Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 28


__ADS_3

Adnan terbangun dengan terkejut saat tangannya bebas menyentuh ranjang disebelahnya.


Anum sudah tidak ada, dengan menyipitkan mata menyesuaikan pandangan dengan cahaya matahari yang masuk malu-malu Adnan menatap jam dinding kamarnya.


03.00


‘Kemana Anum?’


Dengan malas ia turun dari ranjang dan memeriksa kamar mandi, kosong.


Langkahnya berjalan keluar kamar, mungkin saja Anum berada di dapur.


“Hiks hiks” mata Adnan melebar saat mendengar tangisan itu, bulu kuduknya meremang.


Namun hatinya mendadak perih saat tau sumber suara itu, kamar calon anak mereka, Anum pasti ada disana.


Perlahan ia mendekat dan membuka pintu tanpa menimbulkan suara, disana istrinya sedang memeluk baju mungil yang mereka beli bersama sebelum kejadian menyakitkan itu terjadi, baju yang langsung menarik minat Adnan dan Anum untuk memilikinya.


Tangisan lirih kini terdengar menyakitkan di rungu Adnan, ia kira setelah berbicara kemarin semuanya usai, ternyata tidak, istrinya masih terpuruk karena kejadian itu.


Perlahan Adnan menutup pintu, sedikit menjauh.


“Sayang...!” panggil Adnan berpura-pura mencari istrinya.


Belum ada sepuluh menit pintu kamar itu terbuka, menampakkan wajah ceria Anum yang dibuat-buat.


Adnan yang tidak buta dapat melihat sisa tangis itu, tapi ia memilih untuk tidak membahasnya.


“Mas kok bangun? Butuh sesuatu” tawar Anum yang langsung diangguki oleh Adnan.


“Mas butuh kamu, kenapa tinggalin Mas tengah malam kayak gini sih” omel Adnan membuat Anum meringis.


Tanpa kata-kata ia menarik tangan istrinya, membawanya ke arah kamar mereka.


Adnan merebahkan tubuh lemah istrinya dalam dekapannya.


Situasi dingin pasca kehilangan anak mereka sudah teratasi sore tadi, tinggal kecanggungan diantara mereka yang tersisa.


Perang dingin lalu membuat mereka melupa cara bercengkrama dengan pasangannya.


Anum yang masih merasa bersalah pada Adnan dan anak mereka hanya bisa diam, sementara Adnan diam karena takut kata-katanya akan menyakiti sang istri.


“Num” “Mas”


Panggil mereka bersamaan, keduanya merenggangkan pelukan dan saling tatap satu sama lain.

__ADS_1


“Kamu... jangan menyembunyikan apapun lagi ya Num, semuanya harus dibagi bersama, susah-senang, sedih-bahagia, kita ini suami istri kan Num?” Anum mengangguk lucu.


“Kalau begitu kamu harus melakukan yang aku minta tadi, oke?”


“Iya Mas”


Damai.


Itu yang keduanya rasakan sekarang.


“Kamu.. masih sedih ya kehilangan anak kita?” tanya Adnan dengan hati-hati. Tak disangka Anum mengeratkan pelukannya pada sang suami.


Tangan Adnan terulur mengusap punggung Anum, wanitanya ini sulit sekali mengutarakan perasaannya, Adnan harus bersabar menghadapi wanita rapuh ini.


“Kamu harus membagi apapun yang kamu rasakan dengan Mas, ingat janjimu tadikan?” desak Adnan dengan super lembut untuk menyentuh hati lembut istrinya.


Isakan itu terdengar lagi, dada Adnan terasa basah, Anum-nya menangis.


“Ceritakan apa yang membuat kamu resah, keluarkan semua yang mengganjal dalam hatimu sayang, Mas disini, Mas akan dengarkan semuanya”


“Tadi aku bermimpi” ucap Anum yang memulai ceritanya setelah berhasil mengendalikan diri.


“Sena, begitu aku memanggil bayi yang ada di kandunganku, kamu tau Mas, dia akan aktif bergerak saat aku memanggilnya Sena” ungkap Anum sembari sesekali tertawa mengenang kebersamaannya bersama si kecil.


Adnan membenarkan posisi mereka untuk duduk bersandar dengan Anum yang berada dalam dekapannya.


“Dia pasti tampan kan?” tanya Adnan untuk mengurai kesedihan sang istri.


“Iya, dia seperti foto kopi-an kamu banget Mas” jawab Anum antusias.


