah satu bentuk baktiku padamu Mas, ladang pahalaku yang lain ada disini, jadi bolehkan aku melayanimu seperti ini ya”


Bujuknya kala itu.


Jika itu yang Anum mau, tidak ada alasan bagi Adnan melarangnya bukan?


Dalam diam mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, Adnan bisa melihat ada jejak tangis di mata Anum.


Setelah meletakkan gelas, tangannya membingkai wajah Anum, membuatnya menatap Adnan.


Gerakan tangan Anum terhenti.


“Kamu lagi mikirin apa, sayang?” tanya Adnan, tapi kali ini sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Anum, ingin mencuri cium pada si empu yang sejak tadi hanya terdiam.


Cup

__ADS_1


Mata Anum mengerjap pelan, suaminya ini memang sering melancarkan aksi-aksinya secara mendadak.


“Kalau diem terus aku cium lagi nih” ancam Adnan yang sudah kembali mencondongkan badannya ke arah Anum, namun segera Anum tahan dada bidang itu sembari memalingkan wajah.


Anum malu, meski ini bukan pertama kalinya bagi Anum, tapi tetap saja, wajahnya akan memanas jika berada dalam radius sedekat ini dengan Adnan.


Sementara Adnan terkekeh melihat tingkah istrinya, hal itu yang semakin membuat Adnan suka menggoda Anum seperti saat ini.


“Mas udah, aku belum selesai buka sepatu kamu” rengek Anum membuat Adnan membiarkan Anum menyelesaikan kegiatannya.


Saat semuanya sudah selesai Adnan membimbing istrinya agar duduk disampingnya dan memeluknya.


Adnan tau wanitanya ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Bahu Anum bergetar, ia menangis dalam pelukan Adnan.


“Mas tadi aku coba tes lagi” lirih.


“Hasilnya negatif”


“Sudah jangan menangis lagi Num, mungkin masih belum waktunya” ucap Adnanmencoba memberikan istrinya pengertian.


“Apa ada yang salah dengan tubuhku ya Mas?” ucap Anum kembali menimbulkan praduga.


“Baiklah kalau begitu, aku juga harus di cek” ucap Adnan, membuat istrinya menatapnya bingung.


“Kok kamu juga di cek? Aku tadi hanya bilang aku yang bermasalah Mas” jawab Anum hati-hati.


“Ya karena kalau kamu mau cek kesuburan, berarti aku juga harus di cek, karena kehamilan itu terjadi karena kita berdua, aku dan kamu, jika kamu berfikir penyebab kehamilan itu tidak segera terwujud karena kamu berarti juga ada kemungkinan jika yang bermasalah itu aku” ujar Adnan dengan tenang.


Hati Anum kembali tersentuh, selama ini suaminya tidak pernah menuntut apapun, semua ini murni kekhawatirannya saja.


Disaat semua pihak pria akan menyalahkan pihak wanita saat kehamilan itu tidak kunjung muncul, tapi Adnan tidak.


“Anum berlebihan ya Mas?” tanya Anum kembali merasa bersalah, dengan lembut Adnan kembali mengusap puncak kepala Anum.


“Nggak, kamu tidak salah jika ingin mengecek kesehatan kita berdua Num, Mas dukung, hanya saja jangan terus menerus bersalah dan merasa bahwa kamulah penyebab kehamilan ini belum terjadi, Mas sedih lihat kamu seperti itu” mendengar itu membuat Anum kembali merasa bersalah.


“Maafin Anum Mas” Adnan mengangguk dan menatap Anum penuh cinta.


“Dimaafin sayang”

__ADS_1


“Mau tau tidak yang ada dipikran Mas apa kalau kamu uring-uringan karena ini?”


Anum mengangguk lucu, membuat Adnan tidak tahan untuk mengecup bibir istrinya.


Cup


“Mungkin usahanya kurang, ayo bikin sekarang, mungkin bakal jadi” ucap Adnan setengah menggoda Anum.


