
Indah menatap bungkusan kertas yang berisikan serbuk putih, sebelum ini tekadnya sudah bulat, tapi perbincangan singkat bersama Adnan saat di balkon tadi membuat Indah kembali meragu.
‘Apa iya, dia harus melakukan ini?’
Perlahan Indah menggeleng pelan, diremasnya bungkusan itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Setelah meletakkan dua cangkir teh itu ke dalam nampan Indah berjalan menghampiri Adnan, langkah Indah terhenti kala melihat Adnan sudah kacau dan bergerak gelisah.
Drrtt drrtt
Ditengah kebingungan itu handphone Indah bergetar, tak menghiraukan Indah memilih menambah langkah,
Drrrrt drrrrt drrrrt drrrrt
Tapi dering telpon itu kembali menghalanginya.
Dengan kesal Indah meletakkan nampan di meja kecil dan mengangkat telpon yang sudah Indah tau siapa penelpon itu tanpa melihatnya.
“Halo” sapanya, Seno sedikit tertawa di seberang sana.
“Enjoy the journey Indah, buat Adnan terkesan ok?”
“Indah tidak..”
“Ya ya ya, saya tau kamu pasti kembali berubah pikiran, tapi kamu harus berterimakasih kepada saya, karena sudah melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan”
Indah membelalakkan matanya, “Maksud Om?”
“Obat perangsang itu sudah ada dalam tubuh Adnan melalui makanan tadi, hebat kan?” tanpa pikir panjang Indah memutus ponselnya setengah mengumpat.
Buru-buru Indah menghampiri Adnan, “Mas..”
Adnan menatap marah wanita di hadapannya, laki-laki itu sudah tau apa yang terjadi pada tubuhnya, dan itu semua pasti ulah Indah.
“Saya tidak pernah menyangka kamu akan melakukan hal rendahan seperti ini Indah” ucap Adnan marah perlahan ia berjalan mendekati Indah.
Kemarahan Adnan sangatlah terlihat jelas di mata Indah membuat wanita itu takut, ia terus berjalan mundur menghindari pria itu.
“Kenapa lari? Inikan yang kamu mau?” dengan berderai air mata Indah menggeleng pelan, hal itu semakin membuat Adnan marah.
“Pelacur!” tubuh Indah menabrak dinding tepat setelah kata itu meluncur dari bibir pria yang selama ini ia cintai.
Sakit sekali, Indah hanya bisa menghindari pandangan Adnan, tidak sanggup lagi melihat wajah pria itu.
Tapi Adnan meletakkan jemarinya di bawah dagu Indah, membuat wanita itu menatapnya.
Indah bisa lihat wajah Adnan memerah, entah karena marah atau efek obat itu, yang jelas Indah sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
“Jangan menunduk, ****** sepertimu tidak pantas memiliki malu, ya kan?” air mata itu kembali menetes.
Adnan mencoba mengendalikan dirinya, meski tampang tak berdaya Indah sukses membumbungkan nafsunya, akal Adnan dipaksa bekerja.
“Iya aku memang pelacur, tapi aku bisa memuaskanmu Mas, aku bisa lebih dari istrimu itu!”
Plak!
Indah jatuh terduduk setelah mendapat tamparan itu, bisa ia rasakan ujung bibirnya robek karena sangat perih.
__ADS_1
Susah payah Adnan menahan, nyatanya wanita dihadapannya ini memang harus diberi pelajaran.
Adnan berjongkok di hadapan Indah, mencengkeram rahang wanita itu dengan kencang tanpa peduli Indah akan kesakitan atau tidak.
Tidak ada yang boleh merendahkan istrinya, tidak boleh!
“Memuaskan? Mari kita lihat seberapa hebat tubuh menjijikkan ini” Indah kembali menangis saat Adnan menekan luka di ujung bibirnya.
Sekali hentakan Adnan menghempaskan tubuh Indah ke sofa, dan menindihnya.
“Aaakhhh” pekik Indah kala Adnan meremas kuat gundukannya.
Pria itu menyeringai saat teriakan kesakitan itu tertangkap rungunya.
‘Jangan menyakiti wanita Nak’
Gerakan Adnan yang akan merobek gaun Indah terhenti saat kalimat itu kembali terputar.
Adnan menatap baik-baik Indah yang berada di kungkungannya, tiba-tiba wajah itu berubah menjadi wajah teduh Anum yang sedang menangis ketakutan.
Ini Anum kan? istrinya?
“Jangan menangis Num” mendengar nama itu kembali di sebut membuat Indah naik darah.
“Aku bukan Anum Mas!” tiba-tiba wajah Anum menghilang, berganti dengan wajah marah Indah.
Segera Adnan bangkit, meski gairahnya sudah di ubun-ubun, Adnan tak ingin ini dilanjutkan.
“Aaaaarrrrghhhhh!” jeritnya menahan sakit di kepalanya juga rasa panas yang semakin menjalar di tubuhnya.
Adnan marah.
Indah menutup telinganya saat Adnan membanting guci, Adnan terus bergerak gelisah sembari membanting apapun yang ada di hadapannya.
