Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 45


__ADS_3

“Minum dulu Num” wanita itu tersenyum kemudian mengambil segelas air putih yang Farhat ulurkan padanya.


Dia sangat bersyukur suaminya memiliki sahabat sebaik mereka, yang selalu ada tak hanya saat suka, tapi juga duka bahkan derita mereka bagi rata.


“Terimakasih Bang” Farhat mengangguk menanggapi ucapan Anum, hatinya miris sekali, di tengah kondisinya yang sedang berbadan dua juga kondisi fisik yang tidak bisa dikatakan baik, Anum harus menguatkan bahunya untuk mensuport suami yang juga dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Kadang hidup sebercanda itu, tapi Farhat hanya manusia, tenaga dan kemampuan untuk membantu terbatas dan dia juga tidak tau apa yang sebaiknya terjadi pada keduanya.


“Kalau kamu lelah, ingat Num kamu dan Adnan gak sendirian, masih ada kami yang siap membantu kalian” hanya itu yang bisa Farhat lakukan untuk sahabatnya.


“Terimakasih Bang” Farhat mengangguk.


“Saya yang harusnya berterimakasih sama kamu Num”


Anum menatap Farhat dengan penuh tanya.


“Iya, kalau gak ada kamu yang mengenalkan arti cinta sesungguhnya sama Adnan, dia gak akan pernah punya keluarga sekarang, dia akan tetap sendirian melalui ini” Anum menunduk, hatinya ikut sedih dengan kondisi sang suami yang jauh dari kata baik.


“Anum juga banyak kurangnya Bang, salah satu penyebab Mas Adnan seperti ini juga karena Anum” Farhat paham arah pembicaraan istri sahabatnya ini.


Meski tindakannya yang menyembunyikan keadaan sesungguhnya pada Adnan juga merupakan salah satu penyebab penyakit Adnan kambuh, tapi Farhat tidak ingin menyalahkan wanita itu.


“Gak sepenuhnya salah Num meski tidak bisa dibenarkan juga” hibur Farhat saat Anum sudah mulai berkabut sedih.


“Anum gak nyangka kalau semuanya akan rumit seperti ini, Anum gak berniat menyembunyikan Bang, hanya menunggu saat yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Mas Adnan” lagi-lagi Farhat mengangguk paham.


“Kondisi mental Adnan memang sangat kacau akhir-akhir ini Num, tentang perusahaannya, tentang keluarga besarnya, kondisimu yang disembunyikan hanya satu dari semua tekanan yang Adnan terima” Anum semakin menunduk sedih.


“Tapi, semua penyakit itu ada obatnya Num, obatnya Adnan yang paling ampuh hanya kamu” ucap Farhat kembali menghibur Anum, tidak tega sebenarnya harus mengatakan yang sebenarnya pada Anum, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mau hal serupa terjadi lagi.


“Anum” keduanya menoleh saat suara itu menginterupsi.


“Oh ya kita belum kenalan, namaku Gladys, sahabatnya Indah” Anum menerima uluran tangan itu sembari tersenyum.


“Anum Mbak” gadis itu mengangguk, tapi segera menundukkan pandangannya saat tak sengaja bersitatap dengan Farhat, calon suaminya.

__ADS_1


“Oh ya, Adnan sudah bangun dan mencarimu” ucap Gladys sedikit gugup, dari ekor matanya Farhat tak berhenti memandanginya.


Mendengar hal itu Anum segera bangkit dan meninggalkan keduanya setelah mengucapkan terimakasih pada Gladys.


Sadar hanya berdua dengan Farhat membuat gadis itu salah tingkah dan memilih untuk pergi juga sembari tetap menunduk.


Dug!


“Aduh, pintu sialan, sejak kapan sih ada disini” umpatnya saat tak sengaja membentur pintu.


“Dari tadi pintunya disitu, kamu yang kurang hati-hati” Gladys kembali bergerak salah tingkah saat menyadari Farhat masih bersamanya.


Perlahan Farhat mendekat, membalikkan badan Gladys yang mendadak kaku menerima sentuhan dadakan dari sang calon suami.


Tangan kekar Farhat berlabuh menyibak rambut yang menutupi dahi Gladys, Farhat tentu tidak tau jika jantung Gladys kali ini berdetak tidak normal karena sikap pria itu.