“Emangnya anak itu kayak kue, pake dibikin segala?!” sewot Anum dengan nada yang tidak biasa, sejujurnya Adnan terkejut dengan respon Anum kali ini, tidak biasanya Anum bicaara dengan nada seperti ini padanya.


“Nah, itu poinnya sayang” jawab Adnan dengan lembut, ia cukup paham dengan kekhawatiran istrinya, ini bukan kali pertama Anum mengajukan pertanyaan seperti itu padanya.


Merasa di permainkan, Anum segera bangkit dari duduknya hendak meninggalkan Adnan, namun hal itu di cegah Adnan dengan mencekal tangan Anum dan menariknya, hingga Anum terduduk di pangkuan Adnan.


“Sayang, gak mau dengar penjelasan Mas dulu?” tanya Adnan sembari menatap wajah Anum yang kini duduk manis di pangkuannya.


Anum menatap Adnan dengan ragu-ragu, matanya mengembun, namun ia menggeleng pelan. Ia tau pasti Adnan sudah bosan menjawab pertanyaannya yang selalu sama setiap harinya.


“Eh, kok nangis lagi, jangan dong, ayo wahai air mata jelek jangan muncul di wajah istriku yang cantik ini, cepat pergi datanglah saat ia bahagia saja” ucap Adnan dengan nada jenaka seperti mengucapkan sebuah mantra, karena malu Anum memukul dada bidang Adnan dengan sedikit tawa yang membuat air matanya luruh, segera Adnan menghapus air mata itu dan memeluk tubuh Anum dengan lembut.


“Anak itu memang bukan kue, yang bisa kita buat langsung jadi, sayang, ada nyawa yang bersarang padanya, dan itu hanya akan ada jika Allah menghendakinya ada”


Anum menangis tanpa suara saat mendengar perkataan Adnan. Ia terlalu memikirkan perkataan orang lain yang terus mencercanya dengan pertanyaan “kapan hamil?” hingga ia lupa bahwa hidupnya ini sudah di atur oleh yang Maha Bijaksana.


“Mas tau kamu seperti ini karena desakan keluarga Mas kan?” Anum diam, ia tidak mau membuat Adnan semakin membenci keluarganya karena dirinya sendiri.


“Enggak kok, aku kepikiran aja, Husna saja hamil setelah satu bulan pertama menikah, sepupu mas juga begitu, padahal kita yang menikah terlebih dahulu” Adnan menghela nafasnya sembari mengeratkan pelukannya pada sang istri.


“Hidup ini bukan perlombaan sayang, semuanya sudah memiliki masa mereka masing-masing. Mungkin, Allah ingin kita berdua dulu seperti ini, menguatkan ikatan kita sebelum menghadirkan buah cinta kita” Adnan mengecup puncak kepala Anum, kekuatannya ada pada Anum saat ini, dan melihatnya putus asa seperti ini juga turut menyakiti hatinya.


“Maafin Anum ya, Mas” ucap Anum sembari mendongak pada Adnan dengan wajah sembabnya. Adnan mengecup kedua mata Anum yang membuat si empu memejamkan matanya.


“Kita sama-sama belajar ya sayang, ingatkan Mas juga, kalau Mas salah jalan” Anum mengangguk singkat.


“Kalau kamu menggemaskan gini, Mas jadi laper sayang” ucap Adnan yang sontak membuat Anum mengurai pelukan mereka.


“Oh, iya, maaf ya, Anum sampe lupa nawarin makan, ayo makan mas, Anum sudah masak tadi” ucap Anum yang sudah akan bangkit namun Adnan kembali menghalanginya untuk beranjak.


“Mas gak mau masakan kamu” mata Anum membola, baru kali ini Adnan menolak masakannya.


“Mas mau makan kamu aja” tambah Adnan kemudian sembari menggendong Anum dan berlalu ke kamar mereka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2