
Adnan memandang handphonenya dengan senyuman lebar saat mendapat pesan dari istrinya tentang keadaan si kembar, semangat kerja Adnan berkobar berkali lipat, bukan karena beban, tapi karena bahagia yang membuat pria itu sedikit melupa dengan masalahnya.
Hanya Anum seorang yang bisa membuat Adnan merasa ringan.
Merasa tidak puas hanya membaca bait kalimat Adnan mendial nomor istrinya.
“Assalamualaikum Mas” senyuman Adnan tambah mengembang lembar ketika mendengar suara merdu istrinya.
“Waalaikumsalam sayang, sudah sampai rumah?”
“Sudah, Mas sedang apa?”
“Sedang bahagia”
“Hahaha, Anum tau Mas sedih karena berjauhan dari kami kan? Jangan menghibur diri begitulah” Adnan tersenyum kecut mendengar ejekan istrinya.
“Memang, disini hampa tanpa kamu Num” adu Adnan dengan sedih.
“Makanya pulang dong, saingan sama bang toyib nih sekarang gak pulang-pulang, hahaha”
“Inginnya sih begitu, mau tau rahasia tidak?”
“Apa?”
“Mas kangen kamu” Anum terdiam, sejurus Adnan bisa menebak jika istrinya sedang salah tingkah karena ucapannya.
“Halo?!” desak Adnan saat tak lagi mendengar suara sang istri.
“I-iya Mas, Anum juga kangen” ucap Anum dengan suara parau.
“Kamu menangis?”
“Tidak”
“Jangan bohong Num”
“Ya sudah iya”
“Yang bener dong Num?!”
Anum mendesah, “Iya Anum lagi nangis” hati Adnan serasa teriris mendengar itu.
Hanya deru nafas yang kemudian terdengar.
“Mas tidak usah khawatir, Anum memang gampang menangis akhir-akhir ini, katanya karena hormon kehamilan bahkan kemarin Husna sampai mengomel karena Anum sudah membuatnya panik saat menangis kencang setelah melihat kartun” Adnan tertawa kecil mendengarnya, meski tidak bisa menyembuhkan nyeri di dadanya.
“Mas usahakan akan cepat pulang Num, Mas janji”
“Anum percaya sama Mas”
__ADS_1
Lega, itu yang Adnan rasakan.
“Ya sudah, Anum mau makan dulu ya Mas, dedeknya lapar nih”
“Makan yang banyak ya sayang, tolong sampaikan pada anak-anak kalau Mas sayang mereka juga, sangat-sangat sayang”
“Pasti Mas, ya sudah, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Adnan merebahkan tubuhnya kasar pada kursi kebesarannya, lagi-lagi ia kembali meninggalkan istrinya yang sedang mengandung buah hati mereka.
Netra tajamnya menatap sebal tumpukan berkas yang menghalanginya untuk pulang dengan segera meski ia ingin.
Sabotase pada proyek perusahaannya yang dilaksanakan di beda pulau membuatnya kembali harus meninggalkan keluarga kecilnya, hati Adnan berat meninggalkan istri yang sedang mengandung.
Adnan merasa tidak bisa mempercayai siapapun saat ini, jadi harus dirinya langsung yang meninjau perkembangan proyeknya agar tidak terjadi sabotase lagi, dia sudah memangkas biang masalah.
Harusnya dua hari lagi Adnan bisa pulang karena proyek itu mulai stabil, tentu dengan memakan waktu yang tidak sedikit karena Adnan sudah meninggalkan Anum seminggu lamanya.
Seperti proyek ini enggan ditinggalkan Adnan, tadi siang terjadi kecelakaan kerja yang menyebabkan salah satu pekerjanya meninggal dunia, lalu muncul rumor bahwa itu disebabkan proyeknya yang meminta tumbal karena Adnan memakai guna-guna.
Kepala Adnan rasanya ingin pecah!
Bagaimana ia bisa menyelesaikan ini dengan cepat? Adnan sungguh ingin memeluk Anum yang ia yakini sedang sedih karena menahan rindu.
***
“Anum harus bagaimana Mas?” tangannya mengusap wajah tampan suaminya.
Pagi tadi ia terpaksa harus pergi ke dokter saat mual hebat kembali melanda dan membuat kepalanya berdenyut kencang hingga membuat pandangannya mengabur.