“Untung tidak memar” Gladys bisa bernafas lega saat tangan Farhat sudah beralih.


“Lain kali hati-hati ya, masa calon istri saya dahinya benjol” setelah mengucapkan itu Farhat ikut masuk meninggalkan Gladys yang tersipu malu.


***


“Maaf Num, Mas sudah ingkar sama kamu” Anum merenggangkan pelukan keduanya kemudian membingkai wajah tampan sang suami, setelah sesekali mengusap lembut surai Adnan.


“Nggak apa-apa Mas, Anum masih percaya sama Mas Adnan” mendengar itu malah makin membuat rasa bersalah Adnan menumpuk pada istrinya.


“Mas mending kamu marah dan pukul Mas dari pada mendengar kalimat itu” Anum tertawa.


“Masak suami ganteng gini mau Anum gebukin, nanti gantengnya berkurang tau” ucap Anum sedikit menggoda suaminya.


Adnan tersenyum.


“Mas beruntung banget punya kamu” Adnan justru heran saat Anum menggeleng.


“Nggak, kita sama-sama beruntung punya satu sama lain, yakan?”

__ADS_1


Mau tak mau Adnan mengangguk.


“Terimakasih ya Mas”


“Untuk?”


“Untuk bertahan sampai kita saling dipertemukan, Anum tau Mas sudah melewati banyak hal sulit selama ini, karena itulah Anum berterimakasih, Mas tidak menyerah dan ingin tetap hidup” Adnan menggenggam tangan Anum.


“Berkat kamu, Mas jadi punya tujuan hidup yang baru, karena kamu Mas jadi yakin setelah kesedihan dan kesusahan pasti ada kebahagiaan yang menanti diujung sana” Adnan menatap lurus Anum dengan tulus.


Tangan Adnan mengusap pipi Anum saat buliran kaca yang bergumul di pelupuk mata sang istri luruh begitu saja.


“Sebelum bertemu kamu, Mas sudah memiliki keinginan untuk mengakhiri semuanya, tapi Mas takut neraka” ucap Adnan sembari tertawa pilu.


“Iya, dan Mas rugi banget kalau sampai melakukan hal itu”


“Karena akan disiksa dan tidak akan tenang arwahnya?” Anum menggeleng.


“Bukan, kalau Mas lakuin itu, Mas gak akan ketemu aku dan punya anak-anak yang lucu” kelakar Anum tidak ingin hanyut dalam kesedihan.


“Benar, Mas rugi banget ya, beruntung masih ada Farhat dan Baihaqi yang terus dampingin Mas, jadi pikiran kayak gitu hilang gitu aja karena tingkah absurd mereka” Adnan dan Anum tertawa bersama.


“Mas Adnan, Anum” tawa mereka terhenti begitu saja, bahkan mimik wajah Adnan berubah seketika melihat siapa yang datang.


Anum menggenggam tangan suaminya yang mulai terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


Indah yang tidak ingin menunda lagi segera bersimpuh dihadapan keduanya.


“Eh mbak, ngapain? Jangan seperti ini, ayo berdiri mbak, kita sama-sama manusia tidak baik merendahkan diri seperti ini” Indah tertegun mendengar kalimat panjang penuh perhatian dari Anum, tidak adakan kemarahan pada wanita ini?


“Maafkan saya, meski saya tau jika yang saya lakukan sudah melampaui batas tapi saya melakukannya karena cinta saya pada Mas Adnan”


Adnan menggeram marah, “Cinta? Yang kamu punya itu bukan cinta tapi obsesi!” Anum mengusap lengan suaminya, membuat pria itusedikit nyaman kemudian memalingkan wajahnya kemana saja.


“Anum, saya tidak tau harus berkata apa lagi, yang jelas saya menyesal sudah menyakiti kamu, perkataan saya waktu itu yang mengatakan akan mengambil celah sekecil apapun untuk memiliki Mas Adnan ternyata tak berdampak apapun” ucap Indah sembari sesekali terisak teringat kebodohannya.

__ADS_1


“Karena sekalipun celah itu ada, tetap ada kamu yang menempatinya, sekarang aku percaya kalau hanya kamulah yang Mas Adnan cinta”


TBC


__ADS_2