Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 39


__ADS_3

Sudah tiga hari Adnan mendiamkan istrinya, dan hari ini, pria itu di buat heran dengan tingkah istrinya, jika biasanya Anum akan selalu membuka percakapan, kali ini wanita hamil itu memilih ikut mendiamkan sang suami hingga membuat sepasang pasutri itu saling diam.


Merasa sudah keterlaluan Adnan berusaha menekan egonya, ia juga tidak tahan mendiamkan istrinya selama ini.


“Num..”


Wanita itu hanya menatap sang suami, sebelum Adnan mengutarakan niatnya Anum sudah berlalu pergi mengundang helaan nafas Adnan.


Jadi istrinya kini sedang balas dendam?


Yang tidak Adnan tau, Anum berjalan sedikit pelan karena sesak di dadanya mulai terasa.


Semuanya berbeda ketika Anum tidak sengaja membaca pesan di ponsel suaminya.


Apa Anum sudah kalah sekarang?


Apa celah yang dimaksud mantan tunangan suaminya itu sudah terlihat?


Anum tidak pernah berfikir macam-macam tentang suaminya, karena ia percaya, tapi, Anum tidak mempercayai wanita itu.


Memang sebagai seorang istri, lebih tepatnya manusia, harus minimal bertanya sebelum menyimpulkan sesuatu karena ada banyak hal yang tidak bisa ia tau dan lihat.


Tapi Anum tidak melakukannya, hatinya belum sekuat itu.


Di tempatnya Adnan memilih untuk duduk di ruang tamu, kala handphonenya bergetar.


‘Mas Adnan?’


Adnan mendesah lelah, dia sudah seperti peselingkuh handal sekarang.


Dengan malas ia membuka pesan Indah.


Ada banyak pesan disana, intinya wanita itu bertanya apa akhir pekan Adnan akan melunasi hutang janjinya?


Dan Adnan hanya membalas..


‘Jadi’


Ini hanya sebuah pertemuankan? Seperti makan malam ucapan terimakasih, hanya itu.


Pikiran Adnan asik bergelut dengan nurani.


***


‘Jadi’


Hati Indah berbunga hanya karena satu kata itu.


Dia tidak akan menyiakan kesempatan ini, semuanya harus tampak perfect.


Merasa ada yang hilang Indah mendesah lesu, Gladys memutus kontak mereka, bahkan gadis yang selama ini menemani Indah dalam suka duka itu enggan membalas pesannya.


Seburuk itukah sikapnya kali ini, lagipula ini hanya sekali kan?


Wanita yang Gladys khawatirkan perasaannya itu tidak kehilangan apapun.


Dan selamanya hanya Indah yang merasakan terluka.

__ADS_1


Impiannya akan menjadi kenyataan selama sekian lama ia harapkan.


Tidak pernah sebelumnya Adnan dengan suka rela mengiyakan jika dia mengajak pria itu pergi berdua saja, hingga Indah sampai harus menjebaknya dalam pertemuan bisnis kala itu.


Rasanya Indah tidak sabar menunggu hari esok.


Sepertinya malam ini wanita itu tidak akan tidur dengan nyenyak.


Indah mengacak rambutnya malu, sesungguhnya ia merasakan gerogi itu, senang dan khawatir yang menjadi satu.


“Aaahh Mas Adnan, kamu buat Indah jadi gila” racaunya.


Sejurus kemudian ia kembali research akan kemana saja ia besok, mengingat waktunya hanya satu hari.


Ia harus rancang hari itu dengan baik, agar menjadi kenangan yang tak akan bisa Indah lupakan.


Kebun bunga.


Itu akan jadi destinasi pertama mereka, Indah kembali membayangkan saat ia dan Adnan akan berlarian di tengah wewangian semerbak bunga.


Lagi-lagi Indah menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran nakal itu, mana mungkin Adnan mau melakukan hal sekonyol itu dengannya.


Mungkin selanjutnya makan malam romantis cocok untuk keduanya.


Indah kembali melancarkan jemarinya untuk mencari tempat yang pas.


Dan akhirnya wanita itu memilih pantai sebagai penutup pertemuan mereka.


Rasa bahagia yang meletup letup mampu membuat Indah berlonjak-lonjak kegirangan.


***


Rasa sedih itu kembali menghiasi wajah Anum, mati-matian ia menggigit bibirnya untuk meredam tangis.


Entah sudah sejauh apa hubungan keduanya.


Meski pesan itu dari nomor asing, Anum masih menghafal kombinasi angka itu.