Adnan terkekeh ringan, pandangannya menerawang ke depan jika saja anaknya itu lahir, pasti ia dan Anum sekarang sudah menjadi keluarga kecil yang bahagia.


“Sena bilang, aku mama yang terbaik, dia bilang begitu Mas” tambah Anum lagi, air matanya kembali mengalir dengan deras.


“Memang, kamu Mama dan istri terbaik sedunia” hibur Adnan, itu memang benar.


“Tapi aku gagal merawatnya Mas, kondisiku membuat Sena harus pergi” sanggah Anum, menurutnya orangtua yang baik adalah orangtua yang bisa menjaga anak mereka, tapi Anum tidak, dia merasa gagal sebagai seorang ibu.


Adnan diam, lagi-lagi istrinya menyalahkan dirinya sendiri.


“Aku.. aku sudah buat Mas kecewa, aku istri dan ibu yang buruk Mas” merasa tidak tahan Adnan bangun dan memegang pundak Anum agar berhadapan dengannya.


“Kita hanya manusia Anum, melakukan kesalahan adalah hal yang wajar, jika Allah mengambil Sena dari kita itu artinya yang terbaik untuk semua”


Anum temenung, ia tau yang dikatakan Adnan sangat benar tapi untuk menerima masih sulit.

__ADS_1


“Maaf Mas” Adnan memeluk tubuh istrinya.


“Kenapa terus meminta maaf Anum, Mas sudah maafkan kamu”


Anum menatap wajah pria yang sangat ia cintai itu dengan lekat. Ia sadar sudah terlalu egois, prianya ini pasti juga tidak baik-baik saja.


Tangan mungilnya tergerak mengusap wajah tegas itu dengan lembut, membuat sang empu menutup mata.


“Kita harus saling terbuka kan?” Adnan mengangguk.


“Kayaknya selama ini cuman aku yang bercerita, Mas tidak mau membagi perasaan Mas denganku juga?” Adnan membuka matanya perlahan kemudian tersenyum, Anumnya sudah lebih baik.


“Mas, mas juga harus berbagi denganku” desak wanita itu membuat Adnan tertawa.


“Pasti, Mas selalu berbagi apapun dengan Anum” goda Adnan dengan memainkan kedua alisnya, membuat Anum ngambek dan beralih memunggungi suaminya.


Berbagi apanya? Laki-laki itu seakan lupa jika ia terlalu banyak diam semenjak di rumah sakit.


“Kok Mas dipunggungin sih” ucap Adnan sembari berusaha nmembalikkan tubuh Anum, tapi sia-sia.


“Num, jangan gini lah” rengek Adnan yang berhasil membuat Anum sedikit meliriknya.


“Num...” rengek Adnan lagi, kali ini ditambah dengan mencolek pinggang wanita itu, membuatnya sedikit menghindar karena geli.


“Kalau tetap diam Mas gelitikin nih ya?!” ancam Adnan, Anum tetap pada posisinya membuat pria itu melancarkan aksinya.


“Aaah ampun, udah! geli Mas” mohon Anum, tapi Adnan enggan berhenti, sudah lama sekali ia dan Anum tidak bercengkrama sehangat ini.


“Rasain, suruh siapa nyuekin suami sendiri” ungkap Adnan di sela kegiatan asiknya itu.


Kondisi bertambah riuh saat Anum mengambil bantal, memukulkannya pada Adnan yang juga dibalas oleh pria itu, mereka seperti kembali ke masa kecil dimana tidak ada kesedihan yang menyapa, hanya bahagia dan pikiran polos tentang kebahagiaan apa yang akan muncul esok hari.


Keduanya tidur merebah berdampingan kala lelah melanda, ini masih pagi buta dan mereka sudah saling kejar dan mengusili satu sama lain.


“Jadi inget masa kecil ya” ucap Adnan yang diangguki Anum.


Dulu Anum sering perang bantal dengan Husna dan anak panti yang lain.


“Better?” Tanya Adnan lagi, Anum mengubah posisi miring, menatap suaminya, menghapus peluh yang menghiasi wajah tampan itu.


Anum tau, pria ini sedang berusaha menghiburnya, dan itu selalu berhasil, karena tanpa melakukan apapun Adnan selalu bisa membahagiakan Anum.


“Sudah jauh lebih baik” jawab Anum dengan senyuman termanis yang ia punya, Adnan mendekatkan wajahnya pada Anum.


Mengecup puncak kepala Anum, sungguh ia sangat mencintai wanitanya ini.

__ADS_1


TBC


__ADS_2