Eternal De Amor

Eternal De Amor
Chapter 11


__ADS_3

Saat senja berpamitan pada penghuni bumi di sore hari. Sinarnya yang menyilaukan mata memberikan rasa yang hangat membuat Anum betah berlama-lama duduk di teras, menikmati pemandangan yang indah menurutnya.


Meski wajahnya terlihat riang, pikirannya penuh, tentunya tentang lamaran Adnan kemarin.


Itu sangat mengejutkan bagi Anum.


Bagaimana ia akan memutuskan semua ini?


Untuk kesekian kalinya, Anum menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan sisi emosional yang perlahan-lahan membuatnya bersikap egoi.


Lagi-lagi ini soal penyakit yang dideritanya, ia tidak bisa melihat orang lain susah.


Tidak bisa!


Sementara bayangan indah akan selalu diratukan oleh Adnan semakin menjadi dalam dirinya.


Di satu sisi, Anum yakin bahwa ia akan dibahagiakan oleh Adnan, tapi di sisi lain, ia juga takut mengecewakan pria baik itu.


Denyutan-denyutan aneh dalam dadanya kala ia menyebut nama Adnan turut membuat ia semakin bimbang.


Lalu ia harus bagaimana?


“Sampai kapan kamu mau terus seperti ini, Anum?” tanya Husna yang kini duduk di sebelah Anum yang lebih sering melamun semenjak lamaran Adnan beberapa hari lalu. Husna sudah mengetahui semuanya, tentu hasilnya yang mendesak Anum.


“Aku yakin kamu juga memiliki perasaan yang sama dengan Mas Adnan” tambah Husna lagi, kali ini Anum menoleh ke arah Husna.


Bagaimana bisa dia menyimpulkan hal yang Aku sendiri masih ragu?


“Aku berteman denganmu bukan setahun dua tahun ya, Anum, aku paham mana tatapan sukamu, mana tatapan yang hanya kagum” Anum menunduk, semuanya terasa masih abu-abu baginya.


“Apasih yang bikin kamu ragu?” tanya Husna lagi. Anum mengangkat wajahnya, kemudian kembali menerawang ke depan.

__ADS_1


“Mas Adnan terlalu sempurna di mataku” ucap Anum pelan, namun Husna masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Tidak ada yang salah dengan itu, tapi Husna tidak tau bagaimana caranya mengubah pola pikir sahabatnya yang batu ini.


“Mas Adnan itu siapa Nduk?” tanya Ibu panti, Bu Halimah, yang tiba-tiba muncul dan kini ikut bergabung dengan mereka berdua. Memang kini Anum sudah pulang dari rumah sakit dan kembali ke panti asuhan tempat ia selama ini tinggal.


“Ini lho bu, anak gadis ibu yang satu ini ada yang ngelamar” jawab Husna dengan enteng, Bu Halimah tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, sedangkan Anum menatap tajam Husna yang kini malah tertawa.


“Alhamdulillah, selamat ya sayang” tak ada pilihan lain, Anum hanya mengangguk malu.


“Eh, tapi rasanya Ibu kok gak asing ya dengan nama itu” ucap Bu Halimah sembari mengumpulkan memorinya tentang satu nama itu. Anum dan Husna saling tatap, kemudian kembali menatap Ibu mereka dengan penasaran.


“Aish, Ibu lupa nak, maklum sudah tua” Anum dan Husna mendesah kecewa, Bu Halimah hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua anak gadisnya.


“Anum sudah sholat istikharah?” tanya Bu halimah yang hanya di hadiahi gelengan pelan Anum.


“Coba sholat, minta petunjuk, jangan terlalu lama menggantung lamaran seorang pria, itu ndak baik” Bu halimah mengatakan itu sembari mengusap kepala Anum yang tertutup kerudung.


“Anum, minta doanya ya bu” Bu Halimah hanya mengangguk.


“Oh ya Allah, ibu ingat, nak Adnan kan?” celetuk Bu halimah di tengah pembicaraan.


“Jangan bilang ini tukang sayur baru langganan ibu ya” Tuduh Husna dengan mata yang memicing curiga, Bu Halimah hanya bisa tertawa mendengar tuduhan sala satu anaknya ini.


