
“Bagaimana hasil cek hari ini?” tanya Adnan melalui sambungan telephon.
“Semuanya baik”
“Syukurlah, sebenarnya ini sungguh tidak adil, aku selalu berhalangan saat kalian akan pergi” kesal Adnan, Anum tertawa, memang benar ada saja hal yang membuat Adnan tidak bisa ikut saat check up kandungan, bahkan saat jadwal berusaha di majukan mengikuti jadwal Adnan, mendadak dokter yang merawat Anum ada operasi.
“Sabar ya Mas”
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Adnan memastikan, membuat Anum yang sejak tadi tertawa mendadak diam.
“Kamu harus terus terang sama Mas Adnan, keadaan kamu ini bisa saja membahayakan kamu maupun bayi kamu Num” ucap Husna yang kemudian berlalu bersama bayi kecil di gendongannya.
Kalimat itu yang terus terngiang di kepala Anum sejak pulang dari rumah sakit tempat ia cek kandungan.
Anum berbohong.
Semua hasil pemeriksaan menyatakan bahwa mereka tidak baik-baik saja.
“Halo?! Sayang, kamu masih disana kan?”
“Iya, aku disini, aku tidak apa-apa”
“Ya sudah Anum, jam istirahat Mas sudah habis, Mas pergi dulu ya, inget ya--”
“Kalau ada apa-apa aku harus hubungin Mas” potong Anum yang sudah paham dengan apa yang akan Adnan sampaikan itu.
Adnan terkekeh, “Istri yang pintar”
Panggilan terputus, Anum berusaha bangkit dan berjalan kearah belakang, didalam rasanya sudah sesak.
Rumah ini Adnan rombak ulang sesuai dengan keinginan Anum, dan tempat ini adalah kesukaannya.
Taman penuh bunga dengan kolam ikan kecil di ujung taman.
__ADS_1
Anum duduk di bangku taman, pikirannya menerawang ke depan, ia tau ini keterlaluan, tidak berterus terang tentang penyakitnya dan menyembunyikan bahaya kehamilannya pada Adnan tidak baik.
Anum sadar itu, tapi ia tidak mau Adnan khawatir, biarlah pikiran suaminya itu untuk saat ini berfokus pada anak cabang perusahaannya yang sedang bermasalah.
Sembari mengusap perutnya yang membuncit, lima bulan sudah makhluk kecil yang ia dan Adnan nanti-nantikan bersemayam dalam perutnya, dan selama itu Anum selalu mendapat morning sickness yang hebat, hingga terkadang sakit kepala yang berkepanjangan juga di rasakannya.
Anum menghela nafasnya pelan dengan tangan yang tetap mengusap perutnya dengan lembut. Pertemuannya dengan Husna tadi semakin membuatnya was-was. Penjelasan dokter dan perkataan Husna membuatnya khawatir.
Pre-eklampsia.
Diagnosa dari dokter untuk Anum setelah pemeriksaan.
Kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urine.
Penyakit lupus yang Anum derita sebelumnya diduga sebagai pemicu dari ketidaknormalan ini. Untung saja selama ini ia selalu melarang Adnan untuk ikut bersamanya saat cek kandungan, dan pekerjaan Adnan yang sedang menumpuk juga menghalanginya untuk ikut serta meski sangat ingin.
Anum tidak menghawatirkan dirinya sama sekali, tapi dokter mengatakan hal ini bisa berimbas pada janinnya juga.
Anum sudah siap dengan kenyataan bahwa ia akan seperti ini jika hamil, tapi ia memilih untuk tidak memperdulikan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi, seperti saat ini.
Pasalnya, Anum sudah jatuh cinta pada janin yang ada dalam kandungannya saat ini. Mengetahui bahwa ia mengandung anak dari pria yang ia cintai saja sudah bagai menemukan bongkahan berlian bagi Anum.
Anum menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, lagi-lagi ia menghela nafas, ini berat baginya, apalagi Husna yang malah menyarankannya untuk berterus terang pada Adnan.
Ingatan Anum kembali memutar memori beberapa hari yang lalu.
