
Semilir angin pantai perlahan membuat perasaan Anum damai, setelah perdebatannya dengan Adnan beberapa hari lalu, disinilah dia, di salah satu resort mewah nan asri kota Bali.
Hampir seminggu Anum menjadi istri Adnan, sudah begitu banyak kejutan yang Adnan berikan padanya. Mulai dari rumah, asisten rumah tangga, dan sekarang paket honeymoon yang mewah menurut Anum.
Sebenarnya, Bali tidak masuk dalam list tempat honeymoon yang Adnan siapkan, karena si tuan mulia itu lebih memilih honeymoon ke luar negri dari pada dalam negri, tapi Adnan kalah suara saat Anum mengatakan untuk honeymoon di kamar rumah mereka saja jika ia tetap memaksa pergi ke luar negri.
Bukannya sama saja? inti dari kegiatan Honeymoon tidak jauh-jauh dari kamar bukan? Untuk apa jauh-jauh, jika di dalam negri saja sudah memiliki view yang tak kalah indah seperti ini.
Husna calling..
“Assalamu’alaikum Bumil” sapa Anum dengan riang setelah menerima panggilan Husna tersebut.
“Waalaikumsalam, pengantin baru” jawab Husna, kemudian keduanya tertawa bersama karena sapaan baru mereka untuk satu sama lain.
“Jogja aman, Na?” Husna diam sejenak, kemudian tawanya kembali lagi, membuat Anum mau tak mau tersenyum karena kebahagiaan sahabatnya.
“Aman, cuman nih, debaynya lagi ngambek”
“Muntah-muntah lagi?” tanya Anum dengan khawatir yang hanya di jawab deheman oleh Husna.
“Maaf ya Anum, kemarin gak bisa datang ke acara nikahan kamu, aku mual muntah parah” Husna sudah mengatakan ini berkali-kali, padahal Anum sudah mengatakan tidak apa-apa.
“Aku kan udah bilang gak papa, Na, aku paham kok sama kondisimu, do’amu saja sudah cukup” ucap Anum dengan lembut, berharap sahabatnya ini tidak merasa bersalah lagi.
Husna positif hamil seminggu sebelum acara pernikahan Anum, siapa yang tidak senang akan itu, semuanya bahagia, namun karena alasan itulah yang membuat Husna alpha saat pernikahan Anum.
Hening
Anum yakin jika Husna saat ini sedang mati-matian menahan tangisnya.
“Udah jangan nangis, aku beneran gak papa, lihat aku sudah menikah dan acaranya lancar itu pasti karena doa kamu juga, terima kasih ya Husna”
“Aku gak nangis, iya, sama-sama” ucap Husna dengan nada seraknya, Anum menahan tawanya, semenjak hamil Husna jadi lebih sensitif, Faisal sering mengatakan bahwa sahabatnya itu sering menangis sekarang.
“Yaudah deh, kalau mau sedih-sedihan terus aku tutup ya telfonnya?” goda Anum.
“Jangan!” Anum tertawa saat nada suara Husna sudah kembali seperti sedia kala.
“Yaudah jangan sedih mulu, aku gapapa, beneran, aku bahagia sama kabar kehamilan kamu”
“Hmmm, aku juga bahagia kok sama pernikahan kamu, gak nyangka kita di beri kebahagiaan di waktu bersamaan” lagi, nada suara Husna kembali melow, kali ini Anum harus berhati-hati dalam bicara atau ia akan di teror oleh Faisal jika Husna sampai berderai air mata.
__ADS_1
“Gimana kabar kamu disana?” tanya Husna kemudian.
“Baik, kabarku dan Mas Adnan baik, kalian semua disana bagaimana?”
“Kabar kami juga baik”
“Num, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?” tanya Husna setelah kedua wanita itu terdiam beberapa saat.
“Tentu, Mas Adnan memperlakukanku seperti ratu” jawab Anum jumawa, Husna sampai berdecih di seberang sana saat mendengar kebucinan sahabatnya untuk pertama kali.
Anum tertawa saat mendengar itu, samar-samar Anum mendengar Faisal memanggil Husna, itu artinya mereka sudah harus mengakhiri telpon mereka padahal keduanya masih merindukan satu sama lain.