Kemudian Bu Halimah menggeleng, Anum dan Husna semakin penasaran.


“Kalian inget gak waktu kalian pergi ke rumah temen kalian yang sampe nginep kemarin itu” Anum dan Husna mengangguk, waktu Anum di rawat di rumah sakit mereka mengarang cerita akan menginap di rumah teman untuk beberapa hari.


“Nah, ada lelaki yang datang kesini mencari Anum, dia orangnya putih, tinggi, tampan juga” Husna mengangguk-anggukkan kepalanya, sementra Anum hanya diam, menunggu kelanjutan cerita dari Ibunya.


“Dia ada bilang ke ibu kalau dia mau ngelamar Anum bu?” Tanya Husna. Bu Halimah diam sejenak, seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu, namun setelahnya menggeleng.

__ADS_1


“Tapi dia seperti khawatir banget, wajah langsung pucat saat ibu bilang kamu gak ada di sini” jawab Bu halimah yang kini menggenggam tangan Anum yang berada di sebelahnya.


“Tapi kalian beneran ke rumah temen kalian kan?” tanya Bu Halimah memastikan, walau ragu, kedua wanita muda itu hanya mengangguk.


“Ibu sempat mikir kalau kalian lagi mengalami hal sulit, Ibu gak tenang saat kalian jauh dari ibu seperti kemarin” naluri seorang ibu memang tak bisa di bohongi, hati Anum mencelos, ia sudah berdosa sekali karena sudah membohongi ibunya sendiri.


Mereka terdiam. Tak tau harus menanggapi bagaimana tentang perkataan ibunya yang tepat sasaran.


“Boleh ibu kasih saran?”


Anum mengangguk pelan, sedangkan Husna hanya menyimak saja.


“Satu hal yang bisa kamu jadikan acuan untuk menerima lamaran seorang pria, agamanya..”


Bu Halimah menjeda kalimatnya sembari memandang wajah putri-putrinya satu per satu.


“Karena, jika seseorang sudah baik agamanya, role mode yang ia anut bukan pria tertampan sedunia, bukan pula pria yang paling romantis pada pasangannya, tapi ia akan menjadikan Rasulullah kita sebagai sosok yang patut di contoh, meski sudah sewajarnya seperti itu” Bu Halimah kembali tersenyum kemudian memandang Anum dengan lembut.


“Ia akan memuliakanmu selayaknya Rasulullah SAW memuliakan kaum kita, ia akan menyayangimu selayaknya Rasulullah SAW menyayangi istri beliau” Anum membenarkan itu. Dalam hati Anum juga menginginkan hal yang sama, ia tidak menginginkan suami yang kaya dan tampan tapi buta akan agama.


“Aku sering loh ketemu dokter Farhat dengan para sahabatnya di rumah sakit, mereka bertiga meski tampangnya seperti playboy tapi tidak pernah meninggalkan sholat wajib dan dhuha” tambah Husna, Anum memandang Husna dengan ekspresi terkejutnya.


“Jadi kamu sudah kenal dengan Mas Adnan sebelum aku mengenalnya?” Husna menggeleng.


“Aku hanya sekilas melihat mereka bertiga, lagipula semua staf rumah sakit yang ku kenal tidak menyebut nama-nama mereka, dan kau tau sendiri, aku tidak suka ikut campur urusan orang lain” Anum mengangguk paham, memang seperti itulah Husna yang ia kenal.


Anum hanya bisa berdo’a, jika Adnan memang jodoh yang sudah di tetapkan untuknya mereka akan bersatu apapun halangannya, tapi jika Adnan bukan yang terbaik untuknya, siapapun yang menyatukan mereka akan terpisah jua. Anum sudah berpasrah kepada Sang pencipta, terserah Allah akan mentakdirkan apa untuk hidupnya, ia hanya tinggal mengikuti alurnya saja.


Sama seperti yang Adnan yang katakan sebelum mereka berpisah.


“Meski kamu merasa kecil dihadapanku, meski kamu merasa kamu tidak cocok untukku, kalau kamu memang jodohku, kita terpisah jauhpun pasti akan kembali bertemu”

__ADS_1


Jantung Anum kembali berdegub mengingat kalimat Adnan itu.


TBC


__ADS_2