‘Tekanan darah ibu tergolong tinggi, hal itu lumrah terjadi pada kehamilan kembar, tapi merujuk pada rekam medis anda dan gejala yang di timbulkan, saya harus menyampaikan bahwa Ibu mengalami gejala pre-eklampsia’
Lagi-lagi penyakit menyebalkan itu mengantui Anum dan bayinya.
Air mata itu kembali tumpah, harusnya ia tidak usah menikah dengan Adnan agar suami dan anak-anaknya tidak mengalami situasi seperti ini karena kondisinya.
Bibir mungil Anum mengucap kalimat istighfar kala ia menyadari bisikan setan yang sudah merasuki pikirannya, perlahan tapi pasti ia bangkit dan menyeka air matanya.
Dalam dirinya Anum meyakini satu hal, seperti kata dokter bahwa ini masih gejala, dan masih bisa di cegah sebelum berkembang menjadi eklampsia yang lebih berbahaya seperti pada kehamilan sebelumnya.
‘Yang harus ibu lakukan, pola hidup sehat dan manajemen stress yang baik, dua hal itu jika dilakukan pasti akan membawa dampak positif pada kondisi ini’
Ya, Anum hanya perlu melakukan itu.
Matanya tiba-tiba menatap sosok suaminya yang tersenyum kearahnya, selain kesehatannya, ada kesehatan suaminya yang harus Anum jaga.
Untuk sementara Anum tidak bisa mengatakan hal ini pada suaminya, meski hatinya berat karena sudah terlanjur berjanji bahkan sudah mengingkarinya tadi.
__ADS_1
Ini hanya akan menambah tekanan pada Adnan di tengah permasalahan kantor yang sepertinya belum menemui ujungnya.
‘Anum janji akan bilang kalau semuanya sudah baik-baik saja’
***
Bruk
Adnan menunduk membantu mengumpulkan kertas yang berserakan karenanya.
“In-i” ucap Adnan terbata.
“Mas Adnan?! Ya ampun gak nyangka kita bakal ketemu disini ya?” Adnan mencoba sedikti tersenyum menanggapi celotehan wanita dihadapannya.
“Mas Adnan apa kabar?”
“Baik, kalau begitu saya permisi” tanpa mau lagi berbasa-basi Adnan segera bergegas, namun tangannya di cekal membuatnya terhenti.
“Walau hanya sebagai teman, tidak bisakah kamu bersikap baik padaku Mas?” Adnan menepis cekalan itu dan menatap lawan bicaranya kini.
“Lalu untuk apa itu semua Ndah? Saya tidak ingin lagi membuat kamu berharap” Indah tertawa getir.
“Percaya diri sekali kamu Mas, kamu kira aku masih mencintaimu? Tidak!”
“Bagus, kalau begitu tidak masalah jika aku bersikap seperti tadi kan?” tanya Adnan telak, dengan berat hati Indah mengangguk, ada satu lagi retakan di hatinya disebabkan oleh orang yang sama.
Tanpa mau basa-basi Indah hanya bisa menatap punggung tegap itu yang mulai menjauh dan hilang di kerumunan.
Cintanya.
Yang selalu bertepuk sebelah tangan.
Entah efek hormon haid atau bagaimana, kejadian tadi kembali mengundang tangis di wajah Indah.
“Ndah? Kamu kenapa?” tanya Gladys panik saat melihat sahabatnya menangis setelah sesaat ia tinggal ke dalam toilet.
Tak mendapat jawaban Gladys memeluk sahabatnya, “Tenang Ndah, cerita sama aku”
“Mas Adnan” hati Gladys kembali bergemuruh marah saat mendegar nama menyebalkan itu, laki-laki buta yang mati-matian menolak cinta sahabatnya.
Padahal jika Gladys lihat tidak ada kekurangan dalam diri sahabatnya, Indah juga bukan tipe perempuan matre dan sosialita, tapi dengan teganya Adnan menolak Indah.
Masih asik menangis Gladys menuntun Indah untuk duduk dan memberinya sebotol air putih.
“Aku gak tau harus ngomong apalagi sama kamu Ndah”
Indah menatap sahabatnya dengan sesenggukan dan menyeka air matanya kasar.
Sebenarnya ia juga lelah, business trip yang ia rangkap dengan acara healing selama berbulan-bulan untuk move on dari Adnan rasanya sia-sia saat ia kembali bertemu dengan pria itu.
__ADS_1
“Jatuh cinta itu boleh Ndah, bodoh yang jangan!” sewot Gladys.
TBC