“Mas, kalau nanti saat persalinan kamu harus pilih aku atau anak kita, kamu pilih siapa?” tanya Anum saat mereka sedang pillow talk seperti malam-malam sebelumnya. Adnan merenggangkan pelukannya dan menatap heran pada sang istri yang kini juga menatapnya.
“Kenapa kamu nanya begitu?” tanya Adnan tak suka dan melepas pelukan mereka yang membuat Anum langsung cemberut.
“Ya, cuman pengen tau aja, Mas gak mau jawab ya?” Adnan melihat sekilas ke arah istrinya, namun segera mengalihkan pandangannya saat ia melihat sang istri yang sudah bersiap untuk menumpahkan air matanya.
“Ya sudah kalau Mas tidak mau jawab, Anum minta maaf” setelah mengatakan itu Anum segera mencari posisi tidur yang nyaman baginya dengan membelakangi sang suami.
__ADS_1
Adnan menghela nafas lelah, padahal ia tau jika sang istri menjadi sangat sensitif semenjak hamil namun ia tidak suka dengan pertanyaan Anum. Melihat Anum yang tidur membelakanginya dengan bahu bergetar membuat Adnan merasa bersalah.
Segera Adnan memposisikan dirinya di belakang Anum, kemudian memeluknya dengan lembut, sembari mengecup puncak kepala Anum dari belakang berkali-kali.
“Jangan bertanya seperti itu lagi ya Anum, Mas gak mau memilih diantara kalian berdua, mas maunya kalian berdua selamat dan kita hidup bahagia bersama” setelah mendengar itu Anum tersenyum kecil namun tidak menimpali perkataan Adnan.
Pelukan nyaman Adnan selalu bisa membuat Anum mengantuk dan tidur dengan cepat. Namun di tengah kesadarannya yang hampir hilang, Adnan melontarkan kalimat yang hingga saat ini membebani pikirannya.
“Mas akan pilih kamu, jika itu harus terjadi, Mas gak bisa hidup tanpa kamu Anum”
Anum berjalan ke arah ruang tengah yang sudah terisi dengan piano yang Adnan beli untuknya.
Dulu, saat sedang banyak pikiran salah satu pelariannya dengan bermain musik dan menyanyi.
Anum butuh ketenangan saat ini, jemarinya yang lentik sudah menari diatas not not piano dengan lihainya.
Spring Waltz (Mariage d’Amour).
Instrument yang pernah menggelitik rasa penasaran Anum. Lagu yang bertema pernikahan tapi di tulis dengan minor key, salah satu kunci nada yang sering dipakai untuk menyiratkan kesedihan.
Seakan memberitau bahwa harapannya, atau mungkin pernikahan impiannya itu tidak pernah terjadi.
Pikiran Anum bergulat antara fakta dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya, bersamaan dengan melodi yang semakin menyayat hati.
Rasanya ia juga tidak bisa hidup tanpa Adnan, cintanya pada pria itu sudah membuncah, terlebih lagi saat harus meninggalkan buah cintanya bersama Adnan selama-lamanya, Anum tidak ingin. Namun jika anaknya yang lebih dulu tiada, Anum juga tak ingin itu terjadi.
Hatinya sedih, mengapa harus ada opsi memilih seperti itu? Anum ingin mereka berdua selamat. Anum kembali beristighfar dalam hati dengan jemari yang masih asik menari di atas not piano untuk meluapkan kegusarannya lewat lantunan nada.
Anum tidak pernah memberitahukan semua keluhannya pada Adnan, dia tak ingin suaminya itu merasa khawatir. Sudah cukup dia melihat Adnan yang selalu kelelahan sepulang kerja. Anum selalu memaklumi semua kesibukan suaminya karena ia tau, banyak jiwa yang bergantung nasib pada suaminya.
Dokter bilang, tidak mustahil Anum dan bayinya bisa selamat, meski kemungkinannya kecil. Tidak papa, untuk sekarang Anum hanya akan berpegang pada peluang yang dikatakan kecil itu.
Ting! Nada terakhir untuk mengakhiri permainan piano, Anum mendesah lega, setidaknya, bebannya sudah sedikit berkurang.
__ADS_1
Anum memutuskan untuk tetap menyembunyikan hal ini dari sang suami dan mengaharapkan secuil harapan yang dikatakan dokter terjadi padanya.
TBC