Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 54


__ADS_3

Malam ini Anum sendirian di rumah, menunggu suaminya yang sudah mulai bekerja di kantor kenalan sahabat mereka.


Meski terasa mengantuk Anum tetap memaksakan matanya untuk tetap terbuka.


Pikirannya melayang pada kejadian dimana dirinya meninggalkan kakek dan nenek Adnan sendiri di rumah sakit.


Bahkan Anum tidak sempat bertanya untuk apa mereka datang ke rumah sakit, juga suaminya yangmasih saja bungkam dan tidak menceritakan apapun padanya.


Tak mendapatkan jawaban akhirnya Anum hanya menghela nafas sembari menyandarkan punggungnya ke sofa.


“Loh kok belum tidur?” pandangan Anum teralih pada Adnan yang berdiri di depan pintu dengan tas kerja yang masih tergantung sempurna di pundak pria itu.


“Iya, sengaja, mau menunggu Mas pulang kerja” mendengar itu Adnan tergerak menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Mata Adnan membulat sempurna, sontak dia memandang sang istri yang kini malah menampilkan senyum lima jarinya.


Tidak ingin memarahi sang istri yang akan berujung membuat Anum menangis, Adnan memilih duduk di sampingnya, lalu memeluk Anum kencang, seolah merebahkan semua lelahnya pada wanita yang dicintainya.


Ini memang bukan hari pertama Adnan bekerja sebagai seorang pegawai, tapi tetap saja pria itu merasakan perbedaan yang sangat kentara saat bekerja sebagai pemimpin dan pegawai.


“Capek ya?”


“Banget” Anum terkikik geli, tapi tangannya mengusap punggung Adnan dengan lembut.


“Mau Anum bikinin wedang jahe tidak?” sontak Adnan merenggangkan pelukannya demi bisa menatap Anum dari jarak dekat.


“Tidak perlu, Mas hanya perlu seperti ini untuk me-recharge energi” ucap Adnan sembari tersenyum lemah.


Anum bisa melihat betapa lelahnya sang suami, tapi ingin bertanya lebih lanjut khawatir membuat pria itu tidak nyaman.


Akhirnya Anum pasrah saat Adnan menempel padanya seperti anak koala.


“Kamu sudah makan?”


“Sudah, tapi..”


“Tapi?” merasa tak enak Anum kembali tersenyum lebar kepada sang suami.


“Bicara saja, kamu lapar lagi?” dengan malu-malu Anum mengangguk diikuti senyuman Adnan yang melihat tingkah lucu istrinya.


“Mau jalan-jalan keluar tidak?”


“Mas tidak capek?”


“Kan sudah mengisi energi hingga penuh dengan bersandar padamu Num” godanya membuat Anum kembali tersipu sembari mencubit kecil dada suaminya.


“Berangkat sekarang Mas” titahnya pada sang suami.

__ADS_1


“Sebentar” Anum merasa kehilangan saat suaminya berjalan masuk meninggalkannya.


Oh iya Anum baru teringat mungkin Adnan ingin mandi terlebih dahulu sebelum pergi, kenapa dia sangat tidak sabaran sekarang?


Anum menggeleng merasa heran pada dirinya sendiri.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama saat Adnan sudah kembali dengan jaket dan hijab instan di tangannya.


“Pakai ini dulu, Mas tidak akan pernah rela membagikan keindahan kamu pada siapapun” Anum mengulum senyumnya, tangannya mengambil dua penutup dirinya lalu memakainya.


“Anum pikir Mas akan mandi terlebih dahulu” celetuknya membuat Adnan yang sudah fokus dengan handphone kembali menatap istrinya.


“Dan membiarkan kamu yang sudah ingin berlari keluar untuk mencari jajanan sendirian?” dengan kesal Anum kembali memukul suaminya.


“Kamu jangan ngeselin ya Mas” rajuknya, Adnan tertawa namun segera membawa sang istri ke dalam pelukannya.


“Ayo berangkat sekarang” Anum mengangguk, mengikuti sang suami yang sudah menuntunnya ke ambang pintu.


Anum hanya diam memperhatikan suaminya yang sudah bergerak mengunci pintu.


Mereka berdua berjalan menyusuri dinginnya malam, Anum memeluk lengan suaminya untuk mencari kehangatan meski dirinya sudah memakai jaket.


Tidak jauh dari rumah mereka terdapat banyak pedagang kaki lima yang berjualan hingga tengah malam, itu sebabnya mereka tak perlu menggunakan kendaraan hanya untuk mencari kudapan malam.