“Udah dulu ya, Mas Faisal udah pulang, bahagia terus ya, Anum”
“Iya, makasih, kamu dan debay harus selalu sehat ya” sambungan terputus saat keduanya mengucap salam.
Anum menyandarkan tubuhnya pada sofa empuk yang sejak tadi ia duduki.
“Telponan sama Husna?” Anum hanya mengangguk sebagai jawaban, setelah sempat menoleh sekilas pada Adnan yang kini duduk di sebelahnya.
Adnan memeluk istrinya dengan posesif. Ia sangat merindukan Anum meski hanya meninggalkan wanita itu tidak lebih dari satu jam. Anum membalas pelukan Adnan tak kalah erat, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Adnan, posisi ini sangat disukai Anum, karena dengan begini, Anum bisa menghirup aroma tubuh Adnan dengan leluasa.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Adnan sembari membelai puncak kepala Anum denga lembut, meski baru resmi menjadi sepasang suami istri, Adnan paham jika Anum hanya akan seperti ini jika ia merasa cemas akan sesuatu.
“Kenapa sayang?” tanya Adnan lagi setelah berusaha melonggarkan pelukan mereka untuk melihat wajah istrinya.
Anum menunduk setelah menghela nafas panjang, namun setelahnya ia memberanikan diri untuk menatap wajah Adnan yang sejak tadi kebingungan dengan tingkah Anum.
“Aku, aku takut Mas”
“Takut kenapa?”
Bukannya menjawab Anum kembali membenamkan wajahnya pada dada bidang Adnan.
Pria itu tidak lagi mencecar istrinya, ia semakin mengeratkan pelukan mereka, meski ada beribu tanya dalam benaknya.
Setelah merasa tenang, Anum memberanikan diri menatap suaminya.
Tiba-tiba air matanya mengalir.
“Hei, kenapa kamu menangis? Husna baik-baik saja kan?”
__ADS_1
Anum mengangguk.
“Lalu kamu kenapa Sayang? Cerita sama Mas, jangan bikin Mas khawatir dong” pinta Adnan dengan nada yang super lembut.
“Mas gimana kalau nanti kita gak punya anak” lirih Anum sembari tersedu.
“Maksud kamu?” tanya Adnan yang semakin tidak paham.
“Kalau aku gak bisa hamil nanti gimana?” ujar Anum menumpahkan segala kegelisahannya.
“Apa yang kamu bicarakan Num?”
“Aku takut gak bisa hamil Mas” Adnan menatap wanita yang dicintainya lamat-lamat, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran wanitanya saat ini?
Bahkan mereka baru saja menikah selama satu minggu dan Anum sudah mengkhawatirkan itu?
“Aku suka anak kecil mas, aku pengen bisa mengandung anak Mas disini” ucap Anum sembari mengusap perutnya, hati Adnan juga menghangat membayangkan suatu saat nanti akan ada nyawa lain dalam rahim istrinya.
“Percayalah Num, aku juga sangat menginginkan itu, tapi, kita sebagai manusia tidak memiliki kuasa akan itu” tutur Adnan dengan lembut mencoba memberikan istrinya pengertian.
Menatap Anum yang sudah berhenti menangis membuat Adnan gemas, dia membawa wanita ya ng dicintainya itu ke dalam pelukan.
“Kalau waktunya sudah tepat menurut Allah, jika pasti juga akan memilikinya, kamu yang sabar ya” dalam diam Anum hanya mengangguk.
Saat menyadari bahwa istrinya sudah tidak dalam kondisi mellow Adnan berniat akan menjahili Anum.
“Yang”
“Hmm”
“Mumpung disini, bikin debay yuk” ajak Adnan dengan nada jahilnya.
Benar saja, Anum segera bangkit dan menjauh.
“Num jangan lari!” teriaknya sembari mengejar Anum.
Suasana sedih beberapa waktu lalu telah berganti dengan canda tawa mereka, hingga saat lelah menggelayuti tubuh mereka merebah berdampingan.
“Katanya mau punya anak, diajakin bikin malah lari” ucap Adnan dengan kesal, tapi ia tidak marah.
Mereka tertawa dan kembali saling ejek.
__ADS_1
“Maaf ya Mas, Anum tadi sensitif sekali, Mas benar, semuanya sudah diatur” ucap Anum kemudian, Adnan mengangguk dan menggenggam tangan Anum kemudian mengecupnya pelan.
TBC