
Mobil Adnan melaju dengan cepat menuju kediaman Indah, amarahnya memuncak, jika Indah bertindak nekat pada Anum, Adnan sendiri yang akan membuat wanita itu jera, sudah cukup ia berbaik hati pada perempuan itu.
Masih teringat jelas pertemuannya dengan perempuan itu beberapa hari yang lalu.
“Maafkan aku Indah, bukankah dari awal kamu sudah tau jika yang akan kupilih menjadi istri bukan kamu, lalu Anum datang menghiasi hidupku” Adnan terus menatap wanita dihadapannya yang semakin tersedu. Adnan sudah mengatakan semuanya, untuk mengakhiri pertunangan konyol ini.
“Kita sudah bertunangan Mas”
“Pertunangan yang bahkan tidak ada aku disana?”tanya Adnan sarkas, ia mengangkat tangan kirinya di hadapan Indah.
“Bahkan aku tidak pernah memakai cincin pertunangan kita, ini yang kamu sebut pertunangan?”
Tangis Indah terdengar semakin pilu.
Ia sudah mengusahakan semuanya, bahkan ia mau menahan malu hanya karena Adnan tidak menghadiri acara pertunangan mereka.
“Tapi, Mas, tidak cukupkah pengorbananku selama ini? Tidak bisakah kamu melihat ketulusanku? Aku mencintaimu Mas” tanya Indah sembari masih tersedu dengan linangan air mata yang terus saja mengalir.
Adnan menggeleng pelan, wajahnya datar.
“Kamu hanya terobsesi padaku, itu bukan cinta”jawab Adnan dengan tegas.
“Kenapa kamu tega sekali menghancurkan hatiku seperti ini Mas?!” pecah sudah amarah Indah, selama ini ia sudah bersabar menerima perlakuan dingin Adnan, ia bangkit dan memukul Adnan, berharap rasa sakitnya bisa tersalurkan, tapi percuma.
Adnan menangkap kedua tangan Indah dan menatapnya tajam “Bukankah aku sudah sering mengingatkanmu untuk berhenti, Indah?”
“Mas, tapi aku mencintaimu” ucap Indah dengan nada memohon. Adnan berdecak kesal, kenapa sulit sekali membuat wanita ini mengerti?
“Coba bayangkan, jika kita memaksakan menikah, aku akan tetap seperti ini, kita hanya akan saling menyakiti, Ndah” Adnan lelah, biar saja Indah akan berbuat apa, yang penting ia sudah mengatakan bahwa yang akan ia nikahi adalah Anum.
Adnan bangkit dari duduknya, sementara Indah masih menunduk sembari menangis.
__ADS_1
“Aku hanya ingin menyampaikan itu, aku ingin mengakhiri pertunangan yang bahkan terjadi tanpa kehadiranku dan kehendakku, semoga kelak kamu menemukan calon suami yang lebih baik dan mencintaimu dengan tulus, Indah” setelah mengatakan itu, Adnan berlalu begitu saja, tanpa menunggu respon Indah.
Ia pikir semuanya sudah berakhir, tapi dengan cerobohnya dia malah membuat celah bagi Anum untuk turut dalam masalahnya dengan Indah.
Tangan Adnan mencengkeram setir mobil dengan kencang, hingga buku jarinya memutih karena itu.
Kekesalannya semakin memuncak saat Farhat menceritakan bahwa Anum sempat bertanya padanya tentang Indah, bahkan meminta nomor Indah. Kenapa Farhat ceroboh seperti itu? Kenapa Anum nekat sekali menemui Indah? Kenapa?!
“Aaarghhh” kesal Adnan sembari memukul setir mobil untuk meluapkan kekesalannya.
Adnan merasa bahwa satu-satunya orang yang patut disalahkan adalah dirinya sendiri, ia terlalu lengah, ia lah yang ceroboh, bukan Farhat.
Mobil Adnan sudah memasuki komplek perumahan Indah. Hatinya masih bergemuruh, jika ia belum melihat wajah Anum, ia tidak akan tenang.
Setelah mobilnya masuk dengan sempurna dan terparkir di pekarangan rumah Indah, Adnan langsung turun dan menuju pintu besar yang terbuka lebar seperti menyambut kedatangan Adnan.
