
“An! An! An!” racau bocah gembul yang bergerak menggemaskan dalam gendongan Husna meronta-ronta ingin Anum gendong begitu ia sampai di kediaman sahabatnya.
Anum berlari kecil sembari merentangkan tangannya membuat si gembul itu tertawa riang.
Wanita berhijab itu bergerak memutar dengan Syakil yang ia angkat tinggi-tinggi, tawa bocah itu membuat hati Anum sejuk seketika.
“Gitu ya kalau ketemu sama onty An, Buna dilupain, awas aja kalau minta nen” ancam Husna membuat bocah itu melirik Bunanya sejenak lalu kembali asik dengan Anum, Husna semakin mencebik melihat tingkah anaknya.
Sementara Anum, wanita itu tertawa saat sahabatnya merajuk karena anaknya lebih asik dengannya.
‘Dasar Husna’
“Masya’Allah Na, ini Syakil tambah berat aja ya”
“Iyalah, orang nyusunya pagi siang sore malam” gerutu Husna dengan nada kesal.
“Kan udah aku bilang, ininih anakku cuman numpang aja di rahim kamu, jadi jangan jelous lagi ya Buna” sadar akan tingkahnya yang kelewat aneh Husna segera memperbaiki moodnya.
“Sudah ijin Mas Adnan kan?”
“Sudah Na”
Syakil masih asik bermain dan bersenda gurau dengan Anum, Husna membiarkan saja anak dan sahabatnya melepas rindu, sejak kejadian itu Anum tidak pernah tertawa lepas, tapi hal itu tidak bertahan lama saat Husna mempertemukan Anum dengan anaknya yang masih berumur delapan bulan.
Dalam hati Husna bersyukur Anum bisa sedikit lepas dari lingkaran kesedihan itu.
“Na! Na! Nenn!” nah kan, anak itu pasti akan lengket dengannya jika berhubungan dengan satu hal itu.
Melupakan rasa kesalnya pada sang anak, Husna menerima Syakil kembali dalam gendongannya dan segera memposisikan anak itu untuk menyusu padanya, Anum tersenyum saat Syakil sudah nyaman dengan sumber nutrisinya.
Ruangan yang ramai dan ricuh beberapa waktu lalu mendadak senyap saat si bayi gembul itu tertidur sembari menyusu.
Anum menatap balita gembul yang tertidur di pangkuan sang ibu dengan berbinar, jika saja anaknya terlahir pastilah dia yang berada dalam pelukan Anum sekarang.
Kepala Anum menggeleng pelan, bisikan setan selalu bisa membuatnya kembali terpuruk, kembali berandai-andai dan berujung tidak ikhlas denganapa yang sudah terjadi.
“Syakil selalu anteng kalau ada kamu” celetuk Husna.
“Jangan bilang jelous lagi ya Na” peringat Anum, Husna tertawa rasa itu memang ada tapi tak sebesar rasa sayang dan pedulinya dengan Anum.
Demi mempertahankan tawa sahabatnya ia rela anaknya sebagai pencipta tawa itu, toh Syakil juga nyaman dengan Anum, jadi tidak masalah.
__ADS_1
Anum meminum segelas air yang sudah Husna siapkan untuknya.
“Sudah ada tanda-tanda belum Num?”
“Ha?”
“Ckk, hamil, sudah ada tanda kehamilan belum?” Anum menggeleng lemah, hatinya kembali merindukan tendangan-tendangan kecil dari bayinya.
Husna menggenggam tangan Anum, memberikan suport dan doa yang bisa Husna berikan untuk sahabatnya.
“Semua sudah ada waktunya Num, mungkin kamu sekarang masih dikasih waktu untuk berpacaran dengan Mas Adnan lebih dulu”
“Iya”
“Lemes amat jawab iya nya” goda Husna menimbulkan tawa kecil di bibir Anum.
“Kamu pasti bisa hamil lagi kok Num, percaya deh sama aku” tambah Husna meyakinkan, Anum menatap sahabatnya dengan sendu.
“Aku takut Na”
“Takut apa?”
“Astaghfirullah” seru Husna tiba-tiba yang membuat Anum menatap wanita itu dengan penuh.
“Kamu sadar kan Num kalau ucapan adalah doa?” Anum mengangguk.
“Kamu juga tau kan kalau Allah itu sesuai prasangka hambanya” lagi-lagi Anum mengangguk sedih.