Netranya menatap sang suami yang masih terlelap, Anum memahami jika sang suami masih kecewa dan marah karena lagi-lagi Anum menyembunyikan kondisi aslinya.


Tapi,


Ah sudahlah.


Kaki jenjang Anum menyentuh lantai, wanita itu memilih bangun dan mengambil air wudhu.


Malam ini, ia ingin mengadu pada sang penciptanya, meminta solusi yang terbaik.


Rakaat pertama Anum sudah jauh lebih baik, di tiap sujudnya, Anum mengutarakan doa kecil pada Tuhannya.


Hingga sujud terakhir, Anum memilih berlama, setetes air mata kembali jatuh.


“Assalamu’alaikum warahmatullah”


Suatu nikmat yang telah Allah titipkan pada tiap umatnya, nikmat shalat.


Hati Anum mulai tentram.

__ADS_1


Mata Anum terpejam saat menyebut tasbih, ia berdzikir, sekaligus memohon ampun mungkin sekiranya Anum terlah berbuat salah hingga di tegur dengan masalah ini.


Setelah puas, Anum menengadahkan tangannya, ia memulai komunikasi dengan Tuhannya.


“Ya Allah, Ya Rabb, ampunilah hambamu ini yang selalu lalai dalam hal apapun, ampunilah kedua orang tua hamba dimanapun mereka berada, ampunilah suami hamba dari segala dosa” Anum menghela nafas ketika ia rasa sesak saat menyebutkan suaminya.


“Hamba ikhlas Ya Allah, jikapun hamba ingin mengadukan sesuatu hamba hanya minta lindungilah suami hamba dari mara bahaya dan orang yang berniat jahat padanya, utuhkanlah kami dalam pernikahan ini Ya Allah, kuatkan niat kami yang menikah hanya karena Engkau” ucap Anum yang mulai terisak.


“Ya Allah, hamba hanyalah seorang yang lemah, lapangkanlah hati hamba agar mampu menerima segala ujian dan cobaan serta dapat melaluinya dengan baik” lirihnya.


“Hamba pasrahkan semuanya pada-Mu Ya Allah, Engkaulah sebaik-baiknya penolong”


Adnan yang sedari tadi tidak tidur turut mendengar semua doa sang istri, tak tahan menahan semuanya Adnan memilih bangkit dan memeluk tubuh Anum yang masih berbalut mukenah dalam posisi bersimpuh.


“Mas? Sudah bangun?” tidak ada jawaban Adnan malah mengeratkan pelukannya.


“Mas minta maaf” lirih Adnan yang kembali mengundang air mata Anum untuk jatuh.


“Kenapa?”


“Mas tau kalau kamu sudah tau maksud Mas, Num”


“Mbak Indah..” ucap Anum dengan suara tercekat.


“Mas minta maaf”


“Sudah sejauh apa hubungan kalian Mas?” Adnan merenggangkan pelukan mereka, dan membalik tubuh Anum agar mengahdapnya.


“Malam itu, Mas mabuk” Anum menatap suaminya tak percaya.


“Lalu?” Adnan menelan ludahnya kasar.


“Indah.. dia membawaku ke kamar hotel” Anum melepaskan tangan Adnan yang masih berada di bahunya, wanita itu memilih mundur, Adnan bisa melihat tatapan jijik istrinya.


“Dengar dulu Num, jangan menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar” mendengar itu Anum malah menangis.


Selemah itu memang dirinya, rasanya ia tak mampu lagi mendengar kelanjutan cerita suaminya.


“Mas masih berpakaian lengkap, Indah juga, kami tidak melakukan apapun” untaian kalimat itu membuat Anum mampu kembali menatap suaminya.


“Mas yakin?”


“Yakin”


“Lalu untuk apa Mas bertemu dengan Mbak Indah lagi? Untuk mengulang semuanya?” tuduh Anum, Adnan meraup wajahnya kasar.


Emosinya kembali memuncak, tapi kembali redam saat melihat jejak tangis dan kantung mata sang istri.


Adnan tau dia sudah menyita waktu istirahat istrinya saat mogok bicara kemarin, di tambah masalah ini.


“Indah hanya ingin Mas temani sebagai ucapan terimakasih karena sudah menyelamatkan Mas dari kerumunan pelacur di bar waktu itu” ucap Adnan pada akhirnya.


Anum sedikit menganga tak percaya.


“Dan Mas mau?” dengan ragu Adnan mengangguk.


“Pergi saja Mas”

__ADS_1


TBC


__ADS_2