“Kamu mau makan apa sayang?”


Untuk menyembunyikan itu Anum memilih menatap jajaran penjual yang menawarkan berbagai makanan.


“Mie ayam yang itu saja Mas” tunjuk Anum pada kedai Mie Ayam disana.


Adnan mengangguk dan kembali menuntun istrinya untuk berjalan ke sana.


“Pak mi ayamnya dua ya” Adnan segera mengambil duduk bersama Anum yang masih setia dalam rangkulannya setelah mendapat anggukan dari pedagang itu.


Mereka memilih duduk berhadapan, Anum bertopang dagu menatap wajah serius suaminya yang memperhatikan penjual itu menyajikan dagangan mereka.


“Lihatin apa sih?” tanya Anum yang terkejut saat Adnan tiba-tiba menariknya untuk mendekat.


“Kamu yakin mau makan disini? Ini tidak higienis Num” bisiknya membuat Anum mengikuti arah pandangan suaminya.


Namun setelahnya Anum menghela nafasnya, tidak ada yang salah di sana, semuanya bersih sesuai standart pedagang kaki lima, yang dimaksudkan Adnan tidak higienis adalah penjualnya yang tidak menggunakan sarung tangan plastik, seperti yang biasa ia lihat di restauran bintang lima dulu.


“Tidak apa-apa Mas” ucap Anum sementara suaminya memandang dirinya tak setuju.


“Terserah lah” putus Adnan kemudian.


Anum hanya mengendikkan bahunya sembari menunggu pesanannya datang.

__ADS_1


Wajanya berbinar senang saat dua mangkuk mi ayam yang masih mengepulkan asap terhidang di hadapannya.


“Silahkan Mas, Mbak”


“Terimakasih Pak” pedagang itu mengangguk dan berlalu pergi.


Berbeda dengan Anum yang antusias meracik mangkuk mi ayamnya, Adnan masih diam memperhatikan pesanannya.


Suap demi suap sudah Anum lahap dengan senangnya, sementara sang suami masih asik meneliti kelayakan makanan di hadapannya.


Geram dengan tingkah sang suami, Anum melilitkan beberapa mi miliknya kemudian menyuapkan pada Adnan yang terkejut menerima suapan yang tiba-tiba itu.


Perlahan Adnan mengunyah mi itu dengan lahap.


“Enak!” serunya, Anum tersenyum saat suaminya sudah meracik mangkuk mi ayamnya dan ikut makan bersamanya.


Kini Anum dibuat geleng-geleng saat mangkuk yang tadinya masih penuh sudah hampir kosong menandinginya yang makan terlebih dahulu.


“Kamu kelaparan Mas?” ejeknya pada Adnan yang tidak di gubris oleh pria itu.


Setelah menghabiskan makanannya dan membayar, Adnan dan Anum memutuskan untuk pulang.


“Kamu tidak ingin sesuatu lagi?” tanya Adnan saat sang istri masih sibuk menelisik ke berbagai kedai disana.


“Sebenarnya, aku ingin roti bakar itu, boleh?” tanya Anum takut-takut.


“Tentu saja, Ayo!”


Anum tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat Adnan lebih antusias menuntunnya pada salah satu kedai roti bakar yang hanya berjarak beberapa kedai dari mi ayam mereka.


“Terimakasih Mas!”


Cup!


Adnan menegang di tempatnya, selama ini kebanyakan dirinya yang memulai keintiman diantara mereka, jadi saat mendapat serangan tiba-tiba ini, Adnan sangat terkejut sekaligus senang.


Saat pesanan mereka sudah selesai, Adnan menggenggam tangan Anum dengan beberapa bungkusan roti bakar di tangannya.


Hati Adnan senang sekali hari ini, meski ia sangat lelah tapi melihat antusias istrinya, juga perlakuan sang istri yang begitu menghargainya membuat semuanya nampak indah di mata Adnan.


Merasa terharu Adnan memeluk Anum tepat saat mereka berada di depan pintu rumah.


“Mas pikir kamu akan sedih karena kita sekarang tidak bisa jalan-jalan menggunakan mobil seperti dulu, atau pergi ke tempat mewah seperti dulu, Mas pikir tidak akan pernah melihat senyum kamu lagi setelah semuanya hilang” ucap Adnan sendu.


Anum merenggangkan pelukan mereka, lalu membingkai wajah tampan suaminya, “Tapi itu tidak terjadi kan? Anum tidak masalah jika semuanya hilang, asal bukan suami tampan Anum yang hilang”


“Terimakasih”

__ADS_1


TBC


__ADS_2