“Astaghfirullah, aku sudah salah Na” aku-nya, Husna bisa paham mengapa Anum memiliki kekhawatiran itu, tapi pikiran buruk hanya akan menghasilkan sesuatu yang buruk, jadi untuk apa berpikiran hal buruk yang belum tentu terjadi bukan?
“Bentar ya, aku naruh Syakil dulu” Anum mengangguk dan membiarkan Husna membawa pergi sosok mungil menggemaskan itu.
“Num” terlalu banyak melamun membuatnya tak sadar bahwa Husna sudah berada di sampingnya
“Mas Adnan belum pulang ya?”
“Belum”
“Num, aku tau kamu masih trauma sama kejadian yang lalu” Anum hanya menatap sahabatnya tanpa kata, air mata itu kembali menggenang, Anum bisa tidak menangis dihadapan siapapun tapi tidak dengan Husna dan Adnan.
Menangis di depan Adnan hanya akan menambah beban pria itum, maka pilihan lainnya adalah Husna.
__ADS_1
Anum sebenarnya masih belum sepenuhnya menerima apa yang terjadi padanya, tapi berlaru-larut menampilkan kesedihannya hanya akan membuat orang sekitarnya seperti Adnan akan cemas dan turut bersedih, maka dari itu Anum memilih untuk menyimpannya sendiri.
Husna memeluk tubuh ringkih sahabatnya, ia tau ini sulit, tapi entah keyakinan dari mana Husna yakin bahwa akan ada kebahagiaan abadi untuk sahabatnya ini, karena Husna yakin bahwa Allah tidak pernah mengingkari janjinya.
“Semuanya akan baik-baik saja Num” Anum mengangguk sembari menangis dalam pelukan sahabatnya.
***
Bulan telah berganti bulan, seperti tidak pernah terjadi hal buruk menimpa Adnan dan Anum. Tidak ada yang berubah, mereka tetap mesra, tidak ada pertengkaran meski Adnan sedang sibuk-sibuknya merintis perusahaan baru.
Anum memahami suaminya, dia mendukung penuh apa rencana suaminya, hal itu yang membuat Adnan semakin mencintai Anum yang selalu menyambutnya setelah seharian kelelahan berkutat dengan pekerjaannya.
Seperti malam ini, saat mereka telah selesai menunaikan rindu mereka setelah Adnan pulang dari luar kota.
Adnan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya, membawa Anum dalam pelukannya, padahal hanya tiga hari mereka berpisah, tapi rindu yang Adnan punya sudah membumbung tinggi.
“Makasih sayang” dengan nafas terengah Anum hanya mengangguk sembari mengeratkan pelukannya pada Adnan.
Bukan hanya Adnan, Anum pun merasakan hal yang sama, ia juga sangat merindukan suaminya.
“Gimana hari-hari kamu tanpa Mas?” Anum mendongak dan menatap suaminya lekat.
“Hampa” Adnan tak bisa lagi menyembunyikan senyumannya, istrinya ini memang kadang-kadang mampu membuatnya terbang setinggi-tingginya.
“Tapi semuanya baik-baik aja kan sayang?” Anum mengangguk, relung hati Adnan terasa sedikit nyeri saat ia tanpa sadar mengabaikan istrinya lagi.
Alih-alih marah dan ngambek saat Adnan pulang dari perjalanan dinasnya, Anum justru menyambutnya dengan tangan terbuka, seperti Adnan tidak melakukan apa-apa yang melukai hatinya.
Padahal Adnan tau, istrinya sangat kesepian.
Adnan semakin merekatkan pelukan mereka, dalam hati Adnan sangatlah beruntung memiliki istri seperti Anum, ia bersyukur karena Anumlah yang dipasangkan dengannya.
“Maafin Mas ya Num, lagi-lagi Mas ninggalin kamu sendirian” Adnan dapat merasakan Anum menggeleng dalam pelukannya, tangannya tergerak mengusap puncak kepala Anum, sungguh bukan pernikahan seperti ini yang ia janjikan pada wanitanya.
“No need to sorry Mas, Anum paham Mas pergi cari uang buat kita, Anum gak masalah kok, asal Mas pulang dengan selamat Anum udah bahagia” ya, sesederhana itu kebahagiaan Anum.
“Mas beruntung banget punya istri kayak kamu sayang”
“Me too”
TBC
__ADS_1