Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 32


__ADS_3

“Selamat ya Ibu, kandungannya sudah berumur tujuh minggu” ucap dokter itu sembari terus menggerakkan transducer yang menempel di perut Anum.


Ibu baru itu tersenyum senang, matanya tak bisa berhenti menatap ke arah monitor.


Deg deg deg


“Dengar sesuatu?” tanya dokter itu lagi. Anum menangguk dengan lelehan air mata yang sudah mengalir.


Detak jantung anaknya.


“Itu detak jantung bayi, di umurnya yang baru tujuh minggu ini membuat detak jantungnya terdengar lebih jelas daripada sebelumnya”


Anum masih diam, telinganya masih bisa mendengar apa yang dokter katakan meski tatapannya masih terpaku pada monitor yang menampakkan kondisi janinnya.


“Tunggu dulu! Ibu lihat dua bulatan kecil itu?!” pekik dokter itu membuat Anum sedikit memusatkan pandangannya, ada bulatan kecil lainnya yang ada di monitor.


“Apa janin saya baik-baik saja dok?” panik Anum saat sang dokter hanya diam dan menatap monitor itu.


“Ibu, perlu saya jelaskan ini janin ibu, kemudian ini juga janin” jelasnya sembari menunjuk bulatan-bulatan mungil itu.


“Jadi bisa di simpulkan ibu hamil bayi kembar, selamat ya”


Anum lagi-lagi tak bisa menahan rasa harunya, seperti pengorbanan dan kesabaran ia beserta sang suami terbayarkan.


“Calon tangan dan kakinya juga sudah mulai terlihat jelas, semuanya baik, mari kita bicara di meja saya bu”


“Apa ibu memiliki keluhan?” Anum menatap dokter itu dengan seksama, ada banyak pertanyaan di kepalanya, hal itu yang membuatnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sendiri, karena Anum ingin segera tau kondisinya.


“Saya kembali mual hebat dokter, sebelum ini saya pernah keguguran, juga pre eklampsia” bayangan-bayangan menyakitkan di kehamian pertamanya kembali terulang dalam benak Anum dengan sendirinya. Dokter itu hanya manggut-manggut sembari terus mencatat keluhan Anum.


“Tidak perlu takut ibu, pre eklampsia tidak selalu menyertai di tiap kehamilan, dengan kata lain kondisi itu bisa dicegah, salah satunya dengan berolahraga, makan makanan sehat yang rendah garam dan minum air putih cukup”


“Tapi dok, mual yang saya rasakan hampir sama dengan mual dikehamilan sebelumnya” adu Anum megundang senyuman di wajah dokter itu yang sedang berusaha membuat ibu hamil ini tenang.


“Betul ibu, tapi taukah ibu, pada kehamilan kembar ibu hamil akan merasakan segalanya dua kali lipat? Seperti morning sicness parah bahkan ngidam yang berkali-kali lipat”


“Seperti itu dok?”


“Betul, hal itu disebabkan oleh lebih tingginya tingkat Human Chorionic Gonadotropin atau yang disingkat dengan HCG pada kehamilan kembar”


“Saya akan resepkan obat dan beberapa vitamin” Anum tersenyum dan mengangguk senang, jika ia harus tersiksa karena dua bayi yang ada di perutnya Anum rela, ini seperti keajaiban dalam hidupnya.


“Terimakasih dokter”


Anum pulang dengan gembira, rasanya ia tak sabar untuk memberitahukan hal ini pada sang suami.


Namun rasa gembira itu pupus saat dari kejauhan Anum melihat mobil Adnan sudah melaju pergi meninggalkan kediaman mereka.


Bagaikan api yang membara semangat Anum masih berkobar dan pantang menyerah, ia menggapai telpon, mencoba menelpon suaminya.


Tapi lagi-lagi Anum harus kecewa saat panggilannya hanya berdering tanpa Adnan angkat.

__ADS_1


Tak mau hanyut dalam rasa sedih Anum memilih turun saat mobil yang dikendarainya sampai depan rumah.


Meski Anum bersedih karena belum bisa mengabari Adnan tentang kehamilannya, tapi senyum Anum kembali terbit kala menatap foto USG yang ia cetak disana ada dua calon bayinya yang saling berhadapan.


Dalam kebahagiaan itu Anum memeluk foto kecil itu.


Selama ada Adnan dan bayi-bayinya, Anum pasti akan baik-baik saja


***


Adnan menggeram marah menatap laporan keuangan perusahaannya yang tetap mengalami kebocoran meski ia sudah memecat pegawainya yang terbukti melakukan korupsi.


“Apa ini Rud?! Sudah saya bilang pecat semua biang masalah! Lalu kenapa ini masih saja terjadi?!!”


