Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 49


__ADS_3

Adnan masih menatap geli istrinya yang kini duduk membelakanginya, sisi anggun dan dewasa Anum hilang begitu saja saat manjanya datang.


Tapi Adnan tidak mempermasalahkan itu, justru ia senang saat Anum sangat bergantung dengannya, senang saat Anum tidak mau jauh-jauh darinya.


Seperti saat ini, istrinya sedang merajuk saat ia akan berangkat kerja sehabis cuti lima hari, padahal mereka sudah menambah dua hari karena hal ini sebelumnya sudah terjadi.


“Sayang..”


Tak mendapat jawaban Adnan mendekati istrinya, memeluknya dari belakang, mengusap perut buncit itu dengan sayang.


“Anak-anak Papa yang baik dan pintar, bantuin Papa dong, Mama kalian lagi marah nih”


Dung!


“Awssshh” rintih Anum saat mendapat gerakan tiba-tiba dari perutnya.


“Tuh, anak kita juga gak suka kamu diemin Mas kayak gini Num, udahan ya marahnya” merasa kesal, Anum menepis kasar tangan Adnan kemudian bangkit dan pergi meninggalkan suaminya.


Dengan sabar Adnan membuntuti ibu hamil kesayangannya itu, “Nanti Mas janji pulang cepet deh”


Kini langkah Anum terhenti, Adnan membalik tubuh ibu hamil itu agar menghadapnya saat terlihat bahu Anum yang bergetar.


“Hei, kenapa menangis, kamu benar-benar tidak ingin Mas pergi?” ditanya seperti itu semakin membuat tangis Anum semakin deras.


Ini sudah keterlaluan, harusnya Anum bisa bersikap lebih dewasa dan menghambat keberangkatan suaminya untuk bekerja.


“Maaf” Adnan menggeleng ringan kemudian mengusap pipi Anum dengan lembut, menghalau air mata yang akan membasahi pipi wanita itu.


“Mas gak akan marah sama kamu, dan ya, sebenarnya Mas juga tidak ingin pergi, Mas lebih suka tidur di pangkuan kamu” ucap Adnan diakhiri kedipan sebelah mata yang langsung membuat Anum salah tingkah dan mencubit lengannya.


“Sungguh Num, kamu tidak percaya kalau Mas juga menginginkan itu? Menghabiskan waktu denganmu, berbicara dengan twins, Mas selalu suka kegiatan itu, hari-hari Mas terasa lebih indah saat bersama kamu dan twins” ungkap Adnan lagi, seraya membingkai pipi chubby Anum yang kembali dibuat salah tingkah oleh suaminya.


“Tapi sayang, Mas punya tanggungjawab sebagai direktur utama dari perusahaan yang Papa bangun, bisa mengerti kondisi Mas kan, sayang?” Adnan tersenyum saat Anum mengangguk.


Salah satu hal yang Adnan sukai dari Anum adalah tidak pernah membesar-besarkan masalah, satu-satunya wanita no drama yang Adnan kenal setelah mamanya, meski ia juga bisa merajuk dan manja seperti tadi, tapi jika di beri pengertian dengan lembut ia akan memahami.


Adnan memaklumi itu karena Anum sedang mengandung, sesuai apa yang ia baca di buku tentang ibu hamil, hal ini sering terjadi, dan Adnan sungguh tidak masalah dengan itu.


“Maaf..”


Cup!


“Mas.. Anum minta ma..”

__ADS_1


Cup!


“Mas Adnan?!” kesal Anum saat Adnan selalu menyela perkataanya.


Adnan terkekeh, tangannya mencubit pelan pipi Anum yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya, “Apasih sayangnya Mas..”


Adnan mengulum senyum saat Anum memalingkan wajahnya, pipinya merona, dan itu semakin membuat Anum semakin cantik di matanya.


“Mas udah telat” cicitnya, Adnan tetap memandang wajah merona istrinya.


Anum curi-curi pandang saat tidak terdengar suara Adnan, namun ia segera menunduk ketika tatapan mereka bertemu.


Adnan yang tidak tahan dengan pemandangan dihadapannya, segera membingkai wajah itu kembali, “Mas sudah bilang belum kalau kamu itu cantik saat pipi kamu merona seperti saat ini?”


“Jadi kalau tidak merona Anum tidak cantik?” Adnan berdecak saat sadar ia salah bicara, ia seakan lupa bahwa ibu hamil adalah makhluk tersensitif di dunia.