“INDAH!!” teriak Adnan saat sudah berada di ambang pintu, Adnan mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari hal yang ia cari, tidak ada Indah, ataupun Anum.
Merasa tidak puas, Adnan masuk ke dalam rumah, tak peduli jika ia akan dianggap tidak sopan, yang ada di pikirannya kini hanya untuk menemukan keberadaan Anum.
“Bi, mana Indah?!” Tanya Adnan dengan nada yang tak biasa, wanita paruh baya itu hanya bisa diam dan menunduk takut.
“Mas Adnan?!” Adnan menoleh ke arah sumber suara, matanya kian menajam, wajahnya memerah saat ia menemukan apa yang ia cari, Indah.
“Mana Anum?!” Indah terkejut saat Adnan pertama kali membentaknya seperti itu.
“Duduk dulu mas” wajah Adnan kian mengeras, tanda bahwa ia semakin marah saat Indah tak mengindahkan pertanyaannya..
“Aku tanya sekali lagi, MANA ANUM?!!!” Indah ketakutan, tapi ia tetap diam, hingga dari arah pintu datang Farhat dan Baihaqi dengan tergopoh-gopoh.
“Nan, sabar, masalah ini gak akan selesai kalau kamu adu urat leher seperti ini” ucap Farhat sembari mencegah adnan yang rasanya ingin melakukan penyerangan pada Indah.
__ADS_1
“Dia perempuan, Nan, jangan kasar” Baihaqi juga ikut mengingatkan Adnan yang saat ini diliputi amarah.
Adnan tersadar, tubuhnya luruh ke bawah, tepat di hadapan Indah. Ia terlalu lelah karena tidak bisa tidur dan terlalu memikirkan keberadaan Anum. Adnan hanya bisa menunduk sedih, ia ingin Anumnya kembali, hanya itu.
“Mana Anum, Ndah?” lirih Adnan dengan nada yang biasa, tanpa amarah seperti tadi. Indah terlalu terkejut dengan respon Adnan, ia hanya bisa melihat Adnan bersimpuh di hadapannya, kini bahu kokoh yang selalu terlihat tegar itu bergetar.
“Mas?” hanya itu yang keluar dari mulut Indah untuk memastikan apa yang ia lihat, Adnan menengadahkan kepalanya, hingga semua orang yang berada disitu bisa melihat bahwa Adnan menangis.
“Mana Anum?” tanya Adnan untuk kesekian kalinya, namun kali ini diselingi isakan kecil dari Adnan. Hati Indah terasa nyeri saat melihat Adnan rela melakukan ini hanya untuk Anum, bukan dirinya.
“Tak apa jika setelah ini kamu membenciku, tapi kembalikan Anum padaku, salahkan aku atas semua ini, Ndah, tidak apa” ungkap Adnan sedih, hal itu membuat Indah kembali tersadar akan satu hal, Adnan memanglah bukan miliknya sejak awal.
“Tolong jangan pisahkan kami” pinta Adnan lagi.
“Sebegitu cintanya kamu dengannya Mas?” Tanya Indah tak kalah sendu, Adnan mengangguk pelan sembari menatap bola mata Indah yang kini juga ikut berkaca-kaca.
“Sangat” Indah tersenyum pedih disela air matanya yang satu per satu meluncur dari matanya saat Adnan membenarkan praduganya.
“Kenapa kamu tidak bisa mencintaiku sebesar itu, Mas?” Tanya Indah dengan nada yang tercekat, sungguh hatinya sakit sekali, pria yang selama ini ia cintai sampai rela memohon demi wanita lain.
“Kita tidak berjodoh Indah”
“Lalu apa kamu yakin Anum itu jodohmu?! Begitu?!” Indah kembali meluapkan amarahnya, Adnan diam.
“Kamu pantas bersatu dengan orang yang mencintaimu Ndah, percayalah, memaksakan pernikahan kita hanya akan menyakiti satu sama lain, aku tidak menginginkan itu”
“Ada pilihan lain Mas, buka hatimu untukku, biarkan aku masuk dan menghiasi hidupmu” jawab Indah dengan nada yang pilu.
“Aku tidak bisa mencintaimu Ndah, tidak bisa, percayalah, aku sudah mencobanya”
Indah menangis, sesulit itukah mencintainya?
__ADS_1
“Anum gak ada disini” ucap Indah kemudian.
TBC