Brak


Rudi hanya menatap laporan yang ia berikan pada Adnan beberapa waktu lalu sudah berada tepat di depan sepatunya.


“Kamu tidak bisa menjawab ini Rud?!”


“Keluar!!!!” jerit Adnan saat Rudi masih menunduk dalam diam.


Rudi keluar dengan setengah berlari.


“Brengsek!”


Sraaaakkkk


Pyarrrr


Adnan lelah.


‘Kamu tidak akan bisa membangkitkan perusahaan itu lagi anak muda, kepintaranmu itu tidak cukup untuk mengatasi semua kekacauan ini’


‘Mundur saja’


‘Mundur saja’


‘Mundur saja’


“Diaaaammmm!!!!!”


Bug


Dengan nafas terengah dan tangan yang sudah berdarah Adnan menatap nanar foto itu lagi, foto istrinya, Anum.


Amarahnya redup seketika.


Perlahan ia berjongkok menatap foto istrinya yang sudah pecah setelah tidak sengaja ia buang bersama semua barang yang ada di atas meja kerjanya.


Adnan mengusap foto itu dengan sedih.

__ADS_1


Sudah lima hari ia tidak pulang dan mengabaikan semua telfon istrinya.


Adnan berusaha menjauhi wanita yang ia cintai itu.


Tapi dibalik itu semua, Adnan merindukan Anum.


Sangat sangat rindu.


Tapi bertemu dengan kondisi emosi yang meledak-ledak dan amarah yang tidak stabil akan sangat berbahaya bagi Anum, Adnan tidak ingin saat ia tanpa sadar menyakiti Anum karena masalah ini.


Meski seratus persen Adnan yakin bahwa Anum akan selalu ada disisinya meski apapun yang mungkin terjadi di masa depan.


“Aku tidak bisa Num, aku, aku tidak ingin menyakiti kamu Num, tidak, tunggulah sebentar lagi, sampai masalah ini selesai, bersabarlah sayang” monolog Adnan sembari mengusap bingkai foto yang telah retak itu, tanpa memperdulikan jemarinya yang sudah mengeluarkan darah.


Puas dengan semua yang telah ia lakukan, tubuh Adnan melemah hingga terjatuh, matanya perlahan tertutup dengan bingkai foto yang sudah berlumuran darah masih dalam genggamannya.


“Ya Allah Nan!” pekik Farhat saat mendapati sahabatnya tergeletak dengan penuh luka dalam kondisi ruangannya yang berantakan.


Farhat segera memapah tubuh sahabatnya dibantu Rudi.


Sebagai dokter yang mengambil spesialisasi di kejiwaan, Farhat segera paham dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya.


Farhat tau apa yang akhir-akhir ini menimpa sahabatnya, ia hanya ingin lihat seberapa besar efek obat-obatan yang selama ini Adnan konsumsi.


Farhat pikir Adnan masih meminum obat-obatannya, jantungnya nyaris melompat saat Rudi memberitahukan Adnan yang tidak lagi mau meminum obatnya dan sedang dalam tekanan itu.


“Sejak kapan Adnan mulai mengalami gangguan kecemasan lagi?”


“Kemarin mungkin”


“Mungkin?!” tanya Farhat dengan nada tak suka pada asisten sahabatnya, jika ia tidak tau pasti lalu apa saja yang diperbuat laki-laki dihadapannya ini selama berada di samping Adnan.


“Maaf dokter saya tidak tau pasti, karena kali ini Pak Adnan sering meminta waktu untuk sendirian”


“Dan kamu membiarkannya sendirian?!” potong Farhat dengan nada yang tak biasa.


“I-iya dokter”


Farhat meraup wajahnya kasar, ia tidak menyangka jika asisten sahabatnya ini tidak bisa diandalkan.


“Saya sudah bilang jangan biarkan Adnan sendirian terutama saat terpuruk dan ia sedang dibawah tekanan, mengapa kamu sama sekali tidak mengerti?! Ha?!”


Rudi kembali menunduk dalam diam sama seperti saat Adnan memarahinya beberapa waktu lalu.


“Keluarlah Rud, jangan lupa panggil bagian cleaning service untuk membersihkan ini semua” ucap Farhat saat sadar bahwa ia sudah bersikap buruk pada asisten sahabatnya itu.


Rudi memilih pergi daipada harus kembali menerima amukan dari sekawan itu.


Farhat menatap sahabatnya yang masih belum sadarkan diri dengan nanar.


“Kenapa hidup sempurnamu terlihat memilukan saat dilihat dari sisi dalamnya Nan” Farhat mendesah lelah.

__ADS_1


Sepertinya memang harus dirinya sendiri yang memantau kondisi Adnan, tidak lagi bergantung pada siapapun, baik Rudi, apalagi Anum.


TBC


__ADS_2