Kondisi kediaman Indah sudah sangat kacau sekarang.
Adnan berlari masuk kedalam kamar mandi, hal itu membuat Indah takut saat Adnan menutup pintunya.
“Bangsat! Arrrghhhh!”
Pyarr!
Indah berlari dan mencoba membuka pintu tapi terkunci, terdengar suara benda-benda berjatuhan, Indah yakin pria itu juga sedang mengamuk didalam sana, ditambah dengan suara pecahan kaca yang semakin membuatnya khawatir.
***
“Apa?!!” pekik Farhat saat menerima telpon dari asisten sahabatnya yang memberitahukan bahwa Adnan sedang mengamuk di apartemen Indah.
“Saya harus bagaimana Dok? Bu Indah kedengaran sangat panik sepertinya terjadi sesuatu pada keduanya” di seberang sana Farhat memijat pelipisnya.
“Kamu susul Adnan, kirimkan alamat Indah agar saya bisa menyusul”
“Baik Pak”
Telepon terputus dan Farhat berlari menuju parkiran setelah menyiapkan beberapa injeksi dan obat-obatan.
‘Ada apa lagi ini Ya Allah?’
__ADS_1
Beruntung Farhat sedang berlibur ke rumah orangtuanya di Surabaya, saat Adnan juga berada di kota yang sama dengan alasan pekerjaan.
Setelah mengetikkan sesuatu pada Baihaqi Farhat menambah kecepatannya.
Tak sampai 30 menit Farhat sudah mencapai apartemen Indah, dilobby utama ia bisa melihat Rudi di sana, mereka berdua segera menuju tempat unit Indah berada.
“Mas Adnan? Mas kamu gak papa kan?!” mereka berdua mempercepat langkah ketika mendengar jeritan Indah.
Pintu yang tidak di tutup rapat membuat keduanya bergidik ngeri saat melihat kekacauan itu.
“Indah” saat namanya di panggil Indah merasa sedikit lega setidaknya sekarang ia tidak sendirian.
“To-tolong Mas Adnan, dia mengurung diri di kamar mandi sejak tadi” ucap Indah dengan derai air mata yang belum bisa berhenti.
“Kunci cadangan mana Ndah” dengan lemas Indah hanya menggeleng, membuat Rudi mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.
Bug bug
Saat Rudi sedang mencoba Farhat justru tertarik untuk bicara pada wanita di hadapannya ini.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Adnan tidak mungkin seperti ini jika tidak ada penyebabnya” dengan menunduk Indah mencoba membasahi bibirnya sembari menelan ludah kasar.
“Aku.. Aku menaruh obat perangsang di makanan Mas Adnan” dari sini Farhat bisa tau darimana kekacauan ini bisa terjadi.
Brakk
Pintu terbuka, keadaan Adnan tidak bisa dikatakan baik.
Indah menutup mulutnya tak percaya, juga tak menyangka hal ini akan terjadi.
Tangan Adnan terluka, juga beberapa sayatan kecil di lengannya, pria itu terduduk dengan mata tertutup di bawah guyuran shower.
Dibantu Rudi, Farhat membawa tubuh Adnan ke ranjang untuk diobati setelah mengganti pakaian Adnan dengan baju kering.
“Anum, maaf, An-um” racau Adnan lagi di sela Farhat mengobati dirinya sembari menyuntikkan beberapa cairan serta obat penenang pada sahabatnya.
Indah hanya bisa menangis di pojokan melihat hasil dari perbuatannya, sebesar apapun Adnan melukainya Indah tau bahwa pria itu tidak pernah dengan sengaja melakukannya, justru dirinyalah yang selalu ingin berkubang dalam luka dan harapan yang tidak bisa pria itu penuhi.
Setelah selesai dengan Adnan, Farhat menghampiri Indah dengan segelas air putih, Farhat yakin wanita itu sedang shock berat dengan apa yang terjadi.
“Minum dulu Ndah”
Dengan patuh Indah mengambil gelas itu dan meminumnya perlahan.
Farhat bisa melihat luka kecil di ujung bibir wanita itu, “Mau diobati?”
“Apa?” tanpa menjawab Farhat munjuk ujung bibirnya sendiri, membuat wanita itu paham maksud dari sahabat Adnan itu.
“Tidak apa-apa, aku bisa sendiri” Farhat mengangguk sebagai jawaban, keduanya menatap Adnan yang sudah tertidur tenang.
“Dia tidak sekokoh yang kamu kira Ndah, ada banyak lubang luka dalam dirinya yang mampu membuat Adnan hancur kapan saja” tertari dengan pembicaraan ini Indah menatap Farhat penuh tanya.
“Adnan punya mental issue yang parah, kalau kamu mau tau” Indah menganga mengetahui fakta itu.
“A-apa?” Farhat menghela nafas dan menatap ke depan.
“Dia punya trauma berat yang mempengaruhi kondisi mentalnya secara emosional” Indah menatap wajah tenang Adnan tak percaya.
__ADS_1
TBC