“Tidak dong, kamu selalu cantik, hanya saja kadarnya bertambah lebih lebih saat kamu sedang merona” Adnan bernafas lega saat Anum tersenyum malu di hadapannya.


“Udah mas, ini sudah sangat terlambat, pergilah” ucapnya sembari melepas tangan Adnan yang masih asik membingkai wajahnya.


Meski sedikit kecewa, Adnan tetap memaksakan senyumnya, seperti katanya tadi, ia masih memiliki tanggung jawab yang besar di perusahaan peninggalan Papanya.


“Kamu tidak apa-apa ditinggal? Mas akan usahakan pulang cepat” de ngan mantap Anum mengangguk.


“Enggak Mas”


Keduanya berjalan ke depan beriringan, Adnan sedikit kecewa saat keduanya sudah sampai di ambang pintu.


“Mas berangkat ya?” wajah Anum berubah sendu seketika.


“Iya”


“Mana senyumnya?” perlahan ujung bibir Anum terangkat, bukan karena perintah Adnan, tapi cara pria itu yang seperti sedang menghibur seorang bayi.


“Hati-hati Mas”


“Iya sayang” Adnan mengecup kening istrinya saat Anum menyalimi tangannya, prosesi yang menghangatkan hati Adnan semenjak menikah dengan Anum.


Meski berat Adnan tetap melajukan mobilnya ke arah kantor.


Keningnya mengernyit saat sebuah mobil yang tak asing menempati parkir khusus untuknya.


Tidak mau merusak pagi harinya Adnan turun dari mobil dan berjalan ke ruangannya.

__ADS_1


Saat pintu berhasil Adnan buka, dua konfeti meletus ke arahnya, berbarengan dengan kursinya yang berbalik ke arahnya.


“Selamat datang Adnan!”


“Kalau Anda tau yang namanya etika, duduk di kursi seseorang itu tidak sopan” Seno tertawa namun enggan bangkit dari duduknya.


“Dan kalau Anda sudah tau itu tidak sopan, harusnya Anda bangkit jika ego Anda terlalu tinggin untuk minta maaf”


“Ya ya ya, pamanmu ini memanglah tidak sopan, tapi tidakkah orang tuamu mengajarkan bahwa sebelum masuk ke dalam ruangan harus lah mengetuk pintu terlebih dahulu?” tangan Adnan mengepal erat.


“Sebaiknya Anda keluar dari sini!” usir Adnan yang sudah tersulut emosi.


Brak!


Adnan menatap berkas yang sudah berada di depan sepatunya.


“Baca! Setelah itu kamu baru bisa mempermasalahkan kursi kuno ini”


“Pihak ke satu telah mengalihkan jabatan berikut semua saham dan seluruh aset pada pihak kedua”


Adnan membaca kalimat itu berulang-ulang, juga setengah tak percaya saat melihat tanda tangannya terbubuh disana.


“Masih tidak percaya? Atau penasaran mengapa ini bisa terjadi?” Adnan menatap marah pamannya.


“Sepertinya kamu memang perlu diyakinkan, Rudi!” wajah Adnan berubah saat nama itu disebut, juga saat pintu terbuka menampakkan Rudi yang tidak berani menatapnya.


“Kamu tau alasan dua konfeti itu?” Adnan tidak menjawab, ia masih menatap Rudi berharap pria itu berani menatapnya dan memberikan penjelasan dari apa yang sedang terjadi.


“Sebenarnya itu untuk Rudi, bukan untukmu, tapi karena kamu yang lebih dulu masuk, akhirnya dua konfeti itu seperti menyambutmu” Seno menatap keponakannya lamat-lamat, ia sungguh senang memancing amarah Adnan, ia sudah tau kelemahan pria itu kini.


“Untuk Rudi yang sudah membantuku mendapatkan semua ini” Adnan menatap pamannya, kemudian kembali menatap Rudi tak percaya.


“Dan ya, Adnan bolehkah pamanmu tau berapa gaji yang kau berikan untuk Rudi? Aku ingin menaikkan gajinya”


“Benar semua ini Rud?” Rudi menatap Adnan takut-takut, Adnan dan emosinya tidak bisa Rudi atasi selama ini, ia sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi.


“Kamu masih tidak percaya?! Hah!”


“Rud, kamu dari tadi diam, saya ingin dengar dari mulut kamu”


“Maaf Pak”


TBC

__ADS_1


__ADS_2