Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 48


__ADS_3

"Mas, lepas ih, Anum mau explore kota Malang hari ini” ucap Anum sembari berusaha melepaskan belitan Adnan di pinggang dan kakinya.


Namun karena kalah tenaga dan badan yang lebih kecil dari Adnan, belitan itu tidak terlepas sama sekali.


“Kita baru sampai semalam Num, kamu tidak lelah?” bisik Adnan yang membuat Anum meremang seketika.


Adnan dan suara seraknya saat bangun tidur adalah hal yang sangat bisa menjatuhkan Anum sejatuh-jatuhnya pada pesona suaminya.


“Nggak!” jeritan itu serasa menusuk telinga Adnan hingga membuat pria itu terpaksa membuka matanya.


“Kenapa sih ingin keluar sepagi ini? dingin Num” keluh Adnan sembari melilit Anum lebih erat dari sebelumnya.


“Auw! Aduh!” pekik Anum yang membuat Adnan melepas belitannya dan langsung terduduk demi melihat kondisi sang istri yang kesakitan.


“Apa yang sakit? Maaf Mas seketika lupa kalau kamu lagi hamil, terlalu kencang ya meluknya tadi? Twins tidak apa-apa?” cerocos Adnan yang semakin membuat jiwa jahil Anum meronta-ronta.


“Iya Mas, aduh, perut aku” keluhnya membuat Adnan seketika langsung berdiri panik memakai pakaiannya.


“Kita ke rumah sakiti sekarang” mendengar kalimat tegas itu membuat nyali Anum menciut seketika.


“Eh tidak perlu” Adnan menghentikan gerakannya dan menatap Anum bingung.


“Tidak perlu?”


“Iya, tidak perlu, emm, rasa sakitnya sudah menghilang” ucapan Anum tadi sukses membuat Adnan menatap istrinya penuh selidik.


“Kamu ngerjain Mas ya?” sadar ketahuan Anum menampilkan senyum lima jarinya, Adnan terduduk di tepi ranjang sembari memijat pelipisnya yang terasa nyeri akibat bangun karena terkejut.


“Anum ingin pergi jalan-jalan Mas” ditatapnya wajah Anum yang sudah sangat memelas itu, kalau sudah begini Adnan tidak bisa lanjut marah, dengan lembut tangan itu mengusap rambut Anum, memberikan kecupan singkat disana.


“Mas mandi dulu ya” sadar keinginannya akan dituruti Anum memperlebar jarak mereka, membiarkan Adnan bersiap seperti katanya.


Saat Adnan sudah berada di kamar mandi, Anum sedang sibuk membongkar koper mereka, menyiapkan baju untuk Adnan dan dirinya.


Dua setelan couple yang Anum beli dari online shop sudah berada di atas ranjang.


“Sayang, handuk!” Anum menatap jengah pintu kamar mandi yang masih tertutup itu, Adnan selalu seperti ini, lupa membawa handuk ketika mandi.


Dengan telaten Anum mengambil handuk bersih yang sudah disediakan pihak hotel, kemudian mengetuk pelan pintu kamar mandi.


Pintu terbuka, aroma shampo dan sabun menguar mengisi rongga paru Anum.


Tidak sadar sedang asik menghirup aroma segar cikal bakal aroma tubuh Adnan yang sangat menggoda itu, Anum berdiri di depan pintu kamar mandi yang kini terbuka sedikit lebar dari sebelumnya.


“Mau join sayang?” tawar Adnan menyadarkan Anum seketika.


Dengan cepat Anum melempar handuk itu kemudian membuat jarak dan berlalu meninggalkan Adnan yang kini tertawa geli melihat tingkah aneh istrinya semenjak hamil.

__ADS_1


Adnan kembali melanjutkan acara mandi yang sempat terjeda itu, sementara Anum masih asik menenangkan detak jantungnya yang selalu berdebar tidak normal saat berinteraksi seperti tadi dengan Adnan.


Anum tidak paham kenapa dirinya sangat menyukai semua hal tentang suaminya, juga dirinya yang kini selalu terlihat seperti ingin memakan suaminya.


Apakah ini pengaruh hormon kehamilan?


Pasalnya Anum juga pernah membaca jika kebanyakan ibu hamil akan mengalami begitu menginginkan suaminya, juga cerita-cerita pada ibu hamil yang berkumpul di komunitas ibu hamil sehat yang ia ikuti.


“Sedang apa?” sedikit terkejut Anum menatap sekilas suaminya yang keluar dari kamar mandi dengan kondisi lebih fresh dari sebelumnya.


“Tidak ada” jawab Anum tidak berani menatap suaminya.


Sadar Anum yang sedang salah tingkah, Adnan mendekati istrinya yang duduk gelisah di single sofa di kamar mereka.


Adnan menggoyangkan kepalanya, hingga buliran air itu jatuh membasahi Anum yang kini melindungi wajah dengan kedua tangannya.


“Mas basah tau!” kesal Anum mengundang tawa Adnan begitu saja.


“Kamu sedang malu?” Anum menatap Adnan tak percaya, senyum jahil yang terpatri di wajah Adnan membuat Anum tidak mampu bahkan sekedar untuk berkilah.


“Hei jawab?! Anum Azizah sedang malu?” tanya Adnan lagi, Anum yang melengos semakin membuat Adnan menggebu-gebu menggoda istrinya.


Tidak mendapat jawaban, Adnan berjongkok, mengecup pelan perut buncit Anum mengundang tendangan mereka yang tiba-tiba, sampai-sampai Anum harus sedikit merintih untuk meredam rasa sakitnya.


“Twins, Mama kalian sedang malu” Adu Adnan yang semakin membuat rona merah itu terlihat jelas di wajah ayu istrinya.


Tidak mau merusak suasana Adnan segera beralih ke ranjang mengambil setelan yang sudah disiapkan istrinya, tidak mau menggoda ibu hamil itu lebih jauh.


“Anum mandi dulu Mas” ucapnya masih dengan nada ketus, membuat Adnan harus menggigit bibirnya untuk meredam tawa.


Saat pintu sudah tertutup Anum bersandar di pintu kamar mandi sembari memegang dadanya, wanita itu sedikit menggeram saat tak sengaja dengan tawa kecil Adnan di luar sana, pasti suaminya itu sedang menertawakannya.


“Nak, jangan bikin mama malu dong” pinta Anum pada kedua anaknya yang dihadiahi tendangan kecil dari keduanya.


Tidak mau berlarut-larut, Anum segera memulai kegiatan mandinya.


***


Keduanya masih saling diam, Anum yang terlalu malu dengan tingkah anehnya, juga Adnan yang bingung harus berkata apa untuk memecah keheningan diantara mereka.


Hanya denting sendok yang bertemu dengan piring yang mengiringi keduanya.


“Mas”


“Anum”


Keduanya saling tatap saat bersuara di saat yang sama.

__ADS_1


Tidak ingin kembali canggung, Adnan berdehem pelan, “Kita akan kemana terlebih dahulu?” mata Anum berbinar senang, kepala kecilnya sudah asik merancang beberapa tempat yang ingin ia kunjungi.


Dengan gembira ia mengutarakan semua rencananya pada Adnan yang hanya diam mendengarkan celotehan istrinya.


Hal yang sudah jarang ia lihat dan dengar setelah masalah kecil yang menimpa keluarga mereka.


“Boleh kan Mas?” dengan cepat Adnan mengangguk.


Tangannya menggenggam tangan mungil Anum, senyuman yang tidak luntur selalu ia tampilkan untuk istrinya seorang.


“Mas cinta sekali sama kamu Num”


“Anum tau itu”


“Mas harap..” kalimat itu menggantung saat ponsel Adnan berdering, Rudi.


Adnan me-reject panggilan itu dan kembali menatap Anum, “Mas harap kita..” lagi-lagi dering teleponnya berdering.


Anum yang paham Adnan sedang kesal balik menggenggam tangan suaminya.


“Angkat dulu Mas, sepertinya penting” setelah menggumamkan maaf Adnan segera berlalu dan mengangkat panggilan itu.


Adnan tidak bisa marah karena dirinya sendirilah yang mengatakan akan membantu Rudi kapanpun dia butuhkan.


“Ya Rud?”


“Pak maaf telah menggangu waktu bapak dengan ibu, saya sudah berada di loby hotel anda, kesalahan saya Pak, saya kurang teliti hingga ada satu berkas yang tertinggal” alis Adnan terangkat, namun segera mengatakan akan segera kesana, apalagi saat tau Rudi sudah jauh menyusulnya hingga ke kota Malang.


Setelah berpamitan dengan Anum, Adnan sudah berada di loby hotel dan melihat Rudi yang sudah berdiri menyambutnya.


“Di mana saya harus tanda tangan?” dengan gerakan kaku Rudi membuka lembaran itu, menampakkan tempat tanda tangan Adnan harus dibubuhkan, dengan bulpen yangs udah berpindah tangan.


Begitu ujung bulpen menyentuh permukaan kertas, Rudi kembali bersuara “Apa bapak tidak ingin membaca berkas itu terlebih dahulu?” tanpa menjawab tangan Adnan sudah menari indah di atas kertas itu.


“Tidak perlu, saya mempercayai kamu” ucap Adnan sembari menutup berkas itu, kemudian memberikannya pada Rudi.


“Ada lagi?” Rudi menggeleng.


“Baiklah, saya akan kembali”


“Baik Pak” ucap Rudi dengan sedikit membungkuk mengiringi kepergian Adnan.


TBC


Ada yang bisa tebak ada apa dengan Rudi? 😁


Puas-puasin lihat kebucinan mereka yakk, pemanasan sebelum ke inti yang sesungguhnya 🔥

__ADS_1


Hope you like it guys!


__ADS